Terima Kasih Telah Memilih Ku

CAM19153
Photo @wongakbarphoto

Terima kasih,

Terima kasih telah memilih ku

Terima kasih telah memilih ku menjadi teman hidup mu

Perasaan haru campur bahagia kini sangat terasa

Terima kasih,

Terima kasih telah bersedia

Terima kasih telah bersedia menghabiskan waktu dengan ku

Tak terasa 2 tahun saling kenal, janji itu terucap dari mulut mu

Terima kasih,

Terima kasih akan sebuah pengorbanan

Terima kasih akan sebuah pengorbanan baik jarak dan waktu

Saling menguatkan tidak akan pernah berhenti

Tak akan pernah berhenti, tidak akan pernah berhenti untuk saling bercengkerama

Tak akan pernah berhenti, tidak akan pernah berhenti untuk saling mendoakan

Terima kasih,

Terima kasih telah memilih ku

Terima kasih telah memilih ku menjadi istri mu

Menjadi ibu dari anak-anak mu, kelak

Love,

Shintria M

 

Advertisements

Dia, Pria Dari Kejauhan

AIK_7311
Photo @wongkabraphoto

Akhirnya bisa memulai untuk berbagi kisah ini.

Alhamdulillah, tidak ada kata yang pantas selain mengucap syukur. Atas segala anugerah, nikmat, dan rizki yang Allah SWT titipkan kepada saya. Tidak menyangka, jelas tidak pernah ada sama sekali akan jadi seperti ini. Memang, untuk sebuah perubahan atas dasar niat yang baik hasilnya pun juga akan baik. Ya, Allah SWT itu memang sangat adil.

Dimulai pada tahun 2014, tepatnya 3 bulan sebelum akhir tahun. Secara tiba-tiba, terlintas di benak sahabat untuk memperkenalkan saya pada seorang pria. Saat itu jarak kami terlampau jauh, dia di Jepang dan saya di Indonesia. Saat itu, sahabat saya memperkenalkan melalui aplikasi chat. Tanpa menunggu lama, pria yang kini telah menjadi suami saya menyapa, memperkenalkan diri. Awalnya saya merasa tidak percaya diri, karena apa lah artinya saya yang hanya seorang mahasiswa dari universitas swasta di daerah Jakarta Selatan. Jika bicara tentang pintar atau tidaknya, tentu masih di bawah rata-rata. Saya berpikir, bahwa pria ini punya otak yang pintar dan karir yang cemerlang, tidak seimbang dengan latar belakang saya. Namun, semua berjalan begitu saja. Jika ditanya apakah ini sebuah kebetulan, tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Diantara rasa tidak percaya diri, saya menyimpan semua sendiri. Sejak saat itu saya percaya, bahwa doa dan ridho orang tua adalah kekuatan paling berharga. Saya tidak mengenalkan ia pada orang tua, saya tidak bercerita. Namun, ia sendiri yang memperkenalkan diri, mohon izin untuk berkenalan dengan saya walaupun melalui telfon. Sungguh membuat hati meleleh ya, bisa saja memang cara pria ini mengambil hati orang tua saya.

Hubungan kami tidak serta merta berjalan dengan lancar, tentu ada pasang surutnya (air laut kali ya). Paling saya ingat, ia pernah membuat saya terbang tinggi melayang, lalu menjatuhkan saya kembali (sakit loh jatuh tuh..). Padahal, cuma pengen bilang suka aja, pakai segala nyakitin hati orang ( penulis masih kesel, kesel kesel gemes gimana gitu). Tapi, balik lagi coba untuk saling jujur sama diri sendiri. Saya sebagai wanita menghindari gengsi, salah seorang sahabat saya yang juga pria pernah berkata “udah deh buang gengsi jauh-jauh”. Berkat kalimat tersebut, super sekali saya merasa memiliki hak untuk mengatakan bahwa saya mempunyai rasa yang sama. Akhirnya, hubungan kami kembali baik bahkan lebih indah.

Syukurlah kami hidup di era komunikasi yang sangat canggih. Mungkin akan semakin menantang jika masih lewat surat menyurat. Padahal belum bertemu, tapi kok ada rasa yang tak biasa, lemas, senyum-senyum sendiri. Nunggu kabar dia sampai selesai jam kuliahnya, telfon setiap malam minggu, perbedaan waktu dua jam yang terasa sama. Selain itu, namanya kasmaran buat pagi terasa jauh lebih indah dari biasanya. Saya benar-benar engga pakai dandan dulu kalau mau video call, ya biarin sih agar dia lihat saya yang sebenarnya. Masa-masa yang indah walaupun jarak yang sangat jauh.

Ingat sekali saat itu, dia mengirimkan banyak kejutan. Salah satunya berupa bunga sehabis saya menyelesaikan sidang skripsi. Bahkan dia sering secara diam-diam mengirimkan sebuah semangat meski hanya berupa kata-kata. Semua yang dilakukan, membuat kami lupa akan jarak yang jauh.

Saya yang menyukai segala hal tentang Jepang, topik itu lah yang menjadi awal pembicaraan kami. Tidak, kesukaan saya pada Jepang bukan serta merta untuk alasan mendekati dirinya. Seperti yang sudah dijelaskan di awal, bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Hingga akhirnya, Allah SWT memberikan saya rizki untuk bisa mengunjungi negeri sakura. Sungguh dua hal yang tidak pernah terbayangkan saat itu, semua serba mengejutkan. Itu pula yang menjadi awal pertemuan saya dengan dia. Ya, awal pertemuan kami bersama dengan Ibu saya. Meskipun terbilang merupakan awal sebuah pertemuan, tidak ada rasa canggung antara kami berdua. Semua sepeti biasa saja, seperti sudah berkenalan lama sebelumnya.

Memang sejak awal kami kenal, saya punya komitmen untuk menyatakan bahwa keinginan untuk menikah. Hal tersebut saya pikirkan karena orang tua, saya ingin melihat orang tua saya ada mendampingi di pelaminan. Dengan begitu, ia pun berani ikut bersama untuk menjalankan komitmen ini. Ya, kami memang berkomitmen menjalankan hubungan untuk pernikahan dan membangun keluarga kecil yang bahagia.

Kami menjalani Long Distance Relationship sejak awal berkenalan, 8 bulan sejak bulan Oktober higga Mei, Mei hingga Agustus 2015, Agustus hingga Maret 2016. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga ditugaskan di kota lain meski sudah di Indonesia. Tentu, dari kisah kami menjalani hubungan jarak jauh ada rasa manis, asam, hingga pahit. Beberapa orang beranggapan baik, tapi tidak jarang memberikan sugesti negatif kepada saya. Mudah saja, setiap ada berita negatif yang mengganggu langsung saya utarakan.

Mungkin ini yang namanya bisa karena terbiasa

Tidak perlu lama untuk memutuskan menikah, 2 tahun saling kenal dia yang telah berani mohon izin kepada Ayah saya untuk menikah dengan anak putrinya. Ternyata, selama ini pria yang berada di kejauhan sana telah rela menghabiskan waktu untuk menunggu saya. Telah rela, membuat lelah sebagian pikirannya untuk saya, berjuang bersama untuk tetap bertahan, dan saling mendoakan. Sungguh terharu jika kembali mengingatnya.

AIK_7626.JPG
Photo @wongakbarphoto

Baru setelah menikah, kami sadar bahwa jarak dan waktu yang telah dilalui cukup lama serta jauh. Baru kami menyadari, bahwa kami sekuat itu. Tidak sedikit orang bertanya, kok bisa? Ya bisa, ya gimana ya.. yakin saja.

Kami mempunyai banyak perbedaan, tapi yakin lah perbedaan itu yang ternyata menyatukan.

Masih tidak menyangka, kalau sekarang ia telah menjadi suami saya. Mengucap ijab Kabul pada wali nikah, dihadapan saksi dan lainnya. Benar deh ternyata laki-laki yang gagah itu berani menikahi seorang wanita pilihannya. Tapi, nggak hanya menikahkan setelah itu lepas tanggung jawab lho ya.

Di sini, saya mau mengucapkan terima kasih. Kepada Allah SWT, Ayah, Ibu, Keluarga dan para sahabat yang telah mendoakan dan mendukung kami hingga seperti ini. Khususnya, para sahabat yang tahu bagaimana kisah saya. Bagaimana pun yang telah lalu, biarlah berlalu. Saya, anda, kita pernah berada pada saat paling buruk dalam hidup. Hidup akan tetap dan terus berjalan, sebagai manusia hanya bisa bersyukur dan berubah menjadi lebih baik.

Kami mempunyai banyak perbedaan, tapi yakin lah perbedaan itu yang ternyata menyatukan.

Pesan saya, temukan pasangan yang disukai oleh orang tua. Karena ridho orang tua adalah ridho Allah SWT. Insyaa Allah semua hubungan dan segalanya akan berjalan dengan lancar. Selain itu, pasangan itu cermin dari diri kita. Jadi, perbaiki diri sendiri terlebih dahulu jika ingin mendapatkan pasangan yang sesuai dengan keinginan.

**

Terimakasih telah memilih saya sebagai teman hidup,

Terimakasih, telah memilih saya untuk menjalani hidup dengan sangat sederhana. Untuk kembali memulai semua dari awal, untuk belajar pelan-pelan hingga nantinya menjadi kedua orang tua yang utuh. Untuk sama-sama saling mengingatkan arti sebuah kesetiaan, makna dari sakinah, mawadah, warahmah.

 

Ketenangan

Alhamdulillah, masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk mencapai kemenangan di tahun 2017. Sebenarnya tidak ada yang berbeda dari tahun sebelumnya. Yap,sudah tidak asing bagi saya setiap Hari Raya Idul Fitri keluarga tidak bisa berkumpul secara lengkap. Mungkin bisa dikatakan jarang sekali terjadi. Tapi, tetap harus selalu bersyukur dong bahwa sebenarnya bukan berkumpulnya keluarga, namun lebih kepada doa kepada sesama.

Hari Raya Idul Fitri yang begitu indah, memiliki rasa yang kebersamaan yang kental. Saling memaafkan, mendoakan, ikhlas dan turut bersyukur menurut saya merupakan hikmah dari Hari Raya Idul Fitri. Begitu juga dengan rasa ini yang begitu dalam kepada Ayah dan Dia, mereka yang ikhlas jauh dari keluarga untuk melaksanakan tugas dan kewajiban.

Entah mengapa, bukan sebuah kebetulan (karena tidak ada kebetulan di kehidupan ini) saat menjelang lebaran, Ayah dan Dia sedang bertugas di kawasan yang sedang dalam penjagaan yang ketat. Keduanya sama-sama berada di lautan, kapal, perbatasan. Bahkan keduanya sempat tidak ada kabar dalam beberapa hari dikarenakan sinyal komunikasi yang tidak ada.

Keduanya sama-sama berada di lautan, kapal, perbatasan. Bahkan keduanya sempat tidak ada kabar dalam beberapa hari dikarenakan sinyal komunikasi yang tidak ada.

Jujur, saat itu saya merasa cemas dan membayangkan hal yang tidak-tidak (Naudzubillah Mindzalik). Bahkan saya merasakan rindu yang berlebihan. Tidak dapat dipungkiri kadang rindu itu bisa menguatkan namun juga melemahkan. Tapi, di saat saya mulai merasa lemah, saya kembali mengingat akan perjuangan Ibu saya.

Bertahun lamanya Ibu saya begitu tenang ditinggal tugas jauh oleh Ayah. Mungkin bisa dibilang sudah menjadi master of long distance relationship. Dari satu negara sampai kini harus berbeda negara. Bahkan Ibu saya bisa begitu tenang jika seharian pun tak ada kabar dari Ayah. Bagaimana Ibu saya bisa tenang? Oh, saya harus sadar akan kekuatan doa dan tawakal kepada Allah SWT. Bahwa Allah SWT adalah sebaik baiknya penolong juga pelindung. Lalu, tawakal dan terus berdoa agar Ayah diberikan kesehatan dan tak lepas dari perlindungan Allah SWT. Ketika hati ini ridha dan terus yakin (khusnudzan) kepada Allah SWT, percaya lah semua akan baik-baik saja. Saya salut dengan Ibu dan Ayah. Ya, bisa karena terbiasa merupakan ungkapan yang pas dalam kisah ini.

Oh, saya harus sadar akan kekuatan doa dan tawakal kepada Allah SWT. Bahwa Allah SWT adalah sebaik baiknya penolong juga pelindung. Lalu, tawakal dan terus berdoa agar Ayah diberikan kesehatan dan tak lepas dari perlindungan Allah SWT.

Tidak hanya Hari Raya Idul Fitri, namun tahun ini begitu banyak doa yang dipanjatkan. Setiap harinya, saya harus selalu bersyukur bahwa Dia akan selalu baik-baik saja, InshaAllah. Sekarang yang harus saya lalukan adalah berdoa, tawakal, dan mendukung agar Allah SWT memberikan ridha untuk kerja keras si Dia.

Tidak ada yang lebih menenangkan ketika muncul laporan bertuliskan “delivered” pada ponsel saya. Tidak ada yang lebih menenangkan ketika ada pesan bertuliskan “Alhamdulillah aku sudah merapat di dermaga”. Tidak ada yang lebih menenangkan ketika mendengar suara Dia walau tidak jelas, Tidak ada yang lebih menenangkan ketika saya tahu bahwa dia baik-baik saja. Tidak ada yang lebih menenangkan ketika saya tahu bahwa dia dalam keadaan sehat.

Untuk Dia yang sedang menjalankan tugasnya, selalu dalam lindungan Allah SWT. Semangat dalam berkerja dalam jalan yang baik dan jujur. Ketika merasa lelah, coba untuk mengingat keluarga yang sedang menunggu di sini, ya di sini. Jaga diri untuk tetap menjadi orang baik, saling mengasihi dan berbagi dengan ikhlas. Jangan lupa untuk selalu bersyukur, bahwa laut selalu mendukung Dia memberikan rezeki yang halal. Setiap matahari terbit dan terbenam, panjatkan doa bahwa itu merupakan salah satu bukti Allah SWT dekat untuk membuktikan kebesaranNya. 

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Taqaballahu Minna Wa Minkum.

Regards,

Shintria

Featured Image from flickr.com

Harapan di Angka 25

Wah, Alhamdulillah sudah menginjak usia 25 tahun sekarang. Segala puji bagi Allah SWT bahwa masih memberikan saya kesempatan untuk tetap hidup, sehat, dan bahagia. Tentu tidak ada hentinya untuk terus bersyukur atas segala yang ada dalam hidup ini. Ya, apa yang ada sekarang adalah milik Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya. Tapi, tidak ada salahnya untuk menikmati 🙂

Tentu, akan selalu ada pertanyaan “kok bisa sih?” dengan apa yang sudah saya lewati, jalani, dan didapatkan. Saya rasa tidak hanya saya saja ya yang selalu merasa tidak menyangka dengan hidup ini.

Jujur, 25 tahun merupakan angka yang saya tunggu. Menurut saya, 25 tahun merupakan usia paling bisa bikin deg-degan bagi sebagian wanita. Kenapa? yap, sebagian wanita termasuk saya menetapkan 25 tahun sebagai batas usia untuk menikah, introspeksi diri, dewasa, tanggung jawab dan lain sebagai nya. Bagi saya 25 tahun adalah batas akhir saya untuk bermain-main, walaupun sebenarnya sudah dimulai saat usia 20 tahun. Tapi, 25 tahun ini sudah saatnya untuk mulai untuk memperbaiki diri menjadi seorang wanita yang sesungguhnya. Wow..wow..wow… usia akan terus bertambah, kehidupan di dunia akan semakin berkurang, karena tubuh akan semakin menua. Hmm.. tapi masih banyak sih wish list yang akan menjadi to-do list di usia yang sekarang ini.

  • Semakin bersyukur!

Bersyukur, kini harus menjadi kewajiban ya. Karena, bagi saya dengan bersyukur akan selalu merasa cukup dan kaya dengan apa yang ada dalam hidup ini. Apa pun yang terjadi harus tetap merasa syukur. Selain itu, agar dapat selalu bersyukur maka saya menerapkan bahwa apa yang terjadi dalam hidup ini merupakan jalan yang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Tentunya, apa yang sudah ditentukan oleh Allah SWT merupakan jalan yang terbaik. Contoh paling sederhana, misalnya pada suatu hari saya memiliki janji bertemu dengan seseorang. Janji ini sudah sangat ditunggu, tapi keadaan berkata lain sehingga janji tersebut batal. Tentu ada rasa kecewa terlebih jika pertemuan tersebut terbilang penting. Tapi, kembali lagi berfikir bahwa hal tersebut sudah jalan paling baik yang ditentukan oleh Allah SWT. Bisa saja jika pertemuan terjadi justru ada hal-hal yang tidak diinginkan apalagi jika berhubungan dengan nyawa. Percayalah bahwa kegagalan merupakan sesuatu yang menyelamatkan kita dari suatu bahaya.

  • Menikah

Kalau poin yang kedua ini memang sudah menjadi doa saya, bahwa saya memang ingin menikah sebelum menginjak usia 25 tahun. Walaupun pada usia 20 tahun saya sempat mengurungkan niat ini. Namun entah mengapa banyak sesuatu yang menunjukan ke saya bahwa menikah salah satu jalan terbaik dari Allah SWT. Kalau urusan menikah ini sepertinya belum bisa saya jelaskan secara rinci beserta alasannya. Tapi, satu hal yang perlu diingat bahwa menikah merupakan ibadah kepada Allah SWT, menyempurnakan separuh agama, serta menjauhi diri dari segala perbuatan yang tidak disukai Allah SWT.

Selain menikah, menjadi Ibu yang baik bagi anak-anak kelak menjadi salah satu wish list saya. Tidak hanya baik, namun dapat berbagi ilmu dengan cara yang benar sehingga anak bisa menjadi seorang sahabat dengan Ibu nya. Ilmu yang dimiliki seorang Ibu adalah untuk anak-anaknya, karena Ibu merupakan madrasah bagi anak-anaknya. Jadi, kalau kalian merupakan seorang sarjana namun dikucilkan orang karena belum memiliki perkerjaan, jangan sedih. Karena, ilmu yang kalian miliki nanti nya sangat berguna untuk anak-anak kalian.

  • Membangun keluarga kecil 

Membangun keluarga kecil yang bahagia menjadi impian setiap orang. Yap, saya juga memiliki impian itu kok. Sekarang tinggal bagaimana saya mewujudkan mimpi tersebut dengan usaha dan doa.

  • Memiliki usaha kecil (profesi)

Bagi saya waktu dengan keluarga sangatlah berarti. Maka dari itu saya ingin menjadi seorang Ibu dan Istri yang memiliki banyak waktu untuk keluarga. Sehingga saya dapat melihat dan menikmati perkembangan anak. Maka dari itu saya memilih untuk memiliki usaha sendiri di rumah, entah apa pun itu tapi lihat saja nanti. Selain itu, kini saya mencoba untuk memiliki usaha yang dapat membantu orang banyak. Pelajaran yang perlu diambil adalah, memudahkan urusan orang itu sangat baik hukumnya. Kalau bisa usaha kecil yang saya miliki nanti dapat berupa kemanusiaan, InshaAllah.

Kalau disebutkan wish list lainnya bisa banyak sekali ya. Tapi, ini adalah wish list yang paling penting, InshaAllah dengan doa dan usaha semua bisa berjalan dengan lancar. Terakhir, untuk menjalankan ini semua tidak cukup jika hanya dengan doa dan usaha, namun harus dibarengi dengan niat yang baik.

Wish list di atas sudah ada sejak saya menginjak usia 20 tahun. Semakin bertambah usia (dalam bentuk bilangan angka) maka semakin banyak wish list saya. Alhamdulillah satu persatu sudah dilewati dan sedang dalam perjalanan untuk meraih kesuksesan. Kadang, ada beberapa wish list yang tanpa sadar sudah saya gapai, hingga akhirnya hanya bersyukur yang dapat saya ucap bahwa semua sudah berjalan mulus, Alhamdulillah. 

Wish list ini akan menjadi to-do list dalam waktu dekat, InshaAllah. 

BRAND NEW “LIFE”

Every day, hour, minute, seconds when I feel alive
I feel the gratitude, that every breath there’s a hope
Every human created with the peace of mind
Every human had a past (memories)
But, every human have their future that worth fighting for
So, every human have rights to change to be better
Leave it past, focus with bright future
Keep on walking and running
Reach the bright future with pray and hope
The key is always be grateful no matter what happened in life
And this is the brand new of life
Leave the past and don’t try to look back
Even there’s past had a sweet memory don’t look back!
You’re not there anymore, anymore, anymore
Good luck!

 

Berbagi dan Mengasihi

Berbagai dan mengasihi, merupakan dua hal yang membuat saya bersyukur lahir di keluarga ini. Sejak kecil, Ayah dan Ibu saya mengajarkan untuk saling berbagi. Bukan tentang seberapa besar jumlah yang diberikan, namun ikhlas dan berkah yang diharapkan. Saling berbagi, membawa saya pada kedamaian. Dimana terciptanya sebuah kalimat “rezeki tidak akan kemana”. 

Saling berbagi, membawa saya pada kedamaian. Dimana terciptanya sebuah kalimat “rezeki tidak akan kemana”. 

Dalam tiap keyakinan, mengajarkan kita untuk saling berbagi. Tidak perlu dengan bentuk materi, setidaknya tenaga, ide, pikiran, bahkan waktu dapat dibagi. Kadang kala orang terdekat membutuhkan waktu yang kita punya dibanding dengan sebuah materi. Namun, bukan berarti tidak berbagi sedikit rezeki (materi) dengan sesama ya.

Tidak jarang masih banyak orang yang merasa berat untuk berbagi disaat sedang “merasa” susah. Kini saya coba untuk terapkan, bahwa pertama, apa yang kita bagi sesuai dengan ikhlas dan niat baik dari hati. Kedua, rezeki itu semua milik Tuhan jadi akan kembali kepada-Nya juga. Katiga, sesusah apa pun yang saya rasakan coba lah untuk berfikir bahwa masih banyak yang lebih butuh daripada saya.

Tidak akan habis rezeki seseorang jika disalurkan dengan bersedekah. Selain itu, mungkin yang membuat berat untuk berbagi dan mengasihi yaitu faktor kecurigaan. ‘Ah, jangan dikasih nanti uangnya buat yang macem-macem lho’, ‘Ngapain dikasih kan dia kerja, itu kan udah pekerjaan dia’, eits, tidak penting untuk apa uang itu nanti dipakai oleh orang tersebut, InshaAllah jika niat kita baik semua akan berjalan dengan sendirinya. Tuhan itu Maha Mengetahui lho. Jika, hari itu orang yang menurut kita jahat mendapatkan rezeki, kembali lagi bahwa rezeki memang sudah diatur oleh Tuhan. Biarkan lah Tuhan yang mengatur dan menjalankan segalanya. Kita sebagai manusia hanya perlu terus berbuat kebaikan, dari yang paling mudah itu untuk berbagi dan mengasihi.

Jika tidak dengan materi, maka berikan lah dengan waktu dan tenaga, hingga menjadi sebuah doa yang baik untuk berbagi. Saya selalu percaya bahwa semua tergantung dengan niat baik. Semua tidak akan pernah terputus, Tuhan selalu memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Hanya saja manusia untuk lebih peka dan bersyukur.

Jika tidak dengan materi, maka berikan lah dengan waktu dan tenaga, hingga menjadi sebuah doa yang baik untuk berbagi.

Saya pun masih terus belajar untuk memperbaiki diri. Tulisan ini hanya cara saya untuk terus mengingatkan orang-orang sekitar. Semoga bermanfaat dengan apa yang saya tulis ini ya..

Sincerely,

Shintria M

Rezeki Itu Sehat dan Keluarga

Belakangan ini saya sedang mendalami tentang arti penting dari saling berbagi. Bahkan lebih penting saat sedang diuji, kita sebagai manusia harus tetap berbagi. Apa yang dimaksud dengan diuji? Yap, anggap lah ini ujian dari berbagai nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Ya apapun itu, kita sudah seharusnya memaknai segala hal untuk kebaikan diri sendiri. Tuhan yang Maha Mengetahui baik dan buruknya, bahwa Tuhan tidak pernah membuat manusia itu susah. Hanya saja manusia selalu merasa kurang, terpuruk dalam kesedihan, hingga selalu merasa kurang. Terlebih lagi dalam segi rezeki yang berupa harta.

Saya pun selalu mengingatkan diri sendiri, bahwa Tuhan sudah memberikan rezeki kepada masing-masing individu sesuai dengan kebutuhan mereka. Lalu, apa yang membuat selalu merasa kurang? Tentu, gaya hidup yang melampaui batas. Berkerja banting tulang, dari matahari belum terbit hingga terbenam untuk menyambung hidup. Rela, tentu rela sekali hingga mungkin saja Ayah, Ibu,  Istri, Anak, Saudara lainnya merasakan rindu yang mendalam.

Andai saja gaya hidup dapat disesuaikan dengan pendapatan, maka rezeki yang berupa kesehatan dan waktu lapang saja sudah lebih dari cukup. Lebih mirisnya, kini tidak jarang banyak orang (atau mungkin termasuk saya) suka lalai akan arti sebenernya dari sebuh rezeki. Rezeki yang paling berharga yaitu kesehatan dan waktu yang bisa dipakai untuk berkumpul dengan keluarga. Ayah dan Ibu mungkin selalu merasa bahagia meski ditinggal anak-anaknya untuk berkerja. Tapi, dari hati paling dalam bahwa kebahagiaan sesungguhnya itu bisa berkumpul dengan anak-anak, seperti dahulu kala saat masih kecil.

Saya, di sini tidak pernah berhenti untuk mengingatkan bahwa keluarga adalah mereka yang mampu menerima kekurangan Anda, Saya, Kita. Walaupun suatu saat datang dalam keadaan susah, percaya lah Ayah dan Ibu membuka tangan mereka dengan lapang dan penuh senyum. Hal ini sangat saya rasakan setelah saya melalui berbagai hal untuk mencari siapa diri saya sebenarnya. Lebih tepatnya saat itu saya merupakan manusia yang paling tidak bersyukur. Namun, itu semua menyadarkan saya bahwa rezeki saya itu yaitu dapat melihat Ayah dan Ibu masih sehat hingga nanti, aamiin. Bahkan sekarang, saya tidak bisa sedikit pun membuang waktu saya jika tidak dengan keluarga. Saya coba untuk terus membayar waktu-waktu yang telah saya buang percuma untuk tidak berkumpul dengan keluarga.

Walaupun suatu saat datang dalam keadaan susah, percaya lah Ayah dan Ibu membuka tangan mereka dengan lapang dan penuh senyum

Hal ini pun semakin terasa ketika Ayah dan Ibu semakin menua. Hingga mereka kini InshaAllah siap untuk mempersiapkan segala yang terbaik untuk saya. Semakin hari saya merasakan haru. Seperti kemarin saat saya ingin berangkat ke Surabaya untuk menajalankan sesuatu yang sangat penting. Padahal jarak antara Jakarta dan Surabaya tidak terlalu jauh, namun saya begitu haru meninggalkan Ibu di rumah. Saya membayangkan ketika nanti berkeluarga, saya akan ditinggal oleh anak saya pergi, sepi, sendiri, tidak ada teman berbagi.

Baru seminggu saya di Surabaya, saya coba hubungi Ibu saya. Beliau begitu banyak bercerita tentang kesehariannya. Tentu ini sangat berbeda jika saya berada dekat di sana dengan Ibu. Memang benar apa kata orang, ketika jauh kita akan merasakan begitu kehilangan, namun saat dekat justru diisi dengan keegoisan diri. Dengan jauh seperti ini. rasa nya tidak ada tempat yang lebih nyaman selain keluarga, Ayah dan Ibu.

Sejauh ini saya masih terus mencoba dan tidak akan pernah berhenti untuk tetap memanfaatkan waktu dengan keluarga. Karena, banyak yang sudah menikah ingin sekali memeluk erat Ayah dan Ibu seperti dulu saat masih bersama. Saya memang belum bisa membahagiakan orang tua. Setidaknya, waktu yang saya punya kini untuk Ayah dan Ibu.

Ingat satu hal, bahwa ridha orang tua lah yang membuat saya ada di tahap ini

Saya yakin, tidak ada yang lebih bahagia bagi Ayah dan Ibu selain melihat anak-anaknya akur, saling berkumpul, dan tersenyum bersama. Bukan harta, bukan lah materi, melainkan doa agar Ayah dan Ibu selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Uang itu tidak bisa mengembalikan waktu lho. Sukses itu tidak bisa membeli usia yang sudah diatur oleh Tuhan. Sebelum terlambat, sebaiknya gunakan waktu cuti dan libur Anda untuk bertemu dengan Ayah dan Ibu meski hanya sebentar. Ajak mereka makan bersama walau hanya dengan sayur bening dan telor dadar, bukan makanan nya, namun waktu kebersamaan nya.

Ingat satu hal, bahwa ridha orang tua lah yang membuat saya ada di tahap ini. Alhamdulillah,  terimakasih Tuhan, terimakasih Ayah dan Ibu. 

Sincerely, 

Shintria M