Rezeki Itu Sehat dan Keluarga

Belakangan ini saya sedang mendalami tentang arti penting dari saling berbagi. Bahkan lebih penting saat sedang diuji, kita sebagai manusia harus tetap berbagi. Apa yang dimaksud dengan diuji? Yap, anggap lah ini ujian dari berbagai nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Ya apapun itu, kita sudah seharusnya memaknai segala hal untuk kebaikan diri sendiri. Tuhan yang Maha Mengetahui baik dan buruknya, bahwa Tuhan tidak pernah membuat manusia itu susah. Hanya saja manusia selalu merasa kurang, terpuruk dalam kesedihan, hingga selalu merasa kurang. Terlebih lagi dalam segi rezeki yang berupa harta.

Saya pun selalu mengingatkan diri sendiri, bahwa Tuhan sudah memberikan rezeki kepada masing-masing individu sesuai dengan kebutuhan mereka. Lalu, apa yang membuat selalu merasa kurang? Tentu, gaya hidup yang melampaui batas. Berkerja banting tulang, dari matahari belum terbit hingga terbenam untuk menyambung hidup. Rela, tentu rela sekali hingga mungkin saja Ayah, Ibu,  Istri, Anak, Saudara lainnya merasakan rindu yang mendalam.

Andai saja gaya hidup dapat disesuaikan dengan pendapatan, maka rezeki yang berupa kesehatan dan waktu lapang saja sudah lebih dari cukup. Lebih mirisnya, kini tidak jarang banyak orang (atau mungkin termasuk saya) suka lalai akan arti sebenernya dari sebuh rezeki. Rezeki yang paling berharga yaitu kesehatan dan waktu yang bisa dipakai untuk berkumpul dengan keluarga. Ayah dan Ibu mungkin selalu merasa bahagia meski ditinggal anak-anaknya untuk berkerja. Tapi, dari hati paling dalam bahwa kebahagiaan sesungguhnya itu bisa berkumpul dengan anak-anak, seperti dahulu kala saat masih kecil.

Saya, di sini tidak pernah berhenti untuk mengingatkan bahwa keluarga adalah mereka yang mampu menerima kekurangan Anda, Saya, Kita. Walaupun suatu saat datang dalam keadaan susah, percaya lah Ayah dan Ibu membuka tangan mereka dengan lapang dan penuh senyum. Hal ini sangat saya rasakan setelah saya melalui berbagai hal untuk mencari siapa diri saya sebenarnya. Lebih tepatnya saat itu saya merupakan manusia yang paling tidak bersyukur. Namun, itu semua menyadarkan saya bahwa rezeki saya itu yaitu dapat melihat Ayah dan Ibu masih sehat hingga nanti, aamiin. Bahkan sekarang, saya tidak bisa sedikit pun membuang waktu saya jika tidak dengan keluarga. Saya coba untuk terus membayar waktu-waktu yang telah saya buang percuma untuk tidak berkumpul dengan keluarga.

Walaupun suatu saat datang dalam keadaan susah, percaya lah Ayah dan Ibu membuka tangan mereka dengan lapang dan penuh senyum

Hal ini pun semakin terasa ketika Ayah dan Ibu semakin menua. Hingga mereka kini InshaAllah siap untuk mempersiapkan segala yang terbaik untuk saya. Semakin hari saya merasakan haru. Seperti kemarin saat saya ingin berangkat ke Surabaya untuk menajalankan sesuatu yang sangat penting. Padahal jarak antara Jakarta dan Surabaya tidak terlalu jauh, namun saya begitu haru meninggalkan Ibu di rumah. Saya membayangkan ketika nanti berkeluarga, saya akan ditinggal oleh anak saya pergi, sepi, sendiri, tidak ada teman berbagi.

Baru seminggu saya di Surabaya, saya coba hubungi Ibu saya. Beliau begitu banyak bercerita tentang kesehariannya. Tentu ini sangat berbeda jika saya berada dekat di sana dengan Ibu. Memang benar apa kata orang, ketika jauh kita akan merasakan begitu kehilangan, namun saat dekat justru diisi dengan keegoisan diri. Dengan jauh seperti ini. rasa nya tidak ada tempat yang lebih nyaman selain keluarga, Ayah dan Ibu.

Sejauh ini saya masih terus mencoba dan tidak akan pernah berhenti untuk tetap memanfaatkan waktu dengan keluarga. Karena, banyak yang sudah menikah ingin sekali memeluk erat Ayah dan Ibu seperti dulu saat masih bersama. Saya memang belum bisa membahagiakan orang tua. Setidaknya, waktu yang saya punya kini untuk Ayah dan Ibu.

Ingat satu hal, bahwa ridha orang tua lah yang membuat saya ada di tahap ini

Saya yakin, tidak ada yang lebih bahagia bagi Ayah dan Ibu selain melihat anak-anaknya akur, saling berkumpul, dan tersenyum bersama. Bukan harta, bukan lah materi, melainkan doa agar Ayah dan Ibu selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Uang itu tidak bisa mengembalikan waktu lho. Sukses itu tidak bisa membeli usia yang sudah diatur oleh Tuhan. Sebelum terlambat, sebaiknya gunakan waktu cuti dan libur Anda untuk bertemu dengan Ayah dan Ibu meski hanya sebentar. Ajak mereka makan bersama walau hanya dengan sayur bening dan telor dadar, bukan makanan nya, namun waktu kebersamaan nya.

Ingat satu hal, bahwa ridha orang tua lah yang membuat saya ada di tahap ini. Alhamdulillah,  terimakasih Tuhan, terimakasih Ayah dan Ibu. 

Sincerely, 

Shintria M

 

 

Advertisements

Love, To Be Loved and Time (Bahasa)

Mencintai dan dicintai..

Mencintai, dicintai dan waktu. Bagi saya, tiga hal yang patut untuk menjadi sebuah pelajaran dalam hidup. Mencintai seseorang adalah sebuah kewajiban atas penghargaan akan sebuha kasih sayang. Lalu, dicintai adalah rasa yang harus disyukuri dan waktu merupakan pendukung paling penting untuk keduanya.

Tanpa waktu, bagaimana mencintai dan dicintai akan hadir dalam tiap rasa yang ada. Yap, bagi saya waktu merupakan faktor utama yang harus dihargai. Banyak seseorang yang menyerah untuk mencintai hingga hilang rasa dicintai karena tidak dapat menghargai waktu.

Tanpa sengaja saya menemukan sebuah kutipan, “she loves hard because she know how it feels be loved so little” Orang-orang yang merasa dicintai, sudah seharusnya paham akan kutipan tersebut. Tentang bagaimana bersyukur bahwa sudah dicintai, lalu kembali mencintai.

“she loves hard because she know how it feels be loved so little

Orang-orang yang mencintai memberikan waktu, sedikit waktu, untuk terus menjalin sebuah komunikasi. Untuk apa? Ya, untuk terus memberikan rasa kepada orang yang dituju, agar orang tersebut merasa tetap dicintai. Sayangnya, orang-orang yang dicintai tidak paham betul bahwa mereka telah diberikan sebagian waktu atau bahkan seluruhnya hanya untuk memastikan mereka dalam keadaan baik.

Keadaan ini sering kali saya temui pada hubungan yang sudah cukup lama. Yap, saya anggp bahwa beberapa pasangan merasa sudah saling memahami, sehingga lupa untuk menghargai. Baik yang mencintai dan dicintai sudah merasa terbiasa, hingga timbul lah rasa “memudahkan” segalanya, baik dalam segi perasaan dan waktu. Lalu, mereka berpisah hanya karena tak sanggup untuk mencintai dan dicintai. Entah salah satunya ada yang merasa bosan dan lain sebagainya.

Banyak hal kecil yang dilakukan oleh orang-orang yang mencintai. Namun, beberapa orang yang dicintai, susah untuk memahami, bahwa apa yang dilakukan adalah sebuah ungkapan rasa kasih sayang dan saling membutuhkan. Mirisnya, orang yang dicintai merasa “risih” dengan keadaan tersebut. Yap, hingga mereka merasa kehilangan.

Kembali lagi, bahwa apa yang ada harus disyukuri. Kembali lagi melihat hal-hal kecil yang telah dilakukan, baik mencintai dan dicintai oleh pasangan, orang tua, keluarga atau sahabat. Setidaknya, dengan kembali melihat hal-hal kecil yang telah dilakukan untuk sebuah ungkapan kasih sayang dapat meningkatkan kualitas bersyukur. Kunci utamanya adalah bersyukur dan selalu merasa cukup dengan apa yang ada.

 

 

 

Introvert dan (Anak Bungsu) Manja?

Hello, sudah memasuki tahun 2017 pasti banyak harapan-harapan yang lebih baik untuk dipanjatkan, ya!  Tentunya setiap pergantian tahun, doa yang paling utama adalah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Namun, menjadi lebih baik atau tidaknya tergantung dari setiap pribadi yang menjalankan. Menurut saya, pribadi itu sendiri yang merasakan dan tahu betul perjalanan hidup mereka. Well, bukan itu yang menjadi poin utama dalma tulisan saya kali ini.

Yup, sesuai dengan judul di atas yaitu ‘Introvert dan Manja?’. Kenapa saya bisa merasa bahwa sepertinya saya ini tergolong dalam orang yang introvert. Awal mula terjadi saat saya duduk di bangku kuliah. Saat itu mata kuliah psikologi komunikasi membahas mengenai 3 jenis kepribadian umum pada manusia. Ya, 3 jenis kepribadian umum pada manusia meliputi Introvert, Extrovert dan Ambivert. Cerita singkatnya, saat itu dosen saya menjelaskan mengenai ciri-ciri manusia dengan pribadi introvert. Setiap kali dosen saya menjelaskan ciri-cirinya, saya mengangguk dan merasa seperti berkaca (oh yea, that’s me!). Setelah itu saya merasa bahwa saya memiliki kepribadian introvert, walau pun belum teruji secara resmi oleh ahlinya ya hehe. But, i’m sure i am an introvert person.

introvert-2
Source Introvertdear.com

Selanjutnya, saya merupakan anak  bungsu dari tiga bersaudara. Seperti biasa, anak bungsu selalu dikatakan sebagai anak yang manja. Mungkin memang sudah banyak terbukti atau sudah menjadi pandangan dari setiap orang mengenai pribadi si anak bungsu. Saya pribadi kadang suka kesal dikatakan sebagai anak bungsu dengan pribadi yang ‘manja’. Karena, saya sendiri tidak merasa manja pasalnya dari kecil hingga kini saya bukan seperti anak raja yang diantar kemana-mana dengan supir dan pengawal, setiap masalah selalu mengadu pada orang tua, atau selalu mengadahkan tangan dan menangis jika tidka dituruti kemauannya.

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa saya merupakan anak bungsu dengan pribadi introvert. Perlu saya luruskan di sini, bahwa anak bungsu merupakan anak terakhir dengan catatan tidak semua bungsu itu manja. Saya yakin, setiap anak memiliki karakter pribadi yang manja, karena ingin sekali diperhatikan oleh orang tua secara lebih. Mungkin karena anak bungsu merupakan anak terakhir, terlebih jika kedua anak sudah menikah, alhasil siapa yang akan diperhatikan lagi oleh orang tua? Tentu, karena tinggal anak bungsu yang belum menikah maka orang tua memberikan perhatian yang penuh pada anak bungsu ketika kedua kaka nya sudah menikah. Itu lah sebabnya, banyak orang yang melihat bahwa anak bungsu sangat lah dimanja.

Saya tidak membela diri sendiri, saya pun terima saja dikatakan sebagai anak bungsu yang manja dan pemalu padahal saya memiliki pribadi introvert. Trust me if you know about introvert, you’ll know about my character. Saya bukan sosok yang pemalu, namun introvert memiliki caranya sendiri untuk menjadi pribadinya di depan orang banyak. Jika dihadapkan dengan situasi yang baru, maka saya akan diam. Tapi apa kah Anda tahu, bahwa diam saya merupakan cara saya untuk mengobservasi lingkungan sekitar. Ya, mungkin terdengar sedikit konyol. Tapi, itu semua memang yang saya rasakan. Saya pun ingin sekali menjadi sosok yang ambivert sehingga mudah disukai oleh banyak orang. Namun, saya tidak mampu. Hal tersebut tidak membuat saya menjadi diri sendiri. Saya tidak suka dengan basa basi, lebih tepatnya tidak bisa sama sekali. Tidak jarang, banyak orang yang pertama kali melihat saya merasa jengkel. Sudah menjadi sesuatu yang biasa jika orang tersebut (setelah kenal cukup lama) akan mengatakan “dulu pertama kali liat lo, gue kesel banget. Jutek dan sombong” pada kenyataanya saya tidak begitu lho.

introvertdoodles
Source Introvertdoodles.com

Jika saat ini saya telrihat seperti manja atau dimanja, itu salah. Orang tua saya  adil dalam memberikan perhatian kepada ketiga anaknya, termasuk saya. Dari TK saya sudah diajarkan untuk naik angkutan umum, SD saya sudah diajarkan untuk naik bus kota jaraknya yaitu dari Mayestik, Jakarta Selatan hingga Bintaro Jaya. Saat itu saya harus menaiki bus kota lalu dilanjutkan dengan naik angkutan umum untuk sampai di rumah. Hal tersebut terus berlanjut hingga SMP, SMA, dan Kuliah. Walau saat itu juga dibarengi dengan naik ojek, namun saya tetap merasakan nikmatnya panas dan hujan. Setiap kali berangkat untuk sekolah, saya sudah menyiapkan sandal jepit dan jas hujan. Namun, itu semua menyenangkan dan menjadi pengalaman pribadi untuk saya. Bahkan saya memiliki rencana, nanti jika saya telah berkeluarga saya harus tinggal jauh dari orang tua. Dengan begitu saya dapat membuktikan bahwa tidak semua anak bungsu itu manja.

Well, kadang banyak hal kecil yang tidak dilihat oleh orang-orang sehingga mereka mudah untuk menyimpulkan. Tapi, saya tidak masalah jika dikatakan manja, toh yang tahu dan merasakannya hanya saya dan keluarga.

Saya merasa bersyukur dengan memiliki pribadi introvert sebagai anak bungsu yang kata orang manja. Setidaknya, pasti ada kelebihan yang saya memiliki walaupun  orang lain tidak melihatnya. Yap, karena orang yang tidak menyukai saya tidak akan perduli seberapa banyak kelebihan yang saya miliki.

That’s a piece of story about myself. So, you can get to know me for better

Love,

SM

 

Truly Mars and Venus (Review)

Bila pria dan wanita mampu menghormati perbedaan-perbedaan mereka, cinta memiliki kesempatan untuk tumbuh (Truly Mars and Venus)

Mungkin, saya merupakan salah satu orang yang memiliki rasa penasaran akan hubungan antara pria dan wanita. Yap, tidak lain semua timbul karena rasa suka, sayang, hingga menjadi cinta. Namun, semua yang berawal dari rasa kagum antar sesama kadang tidak memiliki akhir yang bahagia. Rasa sayang dan cinta justru berubah menjadi benci.
Rasa kesal wanita pada pria bahkan sebaliknya, membuat saya bertanya-tanya mengapa tidak untuk saling mengerti dan memahami sifat masing-masing ya? Ternyata tidak semudah itu. Wanita dan pria memang berbeda, seperti yang biasa Anda dengar mengenai “pria berpikir dengan logika, sedangkan wanita menggunakan perasaannya”. Ya, bisa dibilang sampai kapan pun tidak akan bertemu.

Banyak kasus dimana wanita ingin sekali dimengerti dengan berbagai kode. Sedangkan pria yang menggunakan logikanya, tidak mengerti akan isyarat dan kode yang diberikan oleh wanita. Alhasil timbul lah berbagai pertengkaran sengit penuh drama (LOL)

Nah, sebenarnya sudah lama saya menemukan buku ini tapi baru sempat membuat review untuk kali ini. Menurut saya, buku ini menjawab segala rasa penasaran akan dibalik sikap dan sifat para pria dan wanita.


Buku yang berjudul Truly Mars and Venus ini merupakan karya dari John Gray. Sebelumnya John Gray juga pernah menulis buku dengan judul yang kurang lebih sama, yaitu Men Are from Mars, Women Are from Venus. 

Truly Mars and Venus merupakan buku yang memberikan cara untuk memahami pasangan. Ilustrasi yang menarik serta isi buku yang tidak terlalu rumit, membuat saya lebih mudah dan tidak bosan untuk membacanya. Buku ini menjawab segala perbedaan yang terjadi antara pria dan wanita. Tanpa disadari perbedaan tersebut merupakan cara untuk saling melengkapi lho.

Pria masuk ke gua mereka dan wanita berbicara (Truly Mars and Venus)


Buku ini juga dapat membantu hingga mempertahankan hubungan yang sehat dan penuh kasih sayang. Melalui buku ini, saya baru mengetahui bahwa pria tidak suka diberitahu mengeni arah atau saran tanpa dia minta, hmm.. cukup menarik. Bagi para pria, Anda bisa memenangkan hati wanita dengan tidak pernah lupa hari ulang tahunnya, lalu beri ciuman selamat tinggal sebelum pergi. John Gray memberikan kita 25 cara untuk para pria dan wanita agar lebih saling memahami pasangan masing-masing.

Honestly, saat membaca buku ini saya menyadari akan keegoisan diri sendiri pada pasangan. Setidaknya, saya jadi mengerti bahwa pria memang suka berdiam diri jika sedang menghadapi pelbagai problem, lalu pria akan kembali dengan sendirinya. Tapi, sikap ini yang membuat wanita tidak kuat dam terus saja bertanya “kamu kenapa?” Well,  buku ini lebih baik dibaca bersama dengan pasangan agar bisa saling introspeksi diri ya.

So, happy reading!

 

Menenangkan Pikiran Dengan 3 Cara Berikut!

Tidak dapat dipungkiri, selagi masih hidup di dunia maka pikiran negatif dan positif akan selalu ada. Yap, seperti yang belakangan ini sedang saya alami. Mempersiapkan acara yang besar, walaupun dalam kurun waktu yang cukup lama, tetap saja aura negatif selalu menghampiri diri saya. Eits, aura negatif yang dimaksud bukan makhluk gaib lho, melainkan pikiran negatif. Nah, pikiran negatif ini yang membuat saya merasa cemas, sedih, hingga stress.

Tentu, cemas dan stress dapat menimbulkan beragam penyakit. Tidak jarang, beragam cara saya coba untuk menenangkan diri dengan menangis. Sebenarnya, cara ini terbilang tidak baik ya. Karena, masih banyak cara lain untuk menenangkan diri selain dengan menangis. ya, tapi bagaimana lagi, namanya juga wanita pasti akan selalu meneteskan air mata sekuat apa pun itu.

Jujur, saya bukan seseorang yang suka bercerita dengan orang mengenai apa yang sedang saya alami. Maka dari itu, saya memilih diam dan mencoba untuk menguatkan diri sendiri.

Hingga akhirnya, saya coba menerapkan beberapa tahap. Hasilnya, cukup membuat saya dapat berpikir positif dan lebih tenang.

  1. Pertama, hal wajib yang harus dilakukan agar diri dapat tenang yaitu dengan ibadah. Bukan berarti ibadah hanya saat diri tidak tenang. Ibadah dengan Allah merupakan kewajiban bagi setiap umat. Maka dari itu dengan Allah saya dapat bercerita banyak, berdoa, karena hanya kepada Allah saya berserah. Atas seizin Allah, semua tidak perlu dikhawatirkan lagi. Maka, coba lah untuk lebih dekat dengan Allah agar pikiran dapat tenang.
  2. Kedua, saya coba untuk mendengar dan menonton ceramah atau kajian melalui Youtube. Sungguh menyenangkan saya mendapatkan ilmu baru dengan kajian islami. Tidak hanya itu, pikiran positif pun kembali karena diiringi dengan masukan yang baik dalam diri. Saya sarankan untuk melihat kajian atau ceramah yang sesuai dengan permasalahan yang sedang Anda hadapi. Dengan begitu, secara otomatis Anda akan merasa lebih bersyukur dan menyadari bahwa permasalahan yang dihadapi merupakan jalan Anda untuk lebih mawas diri.
  3. Last but not least, tanpa sengaja saya melihat vlog yang berisikan konten yang positif. Yap, tanpa sengaja saya melihat vlog Andien Aisyah saat ia dan sang suami melakukan trip ke Melbourne. Sungguh, melihat vlog dengan konten seperti ini membuat saya senyam senyum sendiri. Membawa saya seakan menikmati perjalanan seru Andien & Ippe. Tidak hanya tentang Melbourne, pertama kali saya melihat vlog keseruan mereka sewaktu trip ke Jepang. Tidak hanya vlog Andien saja lho, Anda bisa melihat vlog dengan konten positif lainnya. Hitung-hitung sekaligus menambah ilmu walau hanya lewat Youtube.

Setelah tanpa sengaja saya melakukan 3 tahapan di atas, coba lah untuk tidur sebentar. Istirahatkan tubuh dan pikiran, minum teh hangat, tarik nafas, dan bersyukur lah. Semoga tahap-tahap untuk menenangkan pikiran tersebut dapat bermanfaat untuk Anda ya. Good luck! ^.^

Pilih Mana, Hidup Bersama Atau Sendiri?

Sering terlintas dalam pikiran saya bahwa rasanya ingin bisa membelah diri. Di satu sisi saya ingin konsentrasi pada profesi, namun saya tidak bisa menolak permintaan untuk membantu orang tua. Bahkan, saya tidak mampu untuk meninggalkan orang tua sendiri seperti kemana-mana harus naik taksi atau menyetir sendiri. Selain mengingat usia keduanya sudah lanjut, saya juga memiliki keinginan membahagiakan orang tua dengan hal kecil selain materi.

Keseharian saya bersama Ibu, mengajarkan untuk menghargai waktu bersamanya. Kadang, ada rasa lelah, tapi semua hilang saat saya melihat banyak orang di luar sana sibuk berkerja hingga melupakan waktu bersama dengan orang terdekatnya (keluarga).

Entah ya, sejak saya memasuki usia 20tahun, segalanya berubah. Saya berpikir bahwa keluarga adalah segalanya. Banyak pelajaran yang saya petik baik dari sekitar maupun perjalanan masa lalu. Sungguh, saya sangat kesal jika ada seorang anak yang tidak memberikan waktu untuk keluarganya. Walaupun pada akhirnya saya akan hidup dengan orang lain (kelak), maka dari itu saya sangat memberikan banyak waktu pada Ibu dan Ayah.

Belakangan ini saya sedang diliputi sebuah problem, dimana banyak orang yang kurang menjalin komunikasi dengan orang tuanya. Tidak jarang, banyak orang tua yang tidak paham dengan karakter anak. Eits, jangan dulu menyalahkan orang tua karena alasan ‘kolot’ ya! Perlu diingat, bahwa banyak sekali orang tua yang ingin mendengarkan cerita anaknya saat sudah beranjak dewasa. Entah itu kisah cinta, pekerjaan, persahabatan, dan lainnya. Namun,  anak yang sudah terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri, menganggap semua bisa diselesaikan sendiri.

Selfish, mungkin kata yang tepat. Saya pun juga sering menjadi egois. Tapi coba deh pikirkan kembali, berdiri depan cermin, lalu bayangkan bagaimana rewelnya Anda saat masih kecil. Saat itu, Ibu dan Ayah sibuk menenangkan Anda dengan berbagai cara, banyak waktu. Lalu, kini ketika Anda sudah disibukan dengan kehidupan pribadi, sudah kah Anda meluangkan waktu minimal 5 menit untuk menanyakan kabar orang tua?

Baiklah, saya sejak kecil sudah ditinggal Ayah bertugas. Kami baru akan bertemu hanya 3 bulan sekali. Hingga akhirnya ada rasa dimana saya segan pada Ayah. Waktu remaja, saya akui bahwa banyak waktu yang terbuang. Sampai pada akhirnya saya sadar bahwa Ayah sudah berusia 60 tahun. Lalu, apa yang telah saya berikan kepada Ayah? Yup, sampai detik ini saya baru memberikan gelat sarjana S1…dan sisanya waktu. Waktu yang saya berikan untuk beliau saat ia cuti.

Kini tidak sedikit pun saya melepas kedua orang tua berjalan sendiri. Jika mereka meminta saya untuk mengantarkan kemana pun, selama saya mampu saya antar. Tidak hanya itu, selama saya mampu bercerita maka saya ceritakan apapun kepada kedua orang tua saya.

Saya sadar, bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Sejauh apapun kamu bekerja, jangan pernah melupakan keluarga dan orang terdekat. Ceritakan apa yang perlu diceritakan. Berikan mereka waktu untuk bisa merasa seakan dekat dengan kamu.

Saya sadar, bahwa saya hidup tidak untuk diri saya sendiri. Paling utama saya hidup bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Saya hidup dengan mereka, maka penting bagi saya untuk berbagi waktu dengan mereka. Tidak perduli omongan orang mengenai ‘anak bontot, manja, dan mengharapkan harta orang tua’, karena setinggi apapun pendidikan mu, sebanyak apapun uang mu, tidak akan pernah cukup jika dibandingkan waktu dengan orang tua.

Semoga, tulisan ini mampu mengingatkan jika hidup bersama itu jauh lebih baik daripada hidup untuk sendiri.

Japan Trip With My Best

Processed with VSCO with p5 preset
Photo by ShintriaM

Hai, kali ini saya akan berbagi cerita mengenai perjalanan kedua ke Jepang. Sebelumnya pada tahun 2015, saya berkesempatan mencicipi Jepang selama 5 hari. Setelah akhirnya pada tahun 2016 tepat bulan Maret, saya kembali mengunjungi Jepang dengan waktu yang cukup lama yaitu 10 hari (seru!). Perjalanan kali ini mengesankan karena banyak cerita seru yang tidak akan terlupakan. Bahkan tanpa disangka-sangka saya bisa kembali mengunjungi Jepang bersama dengan sahabat sejak SMP.

Saat itu saya berencana menghadiri wisuda di salah satu Universitas di Yokosuka, Jepang. Wisuda dilaksanakan pada 21 Maret 2016, saya memutuskan untuk berangkat pada tanggal 18 Maret dengan maskapai Cathay Pacific. Sebelumnya saya pikir akan berangkat dan menghabiskan waktu sendiri selama di Jepang hingga graduation tiba. Rasa khawatir tentu ada karena saat berangkat tentu harus transit di Hong Kong yang saya pribadi belum ada pengalaman untuk melancong ke luar negeri sendiri. Syukur lah, sahabat saya secara mendadak dan nekat bersedia menjadi teman perjalanan saya. Secara cepat dan tanggap ia langsung membeli tiket dengan waktu yang sama dengan saya, berikut visa. Kebetulan ia juga ingin merayakan ulang tahun di Disney Land Tokyo sekaligus berkunjung ke Fujiko F. Fujio Museum.

Yup, tiba di hari yang ditunggu saya sampai lebih dulu di bandara Soekarno-Hatta pada pukul 06.30 Pagi. Saat itu hari Jumat, saya berangkat lebih awal karena takut jalan macet. Ternyata benar sekali, sahabat saya sampai dengan waktu hanya beberapa menit lagi counter check-in ditutup. Alhasil, kami harus berlari agar tepat waktu sampai di gate. Karena, untuk penerbangan International sendiri butuh waktu yang panjang hingga melewati security check dan imigrasi. Tepat pukul 08.30 Pagi pesawat kami berangkat menuju Hong Kong dan berlanjut ke Tokyo (NRT). Perjalanan ditempuh selama 9h 45m, 1 transit. Cukup membosankan tapi seru sekali, karena sama sekali tidak pernah terbayangkan bisa ke Jepang bareng sahabat sejak SMP. FYI, kami tidak pernah merencanakan lho.

Yay! akhirnya sampai di bandara Narita, Tokyo pada 20.15 Malam. Jetlag sudah pasti! Saat tiba saya terjebak di imigrasi karena lupa dengan alamat apartment yang sudah kami booked via Airbnb. Sang petugas imigrasi menanyakan dengan detail siapa pemilik apartemen lain sebagainya, tapi semua bisa teratasi saat petugas tahu bahwa kami berdua dan tidak sendiri hehe. Sampai di Tokyo seperti biasa kartu Indonesia belum bisa dipakai, karena saya mengandalkan wifi yang ada di bandara. Namun entah kenapa saat itu wifi bandara Narita tidak bisa digunakan. Kami yang sudah cukup kelelahan bingung untuk melihat jadwal kereta yang harus menggunakan jaringan internet. Sahabat saya mengaktifkan kartu Indonesia dengan biaya yang cukup mahal. Kami cukup tertolong selama beberapa saat walaupun koneksi tidak lancar.

Pertama yang kami lakukan saat sampai bandara yaitu mencari jadwal kereta melalui google maps. Selanjutnya kami membuat Pasmo untuk naik kereta, biar lucu bikin pakai nama ya hehe jadi bisa disimpan sebagai kenang-kenangan. Kami isi saldo pasmo 10.000 yen atau setara dengan 1 Juta Rupiah. Dengan saldo tersebut, kalian bisa kemana pun tapi pilih perjalanan yang sesuai. Google maps sendiri akan memberi tahu jumlah biaya yang dikeluarkan saat naik kereta di Jepang sesuai tujuan kalian.

Jepang sendiri tidak diragukan lagi ketepatan waktunya, jika kereta dikatakan sampai di eki (stasiun) 5 menit lagi, maka kereta benar-benar akan sampai dalam waktu 5 menit tidak lebih tidak juga kurang, salut!. Jadi, saya tidak perlu takut untuk terlambat sampai tempat tujuan. Okay, lanjut.. kami janji bertemu dengan teman kami di salah stasiun *lupa namanya*. Saat itu kami belum tahu mana kereta lokal dan JR, sehingga menghabiskan banyak waktu karena rute kereta yang lebih panjang. Setelah bertemu dengan teman kami, perjalanan dilanjutkan ke Gotanda-Eki karena apartment kami berada di kawasan Gotanda. Kami berjalanan cukup jauh dengan membawa koper besar dan memutuskan untuk naik taksi karena hujan turun cukup lebat saat itu.

Processed with VSCO with p5 preset
Photo by ShintriaM

Sampai di apartment yang cukup untuk kami bertiga hehe. Untuk ruangan di Jepang sendiri terbilang sangat efektif. Semua ruangan terpakai walaupun kecil. Mereka tidak membuang banyak ruangan, semua ruangan dibuat berdasarkan fungsi. Saat bersama sahabat saya, kami menyewa apartment yang langsung dengan kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Kisaran harganya cukup murah jika kalian ke Jepang bersama keluarga atau dengan banyak orang, karena bisa patungan. Malam pertama, kami memutuskan untuk istirahat di apartment, makan rendang dengan nasi yang dibeli di Family Mart :’). Oia, kalau sewa apartment fasilitas yang didapat cukup banyak salah satunya wifi portable hehe jadi kalian ngga perlu khawatir telat update social media :p

Hari kedua, kami berkunjung ke Disney Land Tokyo. Yeay! That was my second time to visited The Happiest Place On Earth! so happy!. Sebelumnya kedua teman saya pergi duluan ke Disney Land, saya memutuskan untuk bertemu dengan seseorang di Muji Cafe masih kawasan Gotanda setelah akhirnya menyusul kedua teman saya. Dua kali saya berkunjung ke Disney Land dengan orang-orang spesial dalam hidup. Kami menghabiskan banyak wkatu saat itu di Disney Land sampai parade malam dan kembang api berakhir pukul 21.00. Saat itu sudah memasuki spring namun masih sangat dingin sekitar 9 – 10°C. Saya membawa beberapa baju hangat, tapi yang paling bisa menahan dingin hanya satu. Jadi, jangan heran jika di foto saya sama semua, tapi saya ganti baju kok hanya coat yang sama. Setelah menikmati Disney Land, kami memutuskan melewati malam minggu di Shibuya. Perut yang sudah sangat lapar membawa kami menyantap hidangan sate khas Jepang yaitu Yakitori. Selain murah meriah, yakitori di Jepang itu rasanya beda.. mungkin juga karena suasana ya.

Processed with VSCO with p5 preset
Photo by ShintriaM

Keesokan harinya, kami berkunjung ke Fujiko F. Fujio Museum. Mungkin bagi para pecinta kartun animasi Doraemon, akan puas melihat museum ini. Terlebih lagi jika mengidamkan sang creator. Di museum tersebut banyak kisah awal mula terbentuknya Doraemon hingga souvenir lucu yang bisa menguras dompet. Sebelum ke museum, kami berjalan-jalan di sekitar shinjuku dan takeshita street (harajuku). Makan siang kami saat itu tendon. Bagi kalian yang tidak terlalu suka makanan Jepang, baik mentah, atau halal tidaknya, tendon pilihan yang tepat dan harganya juga pas di kantong. Tendon yaitu nasi yang di atasnya ada tempura (seafood, chicken, vegetable) lalu disirami soyu, enak!. Untuk harajuku sendiri kami mencuci mata dengan kumpulan sneakers yang ada di atmos dan lainnya. Selain itu, harajuku bisa menjadi tempat yang pas untuk berfoto.

Processed with VSCO with p5 preset
Photo by ShintriaM

Hari selanjutnya saya menghadiri wisuda di Yokosuka. Saat itu pertama kalinya saya berangkat sendiri dari Gotanda menuju Yokosuka dengan train. Modal google maps dan keberanian, asal ikut petunjuk google maps dan papan yang ada di stasiun, pasti sampai. Papan petunjuk yang ada di stasiun sudah cukup jelas kok, jadi tidak perlu khawatir. Pulang dari Yokosuka pun saya naik bus menuju stasiun dan lanjut naik kereta ke Gotanda untuk kembali bertemu dengan teman. Kami kembali menghabiskan malam di Shibuya, karena itu merupakan malam terakhir sahabat saya di Jepang sebelum kembali ke Indonesia. Seperti biasa untuk para wisatawan, Don Quijote (Donkihote) menjadi toko favorit untuk membeli oleh-oleh.

Processed with VSCO with c1 preset
Photo by ShintriaM

Saat sahabat saya kembali pulang ke Indonesia, menikmati hari-hari yang singkat di Jepang bersama dirinya merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Sementara itu saya kembali menghabiskan sisa waktu di Tokyo yang masih cukup panjang. Saya pindah ke apartment dekat dengan Tokyo Tower persisnya di Minato-ku. Cukup dengan jalan sedikit menuju halte bus, langsung naik menuju Tokyo Tower. Cuaca yang dingin tidak menyurutkan saya untuk menelusuri Tokyo, serta menikmati sore hari di Andpeople Cafe. Terletak di Harajuku, Andpeople mempunyai desain ruang yang unik. Kalian akan ditemani oleh secangkir matcha soybean latte dan kelambu, romantis! Tidak ketinggalan saya juga mengunjungi Cafe Kitsune di kawasan Omotesando. Cafe yang kecil namun tempatnya cocok untuk sekedar menikmati kopi sambil ngobrol. Jangan lupa untuk merasakan enaknya waffle matcha di Noa Cafe, Harajuku.

Processed with VSCO with p5 preset
Photo by ShintriaM

Tempat wisata lainnya saya kembali mengunjungi  Kuil Sensoji di Asakusa untuk kedua kalinya untuk membeli oleh-oleh. Tidak jauh dari Kuil Sensoji di Asakusa, saya berjalan untuk mengunjungi Meiji Shrine. Saya disambut dengan pepohonan yang rimbun, terlebih lagi saat itu udara sedang dingin. Sebelum kembali ke Indonesia, saya bersama teman yang tinggal di Tokyo menghabiskan malam di Shinjuku untuk semangkuk ramen Menya Kaijin. Dilanjutkan mengobrol cantik di Starbucks, Yokohama. Dulu, Yokohama mungkin hanya menjadi mimpi, tapi saat melihatnya secara langsung malam itu membuat saya tercengang tidak percaya. Perjalanan saya berakhir di Aqua City, Odaiba untuk menghadiri undangan makan siang dari kerabat dekat. Menyenangkan sekali bisa berkunjung kedua kalinya ke Jepang. Masih banyak tempat yang belum saya kunjungi, semoga diberikan kesempatan lagi.

Untuk itinerary bisa tanya ke saya langsung ya, dengan senang hati akan saya beri tahu cara aman untuk akomodasi kalian selama di Jepang 😉 Serta cara-cara membaca google maps dan jadwal kereta.