Berbagi dan Mengasihi

Berbagai dan mengasihi, merupakan dua hal yang membuat saya bersyukur lahir di keluarga ini. Sejak kecil, Ayah dan Ibu saya mengajarkan untuk saling berbagi. Bukan tentang seberapa besar jumlah yang diberikan, namun ikhlas dan berkah yang diharapkan. Saling berbagi, membawa saya pada kedamaian. Dimana terciptanya sebuah kalimat “rezeki tidak akan kemana”. 

Saling berbagi, membawa saya pada kedamaian. Dimana terciptanya sebuah kalimat “rezeki tidak akan kemana”. 

Dalam tiap keyakinan, mengajarkan kita untuk saling berbagi. Tidak perlu dengan bentuk materi, setidaknya tenaga, ide, pikiran, bahkan waktu dapat dibagi. Kadang kala orang terdekat membutuhkan waktu yang kita punya dibanding dengan sebuah materi. Namun, bukan berarti tidak berbagi sedikit rezeki (materi) dengan sesama ya.

Tidak jarang masih banyak orang yang merasa berat untuk berbagi disaat sedang “merasa” susah. Kini saya coba untuk terapkan, bahwa pertama, apa yang kita bagi sesuai dengan ikhlas dan niat baik dari hati. Kedua, rezeki itu semua milik Tuhan jadi akan kembali kepada-Nya juga. Katiga, sesusah apa pun yang saya rasakan coba lah untuk berfikir bahwa masih banyak yang lebih butuh daripada saya.

Tidak akan habis rezeki seseorang jika disalurkan dengan bersedekah. Selain itu, mungkin yang membuat berat untuk berbagi dan mengasihi yaitu faktor kecurigaan. ‘Ah, jangan dikasih nanti uangnya buat yang macem-macem lho’, ‘Ngapain dikasih kan dia kerja, itu kan udah pekerjaan dia’, eits, tidak penting untuk apa uang itu nanti dipakai oleh orang tersebut, InshaAllah jika niat kita baik semua akan berjalan dengan sendirinya. Tuhan itu Maha Mengetahui lho. Jika, hari itu orang yang menurut kita jahat mendapatkan rezeki, kembali lagi bahwa rezeki memang sudah diatur oleh Tuhan. Biarkan lah Tuhan yang mengatur dan menjalankan segalanya. Kita sebagai manusia hanya perlu terus berbuat kebaikan, dari yang paling mudah itu untuk berbagi dan mengasihi.

Jika tidak dengan materi, maka berikan lah dengan waktu dan tenaga, hingga menjadi sebuah doa yang baik untuk berbagi. Saya selalu percaya bahwa semua tergantung dengan niat baik. Semua tidak akan pernah terputus, Tuhan selalu memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Hanya saja manusia untuk lebih peka dan bersyukur.

Jika tidak dengan materi, maka berikan lah dengan waktu dan tenaga, hingga menjadi sebuah doa yang baik untuk berbagi.

Saya pun masih terus belajar untuk memperbaiki diri. Tulisan ini hanya cara saya untuk terus mengingatkan orang-orang sekitar. Semoga bermanfaat dengan apa yang saya tulis ini ya..

Sincerely,

Shintria M

Rezeki Itu Sehat dan Keluarga

Belakangan ini saya sedang mendalami tentang arti penting dari saling berbagi. Bahkan lebih penting saat sedang diuji, kita sebagai manusia harus tetap berbagi. Apa yang dimaksud dengan diuji? Yap, anggap lah ini ujian dari berbagai nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Ya apapun itu, kita sudah seharusnya memaknai segala hal untuk kebaikan diri sendiri. Tuhan yang Maha Mengetahui baik dan buruknya, bahwa Tuhan tidak pernah membuat manusia itu susah. Hanya saja manusia selalu merasa kurang, terpuruk dalam kesedihan, hingga selalu merasa kurang. Terlebih lagi dalam segi rezeki yang berupa harta.

Saya pun selalu mengingatkan diri sendiri, bahwa Tuhan sudah memberikan rezeki kepada masing-masing individu sesuai dengan kebutuhan mereka. Lalu, apa yang membuat selalu merasa kurang? Tentu, gaya hidup yang melampaui batas. Berkerja banting tulang, dari matahari belum terbit hingga terbenam untuk menyambung hidup. Rela, tentu rela sekali hingga mungkin saja Ayah, Ibu,  Istri, Anak, Saudara lainnya merasakan rindu yang mendalam.

Andai saja gaya hidup dapat disesuaikan dengan pendapatan, maka rezeki yang berupa kesehatan dan waktu lapang saja sudah lebih dari cukup. Lebih mirisnya, kini tidak jarang banyak orang (atau mungkin termasuk saya) suka lalai akan arti sebenernya dari sebuh rezeki. Rezeki yang paling berharga yaitu kesehatan dan waktu yang bisa dipakai untuk berkumpul dengan keluarga. Ayah dan Ibu mungkin selalu merasa bahagia meski ditinggal anak-anaknya untuk berkerja. Tapi, dari hati paling dalam bahwa kebahagiaan sesungguhnya itu bisa berkumpul dengan anak-anak, seperti dahulu kala saat masih kecil.

Saya, di sini tidak pernah berhenti untuk mengingatkan bahwa keluarga adalah mereka yang mampu menerima kekurangan Anda, Saya, Kita. Walaupun suatu saat datang dalam keadaan susah, percaya lah Ayah dan Ibu membuka tangan mereka dengan lapang dan penuh senyum. Hal ini sangat saya rasakan setelah saya melalui berbagai hal untuk mencari siapa diri saya sebenarnya. Lebih tepatnya saat itu saya merupakan manusia yang paling tidak bersyukur. Namun, itu semua menyadarkan saya bahwa rezeki saya itu yaitu dapat melihat Ayah dan Ibu masih sehat hingga nanti, aamiin. Bahkan sekarang, saya tidak bisa sedikit pun membuang waktu saya jika tidak dengan keluarga. Saya coba untuk terus membayar waktu-waktu yang telah saya buang percuma untuk tidak berkumpul dengan keluarga.

Walaupun suatu saat datang dalam keadaan susah, percaya lah Ayah dan Ibu membuka tangan mereka dengan lapang dan penuh senyum

Hal ini pun semakin terasa ketika Ayah dan Ibu semakin menua. Hingga mereka kini InshaAllah siap untuk mempersiapkan segala yang terbaik untuk saya. Semakin hari saya merasakan haru. Seperti kemarin saat saya ingin berangkat ke Surabaya untuk menajalankan sesuatu yang sangat penting. Padahal jarak antara Jakarta dan Surabaya tidak terlalu jauh, namun saya begitu haru meninggalkan Ibu di rumah. Saya membayangkan ketika nanti berkeluarga, saya akan ditinggal oleh anak saya pergi, sepi, sendiri, tidak ada teman berbagi.

Baru seminggu saya di Surabaya, saya coba hubungi Ibu saya. Beliau begitu banyak bercerita tentang kesehariannya. Tentu ini sangat berbeda jika saya berada dekat di sana dengan Ibu. Memang benar apa kata orang, ketika jauh kita akan merasakan begitu kehilangan, namun saat dekat justru diisi dengan keegoisan diri. Dengan jauh seperti ini. rasa nya tidak ada tempat yang lebih nyaman selain keluarga, Ayah dan Ibu.

Sejauh ini saya masih terus mencoba dan tidak akan pernah berhenti untuk tetap memanfaatkan waktu dengan keluarga. Karena, banyak yang sudah menikah ingin sekali memeluk erat Ayah dan Ibu seperti dulu saat masih bersama. Saya memang belum bisa membahagiakan orang tua. Setidaknya, waktu yang saya punya kini untuk Ayah dan Ibu.

Ingat satu hal, bahwa ridha orang tua lah yang membuat saya ada di tahap ini

Saya yakin, tidak ada yang lebih bahagia bagi Ayah dan Ibu selain melihat anak-anaknya akur, saling berkumpul, dan tersenyum bersama. Bukan harta, bukan lah materi, melainkan doa agar Ayah dan Ibu selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Uang itu tidak bisa mengembalikan waktu lho. Sukses itu tidak bisa membeli usia yang sudah diatur oleh Tuhan. Sebelum terlambat, sebaiknya gunakan waktu cuti dan libur Anda untuk bertemu dengan Ayah dan Ibu meski hanya sebentar. Ajak mereka makan bersama walau hanya dengan sayur bening dan telor dadar, bukan makanan nya, namun waktu kebersamaan nya.

Ingat satu hal, bahwa ridha orang tua lah yang membuat saya ada di tahap ini. Alhamdulillah,  terimakasih Tuhan, terimakasih Ayah dan Ibu. 

Sincerely, 

Shintria M

 

 

Introvert dan (Anak Bungsu) Manja?

Hello, sudah memasuki tahun 2017 pasti banyak harapan-harapan yang lebih baik untuk dipanjatkan, ya!  Tentunya setiap pergantian tahun, doa yang paling utama adalah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Namun, menjadi lebih baik atau tidaknya tergantung dari setiap pribadi yang menjalankan. Menurut saya, pribadi itu sendiri yang merasakan dan tahu betul perjalanan hidup mereka. Well, bukan itu yang menjadi poin utama dalma tulisan saya kali ini.

Yup, sesuai dengan judul di atas yaitu ‘Introvert dan Manja?’. Kenapa saya bisa merasa bahwa sepertinya saya ini tergolong dalam orang yang introvert. Awal mula terjadi saat saya duduk di bangku kuliah. Saat itu mata kuliah psikologi komunikasi membahas mengenai 3 jenis kepribadian umum pada manusia. Ya, 3 jenis kepribadian umum pada manusia meliputi Introvert, Extrovert dan Ambivert. Cerita singkatnya, saat itu dosen saya menjelaskan mengenai ciri-ciri manusia dengan pribadi introvert. Setiap kali dosen saya menjelaskan ciri-cirinya, saya mengangguk dan merasa seperti berkaca (oh yea, that’s me!). Setelah itu saya merasa bahwa saya memiliki kepribadian introvert, walau pun belum teruji secara resmi oleh ahlinya ya hehe. But, i’m sure i am an introvert person.

introvert-2
Source Introvertdear.com

Selanjutnya, saya merupakan anak  bungsu dari tiga bersaudara. Seperti biasa, anak bungsu selalu dikatakan sebagai anak yang manja. Mungkin memang sudah banyak terbukti atau sudah menjadi pandangan dari setiap orang mengenai pribadi si anak bungsu. Saya pribadi kadang suka kesal dikatakan sebagai anak bungsu dengan pribadi yang ‘manja’. Karena, saya sendiri tidak merasa manja pasalnya dari kecil hingga kini saya bukan seperti anak raja yang diantar kemana-mana dengan supir dan pengawal, setiap masalah selalu mengadu pada orang tua, atau selalu mengadahkan tangan dan menangis jika tidka dituruti kemauannya.

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa saya merupakan anak bungsu dengan pribadi introvert. Perlu saya luruskan di sini, bahwa anak bungsu merupakan anak terakhir dengan catatan tidak semua bungsu itu manja. Saya yakin, setiap anak memiliki karakter pribadi yang manja, karena ingin sekali diperhatikan oleh orang tua secara lebih. Mungkin karena anak bungsu merupakan anak terakhir, terlebih jika kedua anak sudah menikah, alhasil siapa yang akan diperhatikan lagi oleh orang tua? Tentu, karena tinggal anak bungsu yang belum menikah maka orang tua memberikan perhatian yang penuh pada anak bungsu ketika kedua kaka nya sudah menikah. Itu lah sebabnya, banyak orang yang melihat bahwa anak bungsu sangat lah dimanja.

Saya tidak membela diri sendiri, saya pun terima saja dikatakan sebagai anak bungsu yang manja dan pemalu padahal saya memiliki pribadi introvert. Trust me if you know about introvert, you’ll know about my character. Saya bukan sosok yang pemalu, namun introvert memiliki caranya sendiri untuk menjadi pribadinya di depan orang banyak. Jika dihadapkan dengan situasi yang baru, maka saya akan diam. Tapi apa kah Anda tahu, bahwa diam saya merupakan cara saya untuk mengobservasi lingkungan sekitar. Ya, mungkin terdengar sedikit konyol. Tapi, itu semua memang yang saya rasakan. Saya pun ingin sekali menjadi sosok yang ambivert sehingga mudah disukai oleh banyak orang. Namun, saya tidak mampu. Hal tersebut tidak membuat saya menjadi diri sendiri. Saya tidak suka dengan basa basi, lebih tepatnya tidak bisa sama sekali. Tidak jarang, banyak orang yang pertama kali melihat saya merasa jengkel. Sudah menjadi sesuatu yang biasa jika orang tersebut (setelah kenal cukup lama) akan mengatakan “dulu pertama kali liat lo, gue kesel banget. Jutek dan sombong” pada kenyataanya saya tidak begitu lho.

introvertdoodles
Source Introvertdoodles.com

Jika saat ini saya telrihat seperti manja atau dimanja, itu salah. Orang tua saya  adil dalam memberikan perhatian kepada ketiga anaknya, termasuk saya. Dari TK saya sudah diajarkan untuk naik angkutan umum, SD saya sudah diajarkan untuk naik bus kota jaraknya yaitu dari Mayestik, Jakarta Selatan hingga Bintaro Jaya. Saat itu saya harus menaiki bus kota lalu dilanjutkan dengan naik angkutan umum untuk sampai di rumah. Hal tersebut terus berlanjut hingga SMP, SMA, dan Kuliah. Walau saat itu juga dibarengi dengan naik ojek, namun saya tetap merasakan nikmatnya panas dan hujan. Setiap kali berangkat untuk sekolah, saya sudah menyiapkan sandal jepit dan jas hujan. Namun, itu semua menyenangkan dan menjadi pengalaman pribadi untuk saya. Bahkan saya memiliki rencana, nanti jika saya telah berkeluarga saya harus tinggal jauh dari orang tua. Dengan begitu saya dapat membuktikan bahwa tidak semua anak bungsu itu manja.

Well, kadang banyak hal kecil yang tidak dilihat oleh orang-orang sehingga mereka mudah untuk menyimpulkan. Tapi, saya tidak masalah jika dikatakan manja, toh yang tahu dan merasakannya hanya saya dan keluarga.

Saya merasa bersyukur dengan memiliki pribadi introvert sebagai anak bungsu yang kata orang manja. Setidaknya, pasti ada kelebihan yang saya memiliki walaupun  orang lain tidak melihatnya. Yap, karena orang yang tidak menyukai saya tidak akan perduli seberapa banyak kelebihan yang saya miliki.

That’s a piece of story about myself. So, you can get to know me for better

Love,

SM

 

Menenangkan Pikiran Dengan 3 Cara Berikut!

Tidak dapat dipungkiri, selagi masih hidup di dunia maka pikiran negatif dan positif akan selalu ada. Yap, seperti yang belakangan ini sedang saya alami. Mempersiapkan acara yang besar, walaupun dalam kurun waktu yang cukup lama, tetap saja aura negatif selalu menghampiri diri saya. Eits, aura negatif yang dimaksud bukan makhluk gaib lho, melainkan pikiran negatif. Nah, pikiran negatif ini yang membuat saya merasa cemas, sedih, hingga stress.

Tentu, cemas dan stress dapat menimbulkan beragam penyakit. Tidak jarang, beragam cara saya coba untuk menenangkan diri dengan menangis. Sebenarnya, cara ini terbilang tidak baik ya. Karena, masih banyak cara lain untuk menenangkan diri selain dengan menangis. ya, tapi bagaimana lagi, namanya juga wanita pasti akan selalu meneteskan air mata sekuat apa pun itu.

Jujur, saya bukan seseorang yang suka bercerita dengan orang mengenai apa yang sedang saya alami. Maka dari itu, saya memilih diam dan mencoba untuk menguatkan diri sendiri.

Hingga akhirnya, saya coba menerapkan beberapa tahap. Hasilnya, cukup membuat saya dapat berpikir positif dan lebih tenang.

  1. Pertama, hal wajib yang harus dilakukan agar diri dapat tenang yaitu dengan ibadah. Bukan berarti ibadah hanya saat diri tidak tenang. Ibadah dengan Allah merupakan kewajiban bagi setiap umat. Maka dari itu dengan Allah saya dapat bercerita banyak, berdoa, karena hanya kepada Allah saya berserah. Atas seizin Allah, semua tidak perlu dikhawatirkan lagi. Maka, coba lah untuk lebih dekat dengan Allah agar pikiran dapat tenang.
  2. Kedua, saya coba untuk mendengar dan menonton ceramah atau kajian melalui Youtube. Sungguh menyenangkan saya mendapatkan ilmu baru dengan kajian islami. Tidak hanya itu, pikiran positif pun kembali karena diiringi dengan masukan yang baik dalam diri. Saya sarankan untuk melihat kajian atau ceramah yang sesuai dengan permasalahan yang sedang Anda hadapi. Dengan begitu, secara otomatis Anda akan merasa lebih bersyukur dan menyadari bahwa permasalahan yang dihadapi merupakan jalan Anda untuk lebih mawas diri.
  3. Last but not least, tanpa sengaja saya melihat vlog yang berisikan konten yang positif. Yap, tanpa sengaja saya melihat vlog Andien Aisyah saat ia dan sang suami melakukan trip ke Melbourne. Sungguh, melihat vlog dengan konten seperti ini membuat saya senyam senyum sendiri. Membawa saya seakan menikmati perjalanan seru Andien & Ippe. Tidak hanya tentang Melbourne, pertama kali saya melihat vlog keseruan mereka sewaktu trip ke Jepang. Tidak hanya vlog Andien saja lho, Anda bisa melihat vlog dengan konten positif lainnya. Hitung-hitung sekaligus menambah ilmu walau hanya lewat Youtube.

Setelah tanpa sengaja saya melakukan 3 tahapan di atas, coba lah untuk tidur sebentar. Istirahatkan tubuh dan pikiran, minum teh hangat, tarik nafas, dan bersyukur lah. Semoga tahap-tahap untuk menenangkan pikiran tersebut dapat bermanfaat untuk Anda ya. Good luck! ^.^

Pilih Mana, Hidup Bersama Atau Sendiri?

Sering terlintas dalam pikiran saya bahwa rasanya ingin bisa membelah diri. Di satu sisi saya ingin konsentrasi pada profesi, namun saya tidak bisa menolak permintaan untuk membantu orang tua. Bahkan, saya tidak mampu untuk meninggalkan orang tua sendiri seperti kemana-mana harus naik taksi atau menyetir sendiri. Selain mengingat usia keduanya sudah lanjut, saya juga memiliki keinginan membahagiakan orang tua dengan hal kecil selain materi.

Keseharian saya bersama Ibu, mengajarkan untuk menghargai waktu bersamanya. Kadang, ada rasa lelah, tapi semua hilang saat saya melihat banyak orang di luar sana sibuk berkerja hingga melupakan waktu bersama dengan orang terdekatnya (keluarga).

Entah ya, sejak saya memasuki usia 20tahun, segalanya berubah. Saya berpikir bahwa keluarga adalah segalanya. Banyak pelajaran yang saya petik baik dari sekitar maupun perjalanan masa lalu. Sungguh, saya sangat kesal jika ada seorang anak yang tidak memberikan waktu untuk keluarganya. Walaupun pada akhirnya saya akan hidup dengan orang lain (kelak), maka dari itu saya sangat memberikan banyak waktu pada Ibu dan Ayah.

Belakangan ini saya sedang diliputi sebuah problem, dimana banyak orang yang kurang menjalin komunikasi dengan orang tuanya. Tidak jarang, banyak orang tua yang tidak paham dengan karakter anak. Eits, jangan dulu menyalahkan orang tua karena alasan ‘kolot’ ya! Perlu diingat, bahwa banyak sekali orang tua yang ingin mendengarkan cerita anaknya saat sudah beranjak dewasa. Entah itu kisah cinta, pekerjaan, persahabatan, dan lainnya. Namun,  anak yang sudah terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri, menganggap semua bisa diselesaikan sendiri.

Selfish, mungkin kata yang tepat. Saya pun juga sering menjadi egois. Tapi coba deh pikirkan kembali, berdiri depan cermin, lalu bayangkan bagaimana rewelnya Anda saat masih kecil. Saat itu, Ibu dan Ayah sibuk menenangkan Anda dengan berbagai cara, banyak waktu. Lalu, kini ketika Anda sudah disibukan dengan kehidupan pribadi, sudah kah Anda meluangkan waktu minimal 5 menit untuk menanyakan kabar orang tua?

Baiklah, saya sejak kecil sudah ditinggal Ayah bertugas. Kami baru akan bertemu hanya 3 bulan sekali. Hingga akhirnya ada rasa dimana saya segan pada Ayah. Waktu remaja, saya akui bahwa banyak waktu yang terbuang. Sampai pada akhirnya saya sadar bahwa Ayah sudah berusia 60 tahun. Lalu, apa yang telah saya berikan kepada Ayah? Yup, sampai detik ini saya baru memberikan gelat sarjana S1…dan sisanya waktu. Waktu yang saya berikan untuk beliau saat ia cuti.

Kini tidak sedikit pun saya melepas kedua orang tua berjalan sendiri. Jika mereka meminta saya untuk mengantarkan kemana pun, selama saya mampu saya antar. Tidak hanya itu, selama saya mampu bercerita maka saya ceritakan apapun kepada kedua orang tua saya.

Saya sadar, bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Sejauh apapun kamu bekerja, jangan pernah melupakan keluarga dan orang terdekat. Ceritakan apa yang perlu diceritakan. Berikan mereka waktu untuk bisa merasa seakan dekat dengan kamu.

Saya sadar, bahwa saya hidup tidak untuk diri saya sendiri. Paling utama saya hidup bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Saya hidup dengan mereka, maka penting bagi saya untuk berbagi waktu dengan mereka. Tidak perduli omongan orang mengenai ‘anak bontot, manja, dan mengharapkan harta orang tua’, karena setinggi apapun pendidikan mu, sebanyak apapun uang mu, tidak akan pernah cukup jika dibandingkan waktu dengan orang tua.

Semoga, tulisan ini mampu mengingatkan jika hidup bersama itu jauh lebih baik daripada hidup untuk sendiri.