Japan Trip With My Best

Processed with VSCO with p5 preset
Photo by ShintriaM

Hai, kali ini saya akan berbagi cerita mengenai perjalanan kedua ke Jepang. Sebelumnya pada tahun 2015, saya berkesempatan mencicipi Jepang selama 5 hari. Setelah akhirnya pada tahun 2016 tepat bulan Maret, saya kembali mengunjungi Jepang dengan waktu yang cukup lama yaitu 10 hari (seru!). Perjalanan kali ini mengesankan karena banyak cerita seru yang tidak akan terlupakan. Bahkan tanpa disangka-sangka saya bisa kembali mengunjungi Jepang bersama dengan sahabat sejak SMP.

Saat itu saya berencana menghadiri wisuda di salah satu Universitas di Yokosuka, Jepang. Wisuda dilaksanakan pada 21 Maret 2016, saya memutuskan untuk berangkat pada tanggal 18 Maret dengan maskapai Cathay Pacific. Sebelumnya saya pikir akan berangkat dan menghabiskan waktu sendiri selama di Jepang hingga graduation tiba. Rasa khawatir tentu ada karena saat berangkat tentu harus transit di Hong Kong yang saya pribadi belum ada pengalaman untuk melancong ke luar negeri sendiri. Syukur lah, sahabat saya secara mendadak dan nekat bersedia menjadi teman perjalanan saya. Secara cepat dan tanggap ia langsung membeli tiket dengan waktu yang sama dengan saya, berikut visa. Kebetulan ia juga ingin merayakan ulang tahun di Disney Land Tokyo sekaligus berkunjung ke Fujiko F. Fujio Museum.

Yup, tiba di hari yang ditunggu saya sampai lebih dulu di bandara Soekarno-Hatta pada pukul 06.30 Pagi. Saat itu hari Jumat, saya berangkat lebih awal karena takut jalan macet. Ternyata benar sekali, sahabat saya sampai dengan waktu hanya beberapa menit lagi counter check-in ditutup. Alhasil, kami harus berlari agar tepat waktu sampai di gate. Karena, untuk penerbangan International sendiri butuh waktu yang panjang hingga melewati security check dan imigrasi. Tepat pukul 08.30 Pagi pesawat kami berangkat menuju Hong Kong dan berlanjut ke Tokyo (NRT). Perjalanan ditempuh selama 9h 45m, 1 transit. Cukup membosankan tapi seru sekali, karena sama sekali tidak pernah terbayangkan bisa ke Jepang bareng sahabat sejak SMP. FYI, kami tidak pernah merencanakan lho.

Yay! akhirnya sampai di bandara Narita, Tokyo pada 20.15 Malam. Jetlag sudah pasti! Saat tiba saya terjebak di imigrasi karena lupa dengan alamat apartment yang sudah kami booked via Airbnb. Sang petugas imigrasi menanyakan dengan detail siapa pemilik apartemen lain sebagainya, tapi semua bisa teratasi saat petugas tahu bahwa kami berdua dan tidak sendiri hehe. Sampai di Tokyo seperti biasa kartu Indonesia belum bisa dipakai, karena saya mengandalkan wifi yang ada di bandara. Namun entah kenapa saat itu wifi bandara Narita tidak bisa digunakan. Kami yang sudah cukup kelelahan bingung untuk melihat jadwal kereta yang harus menggunakan jaringan internet. Sahabat saya mengaktifkan kartu Indonesia dengan biaya yang cukup mahal. Kami cukup tertolong selama beberapa saat walaupun koneksi tidak lancar.

Pertama yang kami lakukan saat sampai bandara yaitu mencari jadwal kereta melalui google maps. Selanjutnya kami membuat Pasmo untuk naik kereta, biar lucu bikin pakai nama ya hehe jadi bisa disimpan sebagai kenang-kenangan. Kami isi saldo pasmo 10.000 yen atau setara dengan 1 Juta Rupiah. Dengan saldo tersebut, kalian bisa kemana pun tapi pilih perjalanan yang sesuai. Google maps sendiri akan memberi tahu jumlah biaya yang dikeluarkan saat naik kereta di Jepang sesuai tujuan kalian.

Jepang sendiri tidak diragukan lagi ketepatan waktunya, jika kereta dikatakan sampai di eki (stasiun) 5 menit lagi, maka kereta benar-benar akan sampai dalam waktu 5 menit tidak lebih tidak juga kurang, salut!. Jadi, saya tidak perlu takut untuk terlambat sampai tempat tujuan. Okay, lanjut.. kami janji bertemu dengan teman kami di salah stasiun *lupa namanya*. Saat itu kami belum tahu mana kereta lokal dan JR, sehingga menghabiskan banyak waktu karena rute kereta yang lebih panjang. Setelah bertemu dengan teman kami, perjalanan dilanjutkan ke Gotanda-Eki karena apartment kami berada di kawasan Gotanda. Kami berjalanan cukup jauh dengan membawa koper besar dan memutuskan untuk naik taksi karena hujan turun cukup lebat saat itu.

Processed with VSCO with p5 preset
Photo by ShintriaM

Sampai di apartment yang cukup untuk kami bertiga hehe. Untuk ruangan di Jepang sendiri terbilang sangat efektif. Semua ruangan terpakai walaupun kecil. Mereka tidak membuang banyak ruangan, semua ruangan dibuat berdasarkan fungsi. Saat bersama sahabat saya, kami menyewa apartment yang langsung dengan kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Kisaran harganya cukup murah jika kalian ke Jepang bersama keluarga atau dengan banyak orang, karena bisa patungan. Malam pertama, kami memutuskan untuk istirahat di apartment, makan rendang dengan nasi yang dibeli di Family Mart :’). Oia, kalau sewa apartment fasilitas yang didapat cukup banyak salah satunya wifi portable hehe jadi kalian ngga perlu khawatir telat update social media :p

Hari kedua, kami berkunjung ke Disney Land Tokyo. Yeay! That was my second time to visited The Happiest Place On Earth! so happy!. Sebelumnya kedua teman saya pergi duluan ke Disney Land, saya memutuskan untuk bertemu dengan seseorang di Muji Cafe masih kawasan Gotanda setelah akhirnya menyusul kedua teman saya. Dua kali saya berkunjung ke Disney Land dengan orang-orang spesial dalam hidup. Kami menghabiskan banyak wkatu saat itu di Disney Land sampai parade malam dan kembang api berakhir pukul 21.00. Saat itu sudah memasuki spring namun masih sangat dingin sekitar 9 – 10°C. Saya membawa beberapa baju hangat, tapi yang paling bisa menahan dingin hanya satu. Jadi, jangan heran jika di foto saya sama semua, tapi saya ganti baju kok hanya coat yang sama. Setelah menikmati Disney Land, kami memutuskan melewati malam minggu di Shibuya. Perut yang sudah sangat lapar membawa kami menyantap hidangan sate khas Jepang yaitu Yakitori. Selain murah meriah, yakitori di Jepang itu rasanya beda.. mungkin juga karena suasana ya.

Processed with VSCO with p5 preset
Photo by ShintriaM

Keesokan harinya, kami berkunjung ke Fujiko F. Fujio Museum. Mungkin bagi para pecinta kartun animasi Doraemon, akan puas melihat museum ini. Terlebih lagi jika mengidamkan sang creator. Di museum tersebut banyak kisah awal mula terbentuknya Doraemon hingga souvenir lucu yang bisa menguras dompet. Sebelum ke museum, kami berjalan-jalan di sekitar shinjuku dan takeshita street (harajuku). Makan siang kami saat itu tendon. Bagi kalian yang tidak terlalu suka makanan Jepang, baik mentah, atau halal tidaknya, tendon pilihan yang tepat dan harganya juga pas di kantong. Tendon yaitu nasi yang di atasnya ada tempura (seafood, chicken, vegetable) lalu disirami soyu, enak!. Untuk harajuku sendiri kami mencuci mata dengan kumpulan sneakers yang ada di atmos dan lainnya. Selain itu, harajuku bisa menjadi tempat yang pas untuk berfoto.

Processed with VSCO with p5 preset
Photo by ShintriaM

Hari selanjutnya saya menghadiri wisuda di Yokosuka. Saat itu pertama kalinya saya berangkat sendiri dari Gotanda menuju Yokosuka dengan train. Modal google maps dan keberanian, asal ikut petunjuk google maps dan papan yang ada di stasiun, pasti sampai. Papan petunjuk yang ada di stasiun sudah cukup jelas kok, jadi tidak perlu khawatir. Pulang dari Yokosuka pun saya naik bus menuju stasiun dan lanjut naik kereta ke Gotanda untuk kembali bertemu dengan teman. Kami kembali menghabiskan malam di Shibuya, karena itu merupakan malam terakhir sahabat saya di Jepang sebelum kembali ke Indonesia. Seperti biasa untuk para wisatawan, Don Quijote (Donkihote) menjadi toko favorit untuk membeli oleh-oleh.

Processed with VSCO with c1 preset
Photo by ShintriaM

Saat sahabat saya kembali pulang ke Indonesia, menikmati hari-hari yang singkat di Jepang bersama dirinya merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Sementara itu saya kembali menghabiskan sisa waktu di Tokyo yang masih cukup panjang. Saya pindah ke apartment dekat dengan Tokyo Tower persisnya di Minato-ku. Cukup dengan jalan sedikit menuju halte bus, langsung naik menuju Tokyo Tower. Cuaca yang dingin tidak menyurutkan saya untuk menelusuri Tokyo, serta menikmati sore hari di Andpeople Cafe. Terletak di Harajuku, Andpeople mempunyai desain ruang yang unik. Kalian akan ditemani oleh secangkir matcha soybean latte dan kelambu, romantis! Tidak ketinggalan saya juga mengunjungi Cafe Kitsune di kawasan Omotesando. Cafe yang kecil namun tempatnya cocok untuk sekedar menikmati kopi sambil ngobrol. Jangan lupa untuk merasakan enaknya waffle matcha di Noa Cafe, Harajuku.

Processed with VSCO with p5 preset
Photo by ShintriaM

Tempat wisata lainnya saya kembali mengunjungi  Kuil Sensoji di Asakusa untuk kedua kalinya untuk membeli oleh-oleh. Tidak jauh dari Kuil Sensoji di Asakusa, saya berjalan untuk mengunjungi Meiji Shrine. Saya disambut dengan pepohonan yang rimbun, terlebih lagi saat itu udara sedang dingin. Sebelum kembali ke Indonesia, saya bersama teman yang tinggal di Tokyo menghabiskan malam di Shinjuku untuk semangkuk ramen Menya Kaijin. Dilanjutkan mengobrol cantik di Starbucks, Yokohama. Dulu, Yokohama mungkin hanya menjadi mimpi, tapi saat melihatnya secara langsung malam itu membuat saya tercengang tidak percaya. Perjalanan saya berakhir di Aqua City, Odaiba untuk menghadiri undangan makan siang dari kerabat dekat. Menyenangkan sekali bisa berkunjung kedua kalinya ke Jepang. Masih banyak tempat yang belum saya kunjungi, semoga diberikan kesempatan lagi.

Untuk itinerary bisa tanya ke saya langsung ya, dengan senang hati akan saya beri tahu cara aman untuk akomodasi kalian selama di Jepang 😉 Serta cara-cara membaca google maps dan jadwal kereta.

 

 

Advertisements

Japan Short Trip

Akhirnya, setelah hampir 2 tahun ingin ke Jepang. Alhamdulillah, Allah mengabulkan, mengizinkan, dan meridhoi. Hal ini tidak akan pernah saya lupakan selama saya hidup di dunia. Penantian ingin ke Jepang, hampir musnah ketika saya melihat akomodasi ke sana cukup mahal. Tapi, tanpa disangka Allah memang selalu punya kejutan yang sangat indah.

2 tahun yang lalu, saya, Shintria, mempunyai keinginan untuk pergi ke Jepang. Yup!, saya rasa bukan hanya saya, tapi seluruh manusia di muka bumi ini juga ingin sekedar mampir ke negeri sakura tersebut. Keinginan saya hampir saja sirna ketika melihat biaya tiket tujuan ke Jepang amat sangat mahal. Belum lagi biaya hidup di sana yang saya dengar-dengar untuk makan satu hari bisa mencapai 1 juta Rupiah. Sampai pada akhirnya, tekad untuk menabung pun terkalahkan oleh beberapa hal yang dibilang tidak penting. Alhasil, saya lupakan Jepang.

  Perubahan dalam diri saya pada akhirnya membawa hasil. Terbilang cukup mengejutkan bahwa doa-doa saya kepada Allah, satu persatu terkabul. Alhamdulillah, pada bulan Oktober tahun lalu, teman dekat saya mengenalkan saya kepada salah seorang kerabat di sana (Jepang). Dengan berbagai pertimbangan, saya mulai untuk membicarakan Jepang sebagai topik utama pembicaraan dengannya. Tanpa terasa, perkenalan kami semakin dalam. Oh, tidak… tidak… ini bukan tentang saya atau dia hehe. Kisah tentang saya dan dia Insya Allah akan saya bagi di sini setelah kami diizinkan Allah untuk sampai di tahap yang lebih jauh. Kami mohon doa dan restunya. Baiklah, mari lanjutkan kisah saya yang akhirnya bisa ke Jepang.

Tepat pada bulan Maret tahun 2015, saya memutuskan untuk nekad ke Jepang dengan modal tiket promo dari salah satu maskapai. Namun saya harus nerulang kali berfikir jika saya berangkat sendiri dengan jarak penerbangan yang cukup jauh, belum lagi harus transit di Malaysia. Pada akhirnya, saya yang saat itu masih berstatus fresh graduated alias baru lulus hehe meminta izin pada Ayahanda. Namun, dengan berbagai alasan Ayah saya tidak mengizinkan. Salah satu alasannya adalah kekhawatiran. Saya tidak berani melawan kehendak Ayah, saya tidak ingin tanpa izin dan restunya. Akhirnya, saya mengikuti kemauan Ayah dengan harapan pasti akan ada saatnya saya ke Jepang.

Hari demi hari berlalu, setiap hari saya hanya berdoa kepada Allah tentang segalanya. Saya hanya memohon kepadanya untuk kesehatan kedua Orang Tua dan kasih sayang mereka kepada saya. Setiap hari saya melihat banyak orang-orang yang dengan bahagianya berfoto di Jepang, baik di jalan raya, kereta, ataupun di tengah keramaian Shibuya. Jujur, saya tidak tahu tempat mana saja yang menjadi tujuan wisata di Jepang. Entah mengapa saya ingin sekali ke Jepang, setidaknya ke Disneyland menikmati sore di belahan negara lain.

Waktu yang terus berjalan tidak pernah memberhentikan saya untuk terus berdoa, bertawakal dan berusaha. Saya yang masih ingin menikmati hidup setelah lulus kuliah, memutuskan untuk mengambil program internship sekedar menambah uang jajan. Itung-itung saya belajar sedikit demi sedikit untuk tidak menyusahkan orang tua saya secara materi. Sampai pada akhirnya, salah satu maskapai menawarkan promo penerbangan ke Haneda dengan biaya penerbangan pulang pergi sebesar 7juta Rupiah. Bayangkan, ke Jepang hanya 7 juta Rupiah, pulang pergi lho. Bagaimana saya tidak tergiur. Saya kembali berusaha meminta izin kepada Ayah.

Tepat setelah saya selesai solat maghrib, Ayah saya menelfon dari tempat beliau bekerja. Tapi sayangnya 3 kali beliau menelfon saya tidak sempat mengangkatnya. Saya meninggalkan pesan singkat kepada beliau. Alhamdulillah, akhirnya beliau menelfon saya kembali. Momen ini lah yang membuat saya terharu dan sungguh tidak menyangka. Berikut yang beliau sampaikan di telfon kepada saya.

“Satu kali ditelfon engga diangkat, dua kali ditelfon nggak diangkat juga, tiga kali ditelfon masih nggak diangkat, yasudah nggak usah jadi saja ke Jepangnya”

Sontak saya kaget tapi masih belum terlalu yakin. Kalimat tersebut seakan memberikan saya harapan bahwa anak terakhirnya ini bisa pergi ke Jepang atas izinnya. Beliau menyuruh saya untuk kembali memastikan bagaimana nanti hidup saya di Jepang, lalu makannya, hingga biaya pesawat. Setelah semua pasti dan beres, teman dekat saya memberi tahu saya bahwa Garuda Indonesia memberikan promo ke Haneda pulang pergi sekitar 7 juta Rupiah. Harga yang ditawarkan memang sama dengan maskapai yang sebelumnya, namun siapa yang tidak ingin pergi ke luar negeri dengan menaiki Garuda Indonesia. Alhamdulillah, akhirnya saya kirimkan berita tersebut kepada Ayah saya. Tidak lama kemudian Ayah menelfon, dan kalimat ini lah yang membuat saya sangat terharu.

“Shin…sabar ya untuk ke Jepangnya”

“Iya pa…nggak apa-apa…santai saja”

“Baguslah kalau begitu, jadi Papa tidak perlu buru-buru”

Kenapa saya terharu? 22 Tahun saya menjadi anak beliau, ternyata begitu berusaha kerasnya beliau mewujudkan mimpi bahkan keinginan saya untuk ke Jepang (terimakasih ya Allah). Sejenak saya meneteskan air mata, saya tidak menyangka bahwa pada akhirnya beliau mengizinkan saya untuk pergi ke Jepang.

Akhirnya, pada tanggal 1 Mei 2015, saya dan Ibu berangkat ke Jepang pada pukul 23.45. Kami berdua sampai hari ini masih tidak menyangka, seperti mimpi. Saya dan ibu memutuskan hanya 4 hari berlibur ke Jepang. Jangankan 4 hari, jika saya hanya diizinkan 2 hari saja sudah Alhamdulillah dan sangat bersyukur. Alhamdulillah, Allah mengirimkan rizkinya kepada kedua orang tua saya. Yang Maha Kuasa selalu punya kejutan yang lebih indah. Setelah segalanya yang saya pikir keinginan ke Jepang akan sirna, ternyata tidak…

Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah.. terimakasih Papa…terimakasih mama… segalanya tidak akan pernah saya lupakan, ini akan menjadi kisah yang pasti diceritakan kepada anak-anak saya kelak. Semoga, papa dan mama selalu sehat, dalam lindungan-Nya, Amin Allahuma Amin.

Mungkin, sebagian orang menganggap kisah pribadi saya ini berlebihan, tapi percaya lah, sekecil apapun yang Orang Tua berikan kepada mu tentu akan menjadi hal yang sangat mengharukan sekaligus membahagiakan dalam hidup.

Oia, untuk kisah perjalanan saya selama di Jepang ditunggu saja ya…hehe…

Family Short Trip

Baru saja saya kembali sehabis liburan dengan keluarga. Ya, ini merupakan liburan singkat yang kesekian kali nya dengan keluarga. Seperti biasa mereka selalu pergi tanpa sebuah rencana yang akhirnya diputuskan dengan aku berangkat lewat jalur udara dan keluarga dengan jalur darat. Perjalanan yang mereka tempuh sekitar 1 hari lama nya karena mereka menginap di Purwokerto dan selanjut nya melanjuti perjalanan ke Yogyakarta. Lagi-lagi Yogya, kenapa Yogya? karena masih ada satu tempat yang membuat saya cukup penasaran. 

Setiap kali saya berkunjung ke Jogja, selalu saja saya ditanyakan mengenai apakah saya sudah pernah ke Museum Ullen Sentalu. Ullen Sentalu adalah museum yang berada di Daerah Besar Istimewa Yogyakarta, berada di kaki gunung merapi museum ini mempunyai sesuatu yang sangat istimewa. Setelah mencari letak museum Ullen Sentalu akhirnya saya tiba bersama keluarga saya. Saya membeli tiket masuk dan berkunjung hanya 25.000 Rupiah, bayangkan dengan harga semurah itu saya dapat berbagai macam pengetahuan tentang Budaya Jawa. 

Sebelum masuk saya harus menunggu selama -/+ 15 menit untuk menunggu pemandu, karena setiap rombongan yang datang harus dipandu. Museum ini tidak mempersilakan pengunjung nya untuk mengambil gambar dalam museum yang sampai sekarang saya pun tidak tahu alasan nya. Mungkin karena banyak barang pusaka bekas peninggalan sekaligus ingin melestarikan budaya. 

15 menit sudah saya dan keluarga menunggu hingga akhirnya sang pemandu datang dan mempersilahkan saya masuk. Sebelum nya kami diberikan arahan tentang isi museum Ullen Sentalu dimana di dalam nya terbagi beberapa ruangan yang saya ingat ruangan yang berada di lorong bawah tanah dan di atas yang masing masing mempunyai makna yang berbeda. Saat masuk ke ruangan yang pertama dimana saya disambut dengan arca dan dilanjutkan dengan berbagai jenis tarian yang ada di Jawa khusus nya jawa tengah. Yang saya ingat bahwa setiap puteri dari Raja harus  bisa menari bahkan menciptkana satu tarian. Sebelum nya saya dijelaskan tentang arti dari Ullen Sentalu Sendiri yang artinya ULating bLencong SEjatine TAtaraning LElaku, dimana museum ini dapat menjadi penerang bagi masyarakat tentang seni dan budaya Jawa. 

Setelah itu saya diperkenalkan oleh Kasultanan Yogya, Paku Alaman Yogya, Kasultanan Solo, dan Mangkunegara Solo. Museum ini memiliki peninggalan sejarah yang salah satunya adalah foto dan lukisan sehingga saya dapat dengan jelas mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalam budaya Jawa. Tidak hanya itu, di dalam museum Ullen Sentalu juga memperkenalkan berbagai macam batik bsereta artinya. 

Saya sangat puas dan menjadi lebih tahu tentang budaya jawa beserta seni nya. Yang saya tangkap dan memukau diri saya adalah bahwa setiap aksen kecil yang ada pada Budaya Jawa selalu mempunyai arti dan menyangkut dengan kehidupan. Budaya Jawa sendiri mengajarkan untuk tetap bijaksana dalam hidup. Selain itu arca Dewi Sri yang juga sebagai simbol kesuburan. Sayangnya saya tidak mencatat banyak karena sang pemandu cukup cepat dalam menjelaskan, tapi banyak juga yang saya tangkap dari penjelasan nya mengenai Budaya dan Seni Jawa. 

Pesona Keindahan Tanjung Lesung Bay Resort and Villa

Tanjung Lesung merupakan suatu tempat yang menyimpan pesona keindahan pantai yang tak kalah indahnya dari pantai-pantai lain di Jawa barat. Berada di Banten yang menempuh perjalanan sekitar 5 jam lama nya. Gue memulai perjalanan dari jam 11 malam itu pada malam hari karena takut kena macet di daerah Anyer pada saat musim libur lebaran. Rute perjalanan nya dari tol Jakarta keluar di tol Merak dan ternyata itu muter hehe maklum kan baru tahu, ternyata ada jalan yang lebih deket yaitu lewat tol Jakarta dan keluar di tol Serang, lalu melewati Pandeglang dan nanti bisa lanjut bertanya ke penduduk sekitar harus kemana selanjut nya kalian berjalan untuk sampai di Tanjung Lesung. Sebelum nya gue coba untuk browsing tentang bagaimana Tanjung Lesung dan dimana tempat untuk menginap. Akhirnya ketemu nih gue bisa menginap di Tanjung Lesung Bay Resort and Villa. Saat itu rate nya masih mahal karena masih masuk harga libur lebaran tapi kalo bukan libur lebaran bisa jauh lebih murah dan tempat nya worth it banget yakin enggak akan nyesel. Fasilitas yang ditawarkan lengkap dan keren lah pokoknya. Enggak usah khawatir untuk yang lebih ekonomis nya, disana ada home stay yang saat itu gue bermalam sebelum ke villa dikenakan biaya 300ribu /kamar dan semalam (harga waktu libur lebaran) coba kalau bukan libur lebaran bisa lebih murah dari itu pasti. Perjalanan masuk ke villa and resort nya tuh feels like at africa or california dengan pohon-pohon yang mendukung suasana summer disana.

Image

Sampai di Tanjung Lesung nya sendiri yaitu pukul 2 pagi, cari-cari resort yang udah di booking kok nggak ada ya. Ternyata beberapa resort itu dijadikan satu wilayah seperti perumahan dengan beberapa kavling yang kavling nya itu resort yang tersedia. Resort dan villa yang tersedia bermacam-macam rate nya dan berbagai macam fasilitas yang disediakan. Yang lebih menarik nya, di tanjung lesung ini disediakan camping ground dengan berbagai macam harga dan paket yang disediakan.

ImageImage

Image

Dari kota ke Tanjung Lesung resort and villa ini jauh banget jadi disaranin buat bawa roti, susu, atau cemilan lain nya deh karena disekitar sana susah banget buat cari makan dan sekali nya ada lumayan mahal juga karena kawasan ini jauh dari kota. Suasana pantai nya masih terbilang bersih dan terawat, cuma ada coral yang ngebuat kita harus hati-hati waktu bermain di pantai nya. Air laut yang masih jernih ngebuat gue gemes pengen nyebur pas liat kejernihan nya dari atas dermaga yang ada di dalam kawasan villa and resort tersebut. Menarik kan? tunggu apa lagi, segera rencanakan liburan kalian ke pantai yang berada di daerah Banten ini.

Above The Sky

I BELIEVE I CAN FLY

Lyric di atas merupakan kepercayaan saya ketika saya bisa terbang dan melayang dengan paralayang. Liburan bersama keluarga merupakan kesempatan untuk mencoba olahraga yang mengandalkan angin ini. Di awali dengan menaiki beberapa tanjakan dan anak tangga untuk sampai ke puncak nya untuk perlahan loncat lalu terbang. Saya terbang bersama instruktur yang sudah hampir bertahun tahun terbang dengan paralayang. Tidak ada rasa takut sedikit pun untuk terbang karena memang saya ingin sekali terbang dan melihat keindahan alam dari atas, karena selama ini saya hanya mampu melihat dari pesawat dan itu cukup jauh hampir ribuan kaki di atas permukaan laut untuk melihat daratan.

Saat saya ingin terbang cuaca kurang baik, di awali dengan hujan di daerah Cibodas membuat saya kehilangan semangat. Sampai akhir nya paralayang menjadi jodoh saya dan tuhan pun mengizinkan saya untuk mencoba terbang bersama udara layak nya burung-burung. Yeay, akhirnya di daerah Gunung Emas Puncak hujan pun tidak turun namun angin tidak cukup baik. Tapi tak apa lah selama para instruktur masih bersedia menemani saya mengudara. Akhirnya sampai lah saya di Gunung Emas dan mulai dengan pengisian beberapa biodata serta persyaratan yang tersedia lalu membayar biaya administrasi sebesar 300 ribu rupiah. Mungkin memang terbilang mahal tapi sungguh terbayar dan tidak menyesal, karena setelah difikirkan ulang yang kita bayar tidak lah sebanding dengan harga perlengkapan dari paralayang.

Saya diberi nomer dan menunggu untuk dipanggil giliran untuk mengudara. Banyak para orang asing yang ikut terbang dari ketinggian dengan paralayang, ada yang dengan instruktur bahkan ada yang sedang belajar dan terbang secara pribadi. Akhirnya tibalah saya dipanggil, dipakaikan lah perlengkapan saya seperti helm dan parasut cadangan. Masih menunggu giliran setelah dipakaikan perlengkapan lalu bersiap terbang. Melihat beberapa orang yang sudah siap untuk terbang, wow sangat seru dan saya tidak sabar.

Tibalah giliran saya dipanggil, dipasangkan lah parasut dari paralayang yang sangat besar. Dikaitkan nya tali parasut pada parasut cadangan saya yang terhubung dengan instruktur. Lalu bersiap, lari perlahan, semakin lama semakin kencang, angin menarik parasut sehingga berat untuk berlari, dibantu oleh instruktur yang sudah puluha  tahun menggeluti olahraga ini. Siap…..lalu…. sang instruktur bilang “jangan loncat dulu, tunggu perintah saya”. Sudah berlari, sang instruktur berhasil menarik parasut dari paralayang tersebut dan ya tibalah di ujung pangkal landasan dan….. terbang… wohooooooo…….. Tidak terlalu lama karena keadaan cuaca yang kurang mendukung, sekitar 30 menit saya mengudara melihat hijau nya daratan dari ketinggian, menghirup udara kebebasan layak nya burung. Dan akhirnya saya tahu bagaimana nikmat nya menjadi burung yang dapat terbang bebas dan berkicau karena keriangan nya. Walaupun pada akhir nya saya harus mendarat dan menginjakan kaki kembali di daratan, kembali sang instruktur berkata “Jangan tekuk kaki nya tapi direntangin aja kalo udah mau mendarat biar saya yang jatuhkan kaki saya duluan”. Baiklah saya menurut daripada terjadi yang tidak-tidak. Pada saat mengudara saya sempat berbincang dengan sang instruktur, ia mempunyai sekolah paralayang sendiri yang berada di Puncak Bogor, Jawa Barat. Sungguh istilah kata “NAGIH!” ketagihan hehe, kapan-kapan saya harus mencoba lagi, lagi dan lagi. Pesan saya jangan lupa bawa lah kamera pocket saat mengudara atau go pro dan pakailah headset mainkan playlist kalian. Saran sekali lagi kalau lebih enak play lah SIGUR ROS – VALTARI.

Selamat mencoba kawan-kawan.

Eh iya jangan lupa pakai sepatu hehe saya kemarin lupa pakai sepatu alhasil pinjem sepatu sendal kaka saya hoho jadi kurang nikmat.ImageImage