Terima Kasih Telah Memilih Ku

CAM19153
Photo @wongakbarphoto

Terima kasih,

Terima kasih telah memilih ku

Terima kasih telah memilih ku menjadi teman hidup mu

Perasaan haru campur bahagia kini sangat terasa

Terima kasih,

Terima kasih telah bersedia

Terima kasih telah bersedia menghabiskan waktu dengan ku

Tak terasa 2 tahun saling kenal, janji itu terucap dari mulut mu

Terima kasih,

Terima kasih akan sebuah pengorbanan

Terima kasih akan sebuah pengorbanan baik jarak dan waktu

Saling menguatkan tidak akan pernah berhenti

Tak akan pernah berhenti, tidak akan pernah berhenti untuk saling bercengkerama

Tak akan pernah berhenti, tidak akan pernah berhenti untuk saling mendoakan

Terima kasih,

Terima kasih telah memilih ku

Terima kasih telah memilih ku menjadi istri mu

Menjadi ibu dari anak-anak mu, kelak

Love,

Shintria M

 

Advertisements

Dia, Pria Dari Kejauhan

AIK_7311
Photo @wongkabraphoto

Akhirnya bisa memulai untuk berbagi kisah ini.

Alhamdulillah, tidak ada kata yang pantas selain mengucap syukur. Atas segala anugerah, nikmat, dan rizki yang Allah SWT titipkan kepada saya. Tidak menyangka, jelas tidak pernah ada sama sekali akan jadi seperti ini. Memang, untuk sebuah perubahan atas dasar niat yang baik hasilnya pun juga akan baik. Ya, Allah SWT itu memang sangat adil.

Dimulai pada tahun 2014, tepatnya 3 bulan sebelum akhir tahun. Secara tiba-tiba, terlintas di benak sahabat untuk memperkenalkan saya pada seorang pria. Saat itu jarak kami terlampau jauh, dia di Jepang dan saya di Indonesia. Saat itu, sahabat saya memperkenalkan melalui aplikasi chat. Tanpa menunggu lama, pria yang kini telah menjadi suami saya menyapa, memperkenalkan diri. Awalnya saya merasa tidak percaya diri, karena apa lah artinya saya yang hanya seorang mahasiswa dari universitas swasta di daerah Jakarta Selatan. Jika bicara tentang pintar atau tidaknya, tentu masih di bawah rata-rata. Saya berpikir, bahwa pria ini punya otak yang pintar dan karir yang cemerlang, tidak seimbang dengan latar belakang saya. Namun, semua berjalan begitu saja. Jika ditanya apakah ini sebuah kebetulan, tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Diantara rasa tidak percaya diri, saya menyimpan semua sendiri. Sejak saat itu saya percaya, bahwa doa dan ridho orang tua adalah kekuatan paling berharga. Saya tidak mengenalkan ia pada orang tua, saya tidak bercerita. Namun, ia sendiri yang memperkenalkan diri, mohon izin untuk berkenalan dengan saya walaupun melalui telfon. Sungguh membuat hati meleleh ya, bisa saja memang cara pria ini mengambil hati orang tua saya.

Hubungan kami tidak serta merta berjalan dengan lancar, tentu ada pasang surutnya (air laut kali ya). Paling saya ingat, ia pernah membuat saya terbang tinggi melayang, lalu menjatuhkan saya kembali (sakit loh jatuh tuh..). Padahal, cuma pengen bilang suka aja, pakai segala nyakitin hati orang ( penulis masih kesel, kesel kesel gemes gimana gitu). Tapi, balik lagi coba untuk saling jujur sama diri sendiri. Saya sebagai wanita menghindari gengsi, salah seorang sahabat saya yang juga pria pernah berkata “udah deh buang gengsi jauh-jauh”. Berkat kalimat tersebut, super sekali saya merasa memiliki hak untuk mengatakan bahwa saya mempunyai rasa yang sama. Akhirnya, hubungan kami kembali baik bahkan lebih indah.

Syukurlah kami hidup di era komunikasi yang sangat canggih. Mungkin akan semakin menantang jika masih lewat surat menyurat. Padahal belum bertemu, tapi kok ada rasa yang tak biasa, lemas, senyum-senyum sendiri. Nunggu kabar dia sampai selesai jam kuliahnya, telfon setiap malam minggu, perbedaan waktu dua jam yang terasa sama. Selain itu, namanya kasmaran buat pagi terasa jauh lebih indah dari biasanya. Saya benar-benar engga pakai dandan dulu kalau mau video call, ya biarin sih agar dia lihat saya yang sebenarnya. Masa-masa yang indah walaupun jarak yang sangat jauh.

Ingat sekali saat itu, dia mengirimkan banyak kejutan. Salah satunya berupa bunga sehabis saya menyelesaikan sidang skripsi. Bahkan dia sering secara diam-diam mengirimkan sebuah semangat meski hanya berupa kata-kata. Semua yang dilakukan, membuat kami lupa akan jarak yang jauh.

Saya yang menyukai segala hal tentang Jepang, topik itu lah yang menjadi awal pembicaraan kami. Tidak, kesukaan saya pada Jepang bukan serta merta untuk alasan mendekati dirinya. Seperti yang sudah dijelaskan di awal, bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Hingga akhirnya, Allah SWT memberikan saya rizki untuk bisa mengunjungi negeri sakura. Sungguh dua hal yang tidak pernah terbayangkan saat itu, semua serba mengejutkan. Itu pula yang menjadi awal pertemuan saya dengan dia. Ya, awal pertemuan kami bersama dengan Ibu saya. Meskipun terbilang merupakan awal sebuah pertemuan, tidak ada rasa canggung antara kami berdua. Semua sepeti biasa saja, seperti sudah berkenalan lama sebelumnya.

Memang sejak awal kami kenal, saya punya komitmen untuk menyatakan bahwa keinginan untuk menikah. Hal tersebut saya pikirkan karena orang tua, saya ingin melihat orang tua saya ada mendampingi di pelaminan. Dengan begitu, ia pun berani ikut bersama untuk menjalankan komitmen ini. Ya, kami memang berkomitmen menjalankan hubungan untuk pernikahan dan membangun keluarga kecil yang bahagia.

Kami menjalani Long Distance Relationship sejak awal berkenalan, 8 bulan sejak bulan Oktober higga Mei, Mei hingga Agustus 2015, Agustus hingga Maret 2016. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga ditugaskan di kota lain meski sudah di Indonesia. Tentu, dari kisah kami menjalani hubungan jarak jauh ada rasa manis, asam, hingga pahit. Beberapa orang beranggapan baik, tapi tidak jarang memberikan sugesti negatif kepada saya. Mudah saja, setiap ada berita negatif yang mengganggu langsung saya utarakan.

Mungkin ini yang namanya bisa karena terbiasa

Tidak perlu lama untuk memutuskan menikah, 2 tahun saling kenal dia yang telah berani mohon izin kepada Ayah saya untuk menikah dengan anak putrinya. Ternyata, selama ini pria yang berada di kejauhan sana telah rela menghabiskan waktu untuk menunggu saya. Telah rela, membuat lelah sebagian pikirannya untuk saya, berjuang bersama untuk tetap bertahan, dan saling mendoakan. Sungguh terharu jika kembali mengingatnya.

AIK_7626.JPG
Photo @wongakbarphoto

Baru setelah menikah, kami sadar bahwa jarak dan waktu yang telah dilalui cukup lama serta jauh. Baru kami menyadari, bahwa kami sekuat itu. Tidak sedikit orang bertanya, kok bisa? Ya bisa, ya gimana ya.. yakin saja.

Kami mempunyai banyak perbedaan, tapi yakin lah perbedaan itu yang ternyata menyatukan.

Masih tidak menyangka, kalau sekarang ia telah menjadi suami saya. Mengucap ijab Kabul pada wali nikah, dihadapan saksi dan lainnya. Benar deh ternyata laki-laki yang gagah itu berani menikahi seorang wanita pilihannya. Tapi, nggak hanya menikahkan setelah itu lepas tanggung jawab lho ya.

Di sini, saya mau mengucapkan terima kasih. Kepada Allah SWT, Ayah, Ibu, Keluarga dan para sahabat yang telah mendoakan dan mendukung kami hingga seperti ini. Khususnya, para sahabat yang tahu bagaimana kisah saya. Bagaimana pun yang telah lalu, biarlah berlalu. Saya, anda, kita pernah berada pada saat paling buruk dalam hidup. Hidup akan tetap dan terus berjalan, sebagai manusia hanya bisa bersyukur dan berubah menjadi lebih baik.

Kami mempunyai banyak perbedaan, tapi yakin lah perbedaan itu yang ternyata menyatukan.

Pesan saya, temukan pasangan yang disukai oleh orang tua. Karena ridho orang tua adalah ridho Allah SWT. Insyaa Allah semua hubungan dan segalanya akan berjalan dengan lancar. Selain itu, pasangan itu cermin dari diri kita. Jadi, perbaiki diri sendiri terlebih dahulu jika ingin mendapatkan pasangan yang sesuai dengan keinginan.

**

Terimakasih telah memilih saya sebagai teman hidup,

Terimakasih, telah memilih saya untuk menjalani hidup dengan sangat sederhana. Untuk kembali memulai semua dari awal, untuk belajar pelan-pelan hingga nantinya menjadi kedua orang tua yang utuh. Untuk sama-sama saling mengingatkan arti sebuah kesetiaan, makna dari sakinah, mawadah, warahmah.

 

Berbagi dan Mengasihi

Berbagai dan mengasihi, merupakan dua hal yang membuat saya bersyukur lahir di keluarga ini. Sejak kecil, Ayah dan Ibu saya mengajarkan untuk saling berbagi. Bukan tentang seberapa besar jumlah yang diberikan, namun ikhlas dan berkah yang diharapkan. Saling berbagi, membawa saya pada kedamaian. Dimana terciptanya sebuah kalimat “rezeki tidak akan kemana”. 

Saling berbagi, membawa saya pada kedamaian. Dimana terciptanya sebuah kalimat “rezeki tidak akan kemana”. 

Dalam tiap keyakinan, mengajarkan kita untuk saling berbagi. Tidak perlu dengan bentuk materi, setidaknya tenaga, ide, pikiran, bahkan waktu dapat dibagi. Kadang kala orang terdekat membutuhkan waktu yang kita punya dibanding dengan sebuah materi. Namun, bukan berarti tidak berbagi sedikit rezeki (materi) dengan sesama ya.

Tidak jarang masih banyak orang yang merasa berat untuk berbagi disaat sedang “merasa” susah. Kini saya coba untuk terapkan, bahwa pertama, apa yang kita bagi sesuai dengan ikhlas dan niat baik dari hati. Kedua, rezeki itu semua milik Tuhan jadi akan kembali kepada-Nya juga. Katiga, sesusah apa pun yang saya rasakan coba lah untuk berfikir bahwa masih banyak yang lebih butuh daripada saya.

Tidak akan habis rezeki seseorang jika disalurkan dengan bersedekah. Selain itu, mungkin yang membuat berat untuk berbagi dan mengasihi yaitu faktor kecurigaan. ‘Ah, jangan dikasih nanti uangnya buat yang macem-macem lho’, ‘Ngapain dikasih kan dia kerja, itu kan udah pekerjaan dia’, eits, tidak penting untuk apa uang itu nanti dipakai oleh orang tersebut, InshaAllah jika niat kita baik semua akan berjalan dengan sendirinya. Tuhan itu Maha Mengetahui lho. Jika, hari itu orang yang menurut kita jahat mendapatkan rezeki, kembali lagi bahwa rezeki memang sudah diatur oleh Tuhan. Biarkan lah Tuhan yang mengatur dan menjalankan segalanya. Kita sebagai manusia hanya perlu terus berbuat kebaikan, dari yang paling mudah itu untuk berbagi dan mengasihi.

Jika tidak dengan materi, maka berikan lah dengan waktu dan tenaga, hingga menjadi sebuah doa yang baik untuk berbagi. Saya selalu percaya bahwa semua tergantung dengan niat baik. Semua tidak akan pernah terputus, Tuhan selalu memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Hanya saja manusia untuk lebih peka dan bersyukur.

Jika tidak dengan materi, maka berikan lah dengan waktu dan tenaga, hingga menjadi sebuah doa yang baik untuk berbagi.

Saya pun masih terus belajar untuk memperbaiki diri. Tulisan ini hanya cara saya untuk terus mengingatkan orang-orang sekitar. Semoga bermanfaat dengan apa yang saya tulis ini ya..

Sincerely,

Shintria M

Rezeki Itu Sehat dan Keluarga

Belakangan ini saya sedang mendalami tentang arti penting dari saling berbagi. Bahkan lebih penting saat sedang diuji, kita sebagai manusia harus tetap berbagi. Apa yang dimaksud dengan diuji? Yap, anggap lah ini ujian dari berbagai nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Ya apapun itu, kita sudah seharusnya memaknai segala hal untuk kebaikan diri sendiri. Tuhan yang Maha Mengetahui baik dan buruknya, bahwa Tuhan tidak pernah membuat manusia itu susah. Hanya saja manusia selalu merasa kurang, terpuruk dalam kesedihan, hingga selalu merasa kurang. Terlebih lagi dalam segi rezeki yang berupa harta.

Saya pun selalu mengingatkan diri sendiri, bahwa Tuhan sudah memberikan rezeki kepada masing-masing individu sesuai dengan kebutuhan mereka. Lalu, apa yang membuat selalu merasa kurang? Tentu, gaya hidup yang melampaui batas. Berkerja banting tulang, dari matahari belum terbit hingga terbenam untuk menyambung hidup. Rela, tentu rela sekali hingga mungkin saja Ayah, Ibu,  Istri, Anak, Saudara lainnya merasakan rindu yang mendalam.

Andai saja gaya hidup dapat disesuaikan dengan pendapatan, maka rezeki yang berupa kesehatan dan waktu lapang saja sudah lebih dari cukup. Lebih mirisnya, kini tidak jarang banyak orang (atau mungkin termasuk saya) suka lalai akan arti sebenernya dari sebuh rezeki. Rezeki yang paling berharga yaitu kesehatan dan waktu yang bisa dipakai untuk berkumpul dengan keluarga. Ayah dan Ibu mungkin selalu merasa bahagia meski ditinggal anak-anaknya untuk berkerja. Tapi, dari hati paling dalam bahwa kebahagiaan sesungguhnya itu bisa berkumpul dengan anak-anak, seperti dahulu kala saat masih kecil.

Saya, di sini tidak pernah berhenti untuk mengingatkan bahwa keluarga adalah mereka yang mampu menerima kekurangan Anda, Saya, Kita. Walaupun suatu saat datang dalam keadaan susah, percaya lah Ayah dan Ibu membuka tangan mereka dengan lapang dan penuh senyum. Hal ini sangat saya rasakan setelah saya melalui berbagai hal untuk mencari siapa diri saya sebenarnya. Lebih tepatnya saat itu saya merupakan manusia yang paling tidak bersyukur. Namun, itu semua menyadarkan saya bahwa rezeki saya itu yaitu dapat melihat Ayah dan Ibu masih sehat hingga nanti, aamiin. Bahkan sekarang, saya tidak bisa sedikit pun membuang waktu saya jika tidak dengan keluarga. Saya coba untuk terus membayar waktu-waktu yang telah saya buang percuma untuk tidak berkumpul dengan keluarga.

Walaupun suatu saat datang dalam keadaan susah, percaya lah Ayah dan Ibu membuka tangan mereka dengan lapang dan penuh senyum

Hal ini pun semakin terasa ketika Ayah dan Ibu semakin menua. Hingga mereka kini InshaAllah siap untuk mempersiapkan segala yang terbaik untuk saya. Semakin hari saya merasakan haru. Seperti kemarin saat saya ingin berangkat ke Surabaya untuk menajalankan sesuatu yang sangat penting. Padahal jarak antara Jakarta dan Surabaya tidak terlalu jauh, namun saya begitu haru meninggalkan Ibu di rumah. Saya membayangkan ketika nanti berkeluarga, saya akan ditinggal oleh anak saya pergi, sepi, sendiri, tidak ada teman berbagi.

Baru seminggu saya di Surabaya, saya coba hubungi Ibu saya. Beliau begitu banyak bercerita tentang kesehariannya. Tentu ini sangat berbeda jika saya berada dekat di sana dengan Ibu. Memang benar apa kata orang, ketika jauh kita akan merasakan begitu kehilangan, namun saat dekat justru diisi dengan keegoisan diri. Dengan jauh seperti ini. rasa nya tidak ada tempat yang lebih nyaman selain keluarga, Ayah dan Ibu.

Sejauh ini saya masih terus mencoba dan tidak akan pernah berhenti untuk tetap memanfaatkan waktu dengan keluarga. Karena, banyak yang sudah menikah ingin sekali memeluk erat Ayah dan Ibu seperti dulu saat masih bersama. Saya memang belum bisa membahagiakan orang tua. Setidaknya, waktu yang saya punya kini untuk Ayah dan Ibu.

Ingat satu hal, bahwa ridha orang tua lah yang membuat saya ada di tahap ini

Saya yakin, tidak ada yang lebih bahagia bagi Ayah dan Ibu selain melihat anak-anaknya akur, saling berkumpul, dan tersenyum bersama. Bukan harta, bukan lah materi, melainkan doa agar Ayah dan Ibu selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Uang itu tidak bisa mengembalikan waktu lho. Sukses itu tidak bisa membeli usia yang sudah diatur oleh Tuhan. Sebelum terlambat, sebaiknya gunakan waktu cuti dan libur Anda untuk bertemu dengan Ayah dan Ibu meski hanya sebentar. Ajak mereka makan bersama walau hanya dengan sayur bening dan telor dadar, bukan makanan nya, namun waktu kebersamaan nya.

Ingat satu hal, bahwa ridha orang tua lah yang membuat saya ada di tahap ini. Alhamdulillah,  terimakasih Tuhan, terimakasih Ayah dan Ibu. 

Sincerely, 

Shintria M

 

 

Introvert dan (Anak Bungsu) Manja?

Hello, sudah memasuki tahun 2017 pasti banyak harapan-harapan yang lebih baik untuk dipanjatkan, ya!  Tentunya setiap pergantian tahun, doa yang paling utama adalah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Namun, menjadi lebih baik atau tidaknya tergantung dari setiap pribadi yang menjalankan. Menurut saya, pribadi itu sendiri yang merasakan dan tahu betul perjalanan hidup mereka. Well, bukan itu yang menjadi poin utama dalma tulisan saya kali ini.

Yup, sesuai dengan judul di atas yaitu ‘Introvert dan Manja?’. Kenapa saya bisa merasa bahwa sepertinya saya ini tergolong dalam orang yang introvert. Awal mula terjadi saat saya duduk di bangku kuliah. Saat itu mata kuliah psikologi komunikasi membahas mengenai 3 jenis kepribadian umum pada manusia. Ya, 3 jenis kepribadian umum pada manusia meliputi Introvert, Extrovert dan Ambivert. Cerita singkatnya, saat itu dosen saya menjelaskan mengenai ciri-ciri manusia dengan pribadi introvert. Setiap kali dosen saya menjelaskan ciri-cirinya, saya mengangguk dan merasa seperti berkaca (oh yea, that’s me!). Setelah itu saya merasa bahwa saya memiliki kepribadian introvert, walau pun belum teruji secara resmi oleh ahlinya ya hehe. But, i’m sure i am an introvert person.

introvert-2
Source Introvertdear.com

Selanjutnya, saya merupakan anak  bungsu dari tiga bersaudara. Seperti biasa, anak bungsu selalu dikatakan sebagai anak yang manja. Mungkin memang sudah banyak terbukti atau sudah menjadi pandangan dari setiap orang mengenai pribadi si anak bungsu. Saya pribadi kadang suka kesal dikatakan sebagai anak bungsu dengan pribadi yang ‘manja’. Karena, saya sendiri tidak merasa manja pasalnya dari kecil hingga kini saya bukan seperti anak raja yang diantar kemana-mana dengan supir dan pengawal, setiap masalah selalu mengadu pada orang tua, atau selalu mengadahkan tangan dan menangis jika tidka dituruti kemauannya.

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa saya merupakan anak bungsu dengan pribadi introvert. Perlu saya luruskan di sini, bahwa anak bungsu merupakan anak terakhir dengan catatan tidak semua bungsu itu manja. Saya yakin, setiap anak memiliki karakter pribadi yang manja, karena ingin sekali diperhatikan oleh orang tua secara lebih. Mungkin karena anak bungsu merupakan anak terakhir, terlebih jika kedua anak sudah menikah, alhasil siapa yang akan diperhatikan lagi oleh orang tua? Tentu, karena tinggal anak bungsu yang belum menikah maka orang tua memberikan perhatian yang penuh pada anak bungsu ketika kedua kaka nya sudah menikah. Itu lah sebabnya, banyak orang yang melihat bahwa anak bungsu sangat lah dimanja.

Saya tidak membela diri sendiri, saya pun terima saja dikatakan sebagai anak bungsu yang manja dan pemalu padahal saya memiliki pribadi introvert. Trust me if you know about introvert, you’ll know about my character. Saya bukan sosok yang pemalu, namun introvert memiliki caranya sendiri untuk menjadi pribadinya di depan orang banyak. Jika dihadapkan dengan situasi yang baru, maka saya akan diam. Tapi apa kah Anda tahu, bahwa diam saya merupakan cara saya untuk mengobservasi lingkungan sekitar. Ya, mungkin terdengar sedikit konyol. Tapi, itu semua memang yang saya rasakan. Saya pun ingin sekali menjadi sosok yang ambivert sehingga mudah disukai oleh banyak orang. Namun, saya tidak mampu. Hal tersebut tidak membuat saya menjadi diri sendiri. Saya tidak suka dengan basa basi, lebih tepatnya tidak bisa sama sekali. Tidak jarang, banyak orang yang pertama kali melihat saya merasa jengkel. Sudah menjadi sesuatu yang biasa jika orang tersebut (setelah kenal cukup lama) akan mengatakan “dulu pertama kali liat lo, gue kesel banget. Jutek dan sombong” pada kenyataanya saya tidak begitu lho.

introvertdoodles
Source Introvertdoodles.com

Jika saat ini saya telrihat seperti manja atau dimanja, itu salah. Orang tua saya  adil dalam memberikan perhatian kepada ketiga anaknya, termasuk saya. Dari TK saya sudah diajarkan untuk naik angkutan umum, SD saya sudah diajarkan untuk naik bus kota jaraknya yaitu dari Mayestik, Jakarta Selatan hingga Bintaro Jaya. Saat itu saya harus menaiki bus kota lalu dilanjutkan dengan naik angkutan umum untuk sampai di rumah. Hal tersebut terus berlanjut hingga SMP, SMA, dan Kuliah. Walau saat itu juga dibarengi dengan naik ojek, namun saya tetap merasakan nikmatnya panas dan hujan. Setiap kali berangkat untuk sekolah, saya sudah menyiapkan sandal jepit dan jas hujan. Namun, itu semua menyenangkan dan menjadi pengalaman pribadi untuk saya. Bahkan saya memiliki rencana, nanti jika saya telah berkeluarga saya harus tinggal jauh dari orang tua. Dengan begitu saya dapat membuktikan bahwa tidak semua anak bungsu itu manja.

Well, kadang banyak hal kecil yang tidak dilihat oleh orang-orang sehingga mereka mudah untuk menyimpulkan. Tapi, saya tidak masalah jika dikatakan manja, toh yang tahu dan merasakannya hanya saya dan keluarga.

Saya merasa bersyukur dengan memiliki pribadi introvert sebagai anak bungsu yang kata orang manja. Setidaknya, pasti ada kelebihan yang saya memiliki walaupun  orang lain tidak melihatnya. Yap, karena orang yang tidak menyukai saya tidak akan perduli seberapa banyak kelebihan yang saya miliki.

That’s a piece of story about myself. So, you can get to know me for better

Love,

SM