Weekly Thoughts; Kehidupan Setelah Menikah

AIK_7787 b
Photo by Wongakbar Photography

Dulu, sebelum menikah banyak sekali tentang pasangan yang sudah menikah. Ada yang bercerita tentang kebahagiaan, bahkan ada yang merasa merugi. Saya sebenarnya tidak suka jika harus mendengarkan cerita tentang keburukan dalam  pernikahan. Maksud saya, kadang ada beberapa orang bercerita hidup setelah menikah ternyata tidak enak, suami/istri ternyata begini lah begitu lah. Ya, saya memang baru merasakan hidup setelah menikah. Namun, baik belum atau sudah menikah, saya harus tetap mempunyai komitmen (tidak hanya dalam pernikahan).

Jika saat ini Anda mendengar hidup setelah menikah itu berbeda, saya akan jawab ‘ya.’ Jelas dan terasa sekali perbedaannya. Dimana perbedaannya? tentu ada banyak baik dari pasangan maupun diri sendiri. Benar kah sudah menikah akan menemukan sifat asli pasangan? saya akan jawab ‘ya.’ Bukan hanya sifat pasangan, namun sifat diri sendiri pun akan muncul dengan sendirinya tanpa saya sadari. Disini lah salah satu ujian bagi pasangan yang sudah menikah.

Kadang saat menemukan sifat buruk dari pasangan, sudah pasti akan merasa kesal. Tapi, jika kembali lagi mengingat apa arti sebuah pernikahan, maka semua rasa kesal akan hilang dan terganti menjadi sayang. Justru kadang saya merasa malu jika tidak bisa mengalahkan ego diri sendiri. Malu rasanya jika tidak bisa bersikap dewasa saat menghadapi masalah. Menurut saya, jika pasangan yang sudah menikah tidak kembali mengingat apa tujuan menikah itu, hmm rasanya baru seminggu menikah sudah menyerah deh hehe. Karena, memang kehidupan saat sendiri itu berbeda dengan setelah menikah. Tapi, semua harus kembali menikmati setiap detik, menit, jam dan hari yang akan saya lewati.

Your Partner is a Reflection of You

Entah apa pun yang ada pada diri pasangan, entah kebaikan atau keburukan, ia tetap lah orang yang telah memilih saya dengan segala kekurangan. Ia juga jodoh yang telah Allah SWT pilih untuk saya. Semakin hari, saya semakin mengerti betul bahwa pasangan itu tergantung dari bagaimana diri sendiri. Seperti, jika diri ini baik, maka akan mendapatkan pasangan yang baik.

Maka, menurut saya jika ingin mendapatkan pasangan yang baik, maka perbaiki diri sendiri dulu. Jika selama ini merasa “pasangan aku kok begini ya, kok begitu ya,” coba perhatikan diri sendiri, apa kah sudah merasa benar sebagai pasangan.? Saya percaya bahwa pasangan suami istri itu adalah refleksi dari dirinya masing-masing.

Distance Teaches Us To Appreciate

Bagi saya dari awal kenal sudah dari kejauhan, hingga menikah pun begitu, sangat merasakan nikmat nya kebersamaan. Banyak orang saya perhatikan, saat dekat mereka saling membenci, namun saat jauh justru merindu. Hal tersebut sebenarnya klasik, karena saya pun sering merasakan demikian. Maka dari itu, jarak mengajarkan saya dan suami untuk saling menghargai. Tidak cukup jika hanya menghargai perasaan masing-masing pasangan, namun juga harus paham betul bahwa waktu terus berjalan. Rugi rasanya jika harus dilewati dengan rasa benci yang mendalam. Jarak mengajarkan saya untuk bisa menghargai, apapun dan bagaimana pun.

So Many To Do List 

Akan banyak yang dikerjakan bersama dengan pasangan setelah menikah. Tentu ini menjadi tantangan bagi saya pribadi. Hal yang pernah saya dan suami bayangkan, menjadi sebuah kenyataan. Dimana kami bisa memberi keperluan rumah tangga berdua, membereskan pekerjaan rumah berdua, bahkan kini saya harus mempersiapkan menu makan siang dan malam untuk suami. Terlebih lagi, saya harus bisa memasak bahkan membuat suasana rumah menjadi nyaman. Setidaknya akan banyak hal baru yang harus saya kerjakan, baik itu bersama dengan suami atau pun tidak.

Always Trying to be a Good Housewife

Menurut saja, sudah mejadi kewajiban seorang wanita untuk menjadi ibu rumah tangga. Entah bagaimana pun, wanita yang melakukan segala hal dengan perasaannya, memang tercipta untuk menyayangi, memperhatikan, dan mencintai keluarga. Saya senang melihat ibu rumah tangga yang sangat perhatian dengan anak-anak dan suami. Seperti terus berusaha untuk menjadi istri dan ibu rumah tangga yang cerdas. Artinya, ibu rumah tangga juga harus mempunyai keahlian walau pun di rumah. Beberapa orang melihat ibu rumah tangga hanya sekedar di rumah, beres-beres, masak, urus anak dan suami. Namun, jika melihat lebih dalam ternyata pekerjaan ibu rumah tangga itu tidak semudah yang dibayangkan. Ibu rumah tangga harus mampu membuat rumah menjadi tenang, nyaman, tentram sehingga anak-anak dan suami dapat melepaskan lelahnya seharian di rumah. Ibu rumah tangga juga harus memastikan kondisi rumah harus tetap bersih, makanan harus enak dan sehat, dan lain sebagainya. Yap, poin ini lah yang masih harus banyak saya pelajari.

Bagi saya, kehidupan setelah menikah itu akan menyenangkan jika kita kembali mengingat tentang tujuan menikah. Selain itu, kita juga harus mampu rendahkan diri saat sedang merasa kesal pada pasangan, harus mampu berkaca bahwa diri ini pun tidak sempurna. Selain itu, coba untuk terus menghargai setiap detik dan menit yang akan dilewati bersama pasangan. Bayangkan jika detik dan menit hingga momen itu tidak akan pernah terulang kembali. Apa bila merasa bosan, coba ingat kembali ‘bagaimana hidup Anda jika pasangan akan pergi, tidak untuk sementara namun selamanya.’ 

Jika mencari yang sempurna itu tidak akan pernah ada. Semua pasangan baik suami atau istri akan memiliki kekurangan. Justru kekurangan itu yang akan menjadi kelebihan bagi diri sendiri, kekurangan itu akan menjadikan diri lebih dewasa. Lalu, bersyukur dan merasa cukup adalah jalan satu-satunya untuk kembali menghargai apa yang telah saya miliki.

Be The Best Wife 

Seperti poin di atas, be the best wife. Setelah menikah, satu yang terlontar dalam pikiran saya adalah “terus apa sekarang? apa yang harus saya lakukan? saya harus bagaimana?.” Ya, mungkin itu adalah salah satu nikmat setelah menikah. Ketika menikah dapat menyempurnakan separuh agama, lalu saya hanya perlu menyempurnakan  separuhnya lagi. Karena saya muslim, maka saya belajar untuk menjadi istri yang sholihah.

Banyak tugas yang harus saya kerjakan untuk menjadi istri yang sholihah. Walaupun sudah berhijab, menutup aurat, tapi semua tidak akan bisa sempurna. Karena, sebagai muslim saya meyakini bahwa kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

Ketika saya berpikir, bahwa semua tanggung jawab seorang Ayah telah berpindah ke suami saya, maka ini merupakan tanggung jawab saya juga sebagai seorang istri. Saya harus mampu menjaga martabat, tidak hanya diri sendiri namun ini menyangkut keluarga. Kalau dengan menikah saya sudah menyempurnakan separuh agama, maka kini saya perlu belajar mengembang amanah sebagai seorang istri.

Memuliakan suami dengan menutup aurat menurut saya adalah sebuah kewajiban bagi wanita muslim. Tidak hanya suami, saya pun juga dapat menolong ayah di hari akhir nanti. Jika, dengan menikah saya sudah menyempurnakan separuh agama, maka sisa nya saya hanya perlu belajar lebih banyak lagi akan ilmu agama. Tentu, sesuai dengan apa yang ada dalam kitab Al-Qur’an. Saya tidak mau melenceng dari apa yang sudah pasti ada dalam kitab Al-Qur’an, bahkan saya tidak perlu menanyakan lagi dengan yang ada.

Kehidupan sesudah menikah, memiliki banyak kenikmatan. Nikmat bisa saling mencintai, bertatap mata dengan pasangan, bercanda tawa dengan nikmat pahala. Bukan berarti saya tidak tahu bahwa hidup tidak akan selamanya indah, namun bagi saya bersyukur adalah kunci utama. Apa yang ada sekarang, merupakan jalan terbaik yang telah Allah SWT berikan pada saya. Entah saya akan kuat atau tidak jika dihadapkan oleh tantangan baru dalam hidup, maka saya yakin itu lah kehidupan di dunia. Selalu akan ada ujian hingga nikmat untuk naik ke tahap selanjutnya.

Intinya, setelah menikah apa lagi yang dicari selain menambah pahala, memperbaiki agama dan pribadi sebagai bekal di akhirat kelak. Memang agak berat pikiran saya tentang poin ini bagi sebagian orang, namun ini lah yang saya rasakan. Kini, saya hanya perlu memberikan yang terbaik bagi suami, untuk mendapatkan ridho dan berkah dari Allah SWT.

Kehidupan setelah menikah dapat mendewasakan diri. Sebelum tidur, saya berpikir bahwa setelah ini hidup saya akan jauh berbeda. Masak air hingga membuat sarapan saja, tidak hanya untuk saya namun suami juga. Sudah mulai harus memikirkan biaya yang tidak terhingga, ibarat 500 Rupiah saja harus dihitung.

Bagi saya, kehidupan setelah menikah itu penuh dengan kenikmatan yang hanya dapat dirasakan secara langsung. Seperti memulai kehidupan yang baru yang penuh kasih. Jangan pernah berhenti berdoa, percaya satu hal dan yakin bahwa Allah SWT sebaik penolong dan pelindung.

Advertisements

Selamat Tinggal Ibu Kota, Tanah Kelahiran

WhatsApp Image 2017-11-18 at 11.26.11 AM
Photo by Shintria M

Pengalaman berharga dalam hidup terntu tidak bisa dilupakan. Pengalaman terbaik, tentu akan menjadi pelajaran untuk diri sendiri ke depannya. Dari dulu memang sudah ada keinginan untuk tinggal jauh dari orang tua. Karena, sebagai anak terakhir harus bisa membuktikan bahwa saya tidak manja. Saya pikir, ketika saya jauh akan ada yang merindukan diri ini. Sekaligus saya mampu belajar banyak hal dari orang-orang baru di sekitar saya. Namun, hanya angan-angan semua, buat prakteknya cukup sulit. Secara saya anak terakhir yang tinggal bersama orang tua saya, terlebih kini sudah memasuki 25 tahun lamanya. Ada perasan tidak tega, gelisah dan takut saat harus meninggalkan orang tua di rumah. Alhasil keinginan tersebut selalu urung untuk dilakukan (semasa sekolah hingga kuliah).

Selalu terjadi seperti ini, setiap ada hal yang terlintas dipikiran entah kapan akan terwujud. Baru belakangan ini terpikir, ‘oh iya saya pernah ingin tinggal di luar Ibu Kota Jakarta.’ Setelah menikah, tugas saya sebagai istri adalah ikut dengan suami. Itu merupakan kewajiban menurut saya, kemana suami melangkah saya harus tetap mendampingi. Walaupun dari awal saya kenal suami dari kejauhan, namun ini berbeda. Kembali lagi ke tujuan awal, untuk membuktikan bahwa saya bisa mandiri.

Ya, walaupun berat meninggalkan Ibu Kota Jakarta. Dengan segala hingar bingarnya, seperti ada rasa benci namun cinta. Sulit untuk mengatakan bahwa tanpa drama perpindahan dari Ibu Kota Jakarta. Bagaikan rumah, jelas saya lahir di sini, besar dan tumbuh di Jakarta. Walaupun suka mengeluh, ya lagi lagi seperti benci untuk mencinta. Banyak hal yang tidak bisa saya temukan di tempat yang baru namun ada di Ibu Kota ini. Belum lagi sahabat DAHSYAT saya mereka hidup dan tinggal di Jakarta. Selalu ada haru, tangis, hingga kebahagiaan yang tercampur.

Menarik nafas sesaat, kembali mengingat bahwa hidup akan terus berjalan. Saya pernah minta seperti ini, maka Allah SWT mengabulkannya, entah kapan dan dimana semua disaat yang tepat.

Tinggal di tempat yang baru merupakan perkara yang tidak mudah bagi saya. Kembali saya harus beradaptasi, itu sangat sulit dan menyedihkan. Saya harus keluar dari zona nyaman selama ini. Dimana saya harus mengenali setiap detail lingkungan hingga karakter tiap orang. Apakah ini melelahkan bagi saya, tentu sangat melelahkan. Tapi, ini adalah resiko yang harus saya ambil. Semua keputusan selalu ada konsekuensi, lalu keluar nya saya dari zona nyaman akan menjadi pengalaman terbaik dalam hidup.

Suami sesekali bertanya, “kalau saya dipindah tugas ke pulau lain, apa kamu ikut?.” Dengan senyum dan tawa, jelas saya ikut. Di sisi lain ini menjadi tantangan bagi saya dan suami. Di tempat tinggal yang baru, sama-sama jauh dari keluarga, ya hanya kami berdua di sini.

Well, semua ini akan menjadi babak baru dalam perjalanan hidup saya. 25 tahun cukup sudah besar dan tinggal di Ibu Kota Jakarta, tanah kelahiran. Kini saatnya saya berpamitan meninggalkan kenyamanan yang telah dibangun. Terima kasih Ibu Kota, tanah kelahiran. Akan selalu ada kenangan dalam tiap detik kehidupan yang saya lewati di Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya.

Mungkin beberapa orang merasa ini berlebihan. Percaya lah, ada perbedaan antara hidup dengan orang tua, tinggal jauh setelah menikah, atau jauh karena pekerjaan (belum menikah). Memang sudah saatnya meninggalkan kenangan baik dan buruk, lalu berhijrah untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tentu akan ada hal yang lebih bahagia menunggu saya dan suami di sana, di rumah baru kami. Di babak awal kehidupan kami, berdua.

Selamat tinggal Ibu Kota, tanah kelahiran

Shintria M.

 

 

Drama Dibalik Persiapan Pernikahan

CAM19561.JPG
Photo by @Wongakbarphoto

Hai, akhirnya saya bisa menulis tentang kisah selama mengurus persiapan pernikahan. Jujur, saya merupakan pribadi yang pendiam. Dibilang banyak mau sih tidak, tapi ada beberapa hal yang membuat saya ingin memilikinya. Ya.. intinya saya pribadi yang sewajarnya saja lah. Awal berkenalan dengan suami, kami sering membicarakan perihal pernikahan. Yap, salah satunya tentang impian pernikahan itu seperti apa. Tidak ingin selalu dipandang baik, saya hanya ingin menikah dengan cara yang sederhana. Balik lagi, karena saya ingin benar-benar khusyuk dan menekankan arti sebuah pernikahan itu sendiri. Namun, rezeki berkata lain bahwa saya dipertemukan dengan seorang pria dengan profesi yang istimewa. Pernikahan kami tidak bisa hanya sekedar akad, namun harus ada prosesi upacara.

Dengan adanya upacara tersebut, maka pernikahan kami harus memakai resepsi. Seperti yang ada dipikiran saya saat itu, resepsi biasa saja lah sederhana. Saya juga tidak ingin memberatkan orang tua. Teguh dalam hati selalu berkata, ya yang biasa-biasa saja. Dari bertemu dengan beberapa orang selalu berkata “kalau nanti nikah, inget abis nikah itu banyak kebutuhannya, kalau bisa jangan terlalu mewah.. sayang.” Kalimat yang banyak orang-orang sampaikan ke saya sebenarnya sudah tertanam sejak saya kecil.

Seiring berjalannya waktu, diawali dengan acara lamaran pada bulan November 2016. Saat itu persiapan lamaran hanya 1 minggu, bayangkan gimana tidak bingung. Saya yang cukup tenang, ya tetap bingung tidak tahu harus mulai dari mana. Setelah saya resmi menjadi calon istri, saya mulai dari tahap pertama mencari referensi.

 

Saya benar-benar tidak ingin merepotkan orang tua dan keluarga besar. Karena, sering kali saya lihat keluarga tidak dapat menikmati acara pernikahan. Selain itu, resepsi pernikahan dengan upacara tentu tidak bisa sembarangan. Baiklah, saya mulai mencari jasa wedding organizer. Saya dipertemukan dengan 3 WO, entah kenapa saya tertarik dengan salah satunya yaitu Chandira.

Lagi-lagi tidak ada yang kebetulan, saya melihat Chandira cukup sukses saat menangani pernikahan dari banyak klien. Saya cari tahu baik dari instagram, youtube dan lain-lain. Dengan penuh keyakinan, akhirnya saya memilih Chandira. Alhamdulillah, pertemuan pertama yang sangat baik.

Waktu itu saya dan keluarga ingin mengadakan akad nikah pada hari jumat di masjid dekat rumah. Saya tidak berpikir panjang bahwa mengadakan acara dua kali bisa membuat keluarga khususnya saya menjadi lebih melelahkan, selain itu juga over budget baik dari catering, photography & videography, dekorasi dan vendor lainnya. Chandira sebagai wedding organizer memiliki pengalaman baik buruknya saat mempersiapkan pernikahan para klien. Dengan begitu saya yakin, Insyaa Allah ini adalah pilihan terbaik saya.

Selain menentukan WO mana yang pas di hati. Saya juga mencari-cari venue yang pas untuk menikah. Saya lebih tertarik dengan gedung yang memakai karpet, kenapa? karena dengan adanya karpet dekorasi akan terlihat mewah. Dari beberapa pilihan gedung, jatuh lah hati saya pada Sasana Kriya Taman Mini Indonesia Indah. Menikah di Jakarta sendiri butuh waktu 1 tahun untuk mendapatkan gedung yang kosong. Akhirnya ada tanggal yang pas dan di hari Sabtu.

Setelah gedung dan pilihan WO jatuh pada Chandira, di situ lah kami mulai berkerja. Saat itu semua diawali dari budget yang saya dan suami sepakati. Lalu kami berdiskusi dengan Chandira. Alhamdulillah, Chandira sebagai WO memberikan saya paket yang menurut saya sudah pas.

Mengenai hal kecil lain seperti undangan pernikahan. Saya dan suami mempercayakan kepada salah satu sahabat saya sejak duduk di bangku kuliah. Kebetulan suami dari teman saya memiliki usaha dibidang percetakan. Selain bisa dapat harga teman, kayaknya enak kalau minta buat ini itu. Buat undangan itu juga seperti revisi skripsi loh, dari penulisan gelar, nama, nama orang tua, dan lain-lain. Jangan sampai undangan yang nggak cocok merusak momen kebahagiaan. Akhirnya setelah banyak revisi, jadi lah undangan sesuai dengan yang saya inginkan.

 

Ketika semua berjalan, namanya orang mempersiapkan pernikahan itu pasti ada DRAMA. Dulu, saya dan suami selalu mengatakan bahwa drama persiapan pernikahan itu bisa kami hiraukan. Ternyata, tidak semudah itu.. Bagi saya, rasanya itu seperti PMS tingkat sensitifitas meningkat tajam. Bagaimana tidak, saya dan suami harus menyatukan dua keluarga yang dimana tiap keluarga memiliki pemikiran yang berbeda. Kira-kira saya mengalami drama itu hingga H-7 pernikahan, luar biasa ya.

Tapi, syukur lah Chandira cukup membuat saya tenang. Saat awal pertemuan kami, saya diberi tahu bahwa calon pengantin sangat mempengaruhi kelangsungan acara. Calon pengantin harus manut, sabar dan jangan lelah untuk berdoa. Percaya tidak percaya, tapi saya sih percaya ya gimana dong. Karena, saya merasa bahwa saya dan suami adalah pemangku hajat. Akhirnya, setiap rasa ingin marah karena ada hal yang tidak cocok lebih baik saya lampiaskan ke sebuah tangisan. Pokoknya benar-benar seperti PMS, nggak bohong.

Kalau orang lihat sih ya saya seperti senang-senang saja, tenang, tapi kalau boleh jujur sih pusing juga hehe.. Namun semua tetap harus bersyukur dan menikmati setiap prosesnya.

Selalu ada ego di tiap hati seseorang, termasuk saya. Maka dari itu baik saya dan suami saat itu benar-benar saling menguatkan. Alhamdulillah, suami berlaku adil dan selalu memberikan energi positif. Setiap ada badai kecil dalam persiapan pernikahan, selalu kami imbangi dengan tawa dan canda. Ya, karena kami sebelumnya sudah antisipasi pasti akan ada hal yang tidak mengenakan.

Dengan berjalannya waktu, pernikahan tinggal di depan mata. Rasanya tidak percaya, sungguh tidak percaya. Seserahan cukup sederhana saja, coba untuk memikirkan bahwa mneikah itu lebih baik memudahkan.

Pada technical meeting, semua dijelaskan dengan begitu sederhana. Saya kan orangnya ‘iya iya aja’ haha karena ya tidak mau ambil pusing lah daripada riasan saya berantakan haha (ngaruh lho). Dekorasi dan catering yang membuat saya penasaran. Dekorasi saya hanya bisa lihat dari foto-fotonya saja, sedangkan catering saya cukup merasakan makanannya saat test food. Namun, tidak tahu kan apakah cukup atau tidak. Lagi-lagi semua harus Bismillah dan ikhlas.

Lalu, apa yang terjadi.. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Baju akad nikah saya muat (karena berat badan naik), acara berjalan khusyuk dan cepat. Kejutan apalagi yang saya dapat? Ya, saya puas dengan tim persiapan upacara dari angkatan suami saya yang kompak. Baju untuk resepsi saya dengan begitu mewah, tamu yang tidak begitu sesak dan terlihat nyaman mengikuti acara resepsi pernikahan. Saya tidak bisa bilang bahwa acara ini sukses, karena semua itu persepsi. Namun, melihat tamu yang puas dengan respon yang baik, Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar dan mudah.

Apa yang dikhawatirkan orang tua selama ini terbayar sudah. Yap, saat resepsi berlangsung makanan cukup dan enak. Para tamu yang saya tanyakan selalu bilang bahwa merasa nyaman, tidak antri dan piring kotor tidak ada yang berserakan. Lagi dan lagi saya bersyukur.

Bukan kemewahan yang saya cari, tapi dengan melihat tamu yang menikmati acara sungguh membuat saya bahagia. Setidaknya saya bisa membuat orang tua saya lega, tidak perlu pusing-pusing saat acara berlangsung.

Intinya, sebagai calon pengantin itu harus ikhlas, sabar dan banyak berdoa. Ada masanya merasa lelah, itu sudah pasti ada, tapi jangan menyerah. Ingat bahwa menikah itu yang dicari pahalanya, bukan kemewahan acaranya. Jika acara terlihat begitu mewah, anggaplah itu bonus dari Allah SWT.

Memang benar apa yang dikata orang bahwa “ya.. momen setahun sekali.” Benar sekali, saya akhirnya setuju dengan anggapan tersebut. Karena, ketika pesta pernikahan yang dianggap sukses sangat sulit dilupakan. Saya dan suami rasanya ingin mengulang lagi, eh tapi uang dari mana ya hehehe…

Love,

Shintria M

 

Terima Kasih Telah Memilih Ku

CAM19153
Photo @wongakbarphoto

Terima kasih,

Terima kasih telah memilih ku

Terima kasih telah memilih ku menjadi teman hidup mu

Perasaan haru campur bahagia kini sangat terasa

Terima kasih,

Terima kasih telah bersedia

Terima kasih telah bersedia menghabiskan waktu dengan ku

Tak terasa 2 tahun saling kenal, janji itu terucap dari mulut mu

Terima kasih,

Terima kasih akan sebuah pengorbanan

Terima kasih akan sebuah pengorbanan baik jarak dan waktu

Saling menguatkan tidak akan pernah berhenti

Tak akan pernah berhenti, tidak akan pernah berhenti untuk saling bercengkerama

Tak akan pernah berhenti, tidak akan pernah berhenti untuk saling mendoakan

Terima kasih,

Terima kasih telah memilih ku

Terima kasih telah memilih ku menjadi istri mu

Menjadi ibu dari anak-anak mu, kelak

Love,

Shintria M

 

Dia, Pria Dari Kejauhan

AIK_7311
Photo @wongkabraphoto

Akhirnya bisa memulai untuk berbagi kisah ini.

Alhamdulillah, tidak ada kata yang pantas selain mengucap syukur. Atas segala anugerah, nikmat, dan rizki yang Allah SWT titipkan kepada saya. Tidak menyangka, jelas tidak pernah ada sama sekali akan jadi seperti ini. Memang, untuk sebuah perubahan atas dasar niat yang baik hasilnya pun juga akan baik. Ya, Allah SWT itu memang sangat adil.

Dimulai pada tahun 2014, tepatnya 3 bulan sebelum akhir tahun. Secara tiba-tiba, terlintas di benak sahabat untuk memperkenalkan saya pada seorang pria. Saat itu jarak kami terlampau jauh, dia di Jepang dan saya di Indonesia. Saat itu, sahabat saya memperkenalkan melalui aplikasi chat. Tanpa menunggu lama, pria yang kini telah menjadi suami saya menyapa, memperkenalkan diri. Awalnya saya merasa tidak percaya diri, karena apa lah artinya saya yang hanya seorang mahasiswa dari universitas swasta di daerah Jakarta Selatan. Jika bicara tentang pintar atau tidaknya, tentu masih di bawah rata-rata. Saya berpikir, bahwa pria ini punya otak yang pintar dan karir yang cemerlang, tidak seimbang dengan latar belakang saya. Namun, semua berjalan begitu saja. Jika ditanya apakah ini sebuah kebetulan, tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Diantara rasa tidak percaya diri, saya menyimpan semua sendiri. Sejak saat itu saya percaya, bahwa doa dan ridho orang tua adalah kekuatan paling berharga. Saya tidak mengenalkan ia pada orang tua, saya tidak bercerita. Namun, ia sendiri yang memperkenalkan diri, mohon izin untuk berkenalan dengan saya walaupun melalui telfon. Sungguh membuat hati meleleh ya, bisa saja memang cara pria ini mengambil hati orang tua saya.

Hubungan kami tidak serta merta berjalan dengan lancar, tentu ada pasang surutnya (air laut kali ya). Paling saya ingat, ia pernah membuat saya terbang tinggi melayang, lalu menjatuhkan saya kembali (sakit loh jatuh tuh..). Padahal, cuma pengen bilang suka aja, pakai segala nyakitin hati orang ( penulis masih kesel, kesel kesel gemes gimana gitu). Tapi, balik lagi coba untuk saling jujur sama diri sendiri. Saya sebagai wanita menghindari gengsi, salah seorang sahabat saya yang juga pria pernah berkata “udah deh buang gengsi jauh-jauh”. Berkat kalimat tersebut, super sekali saya merasa memiliki hak untuk mengatakan bahwa saya mempunyai rasa yang sama. Akhirnya, hubungan kami kembali baik bahkan lebih indah.

Syukurlah kami hidup di era komunikasi yang sangat canggih. Mungkin akan semakin menantang jika masih lewat surat menyurat. Padahal belum bertemu, tapi kok ada rasa yang tak biasa, lemas, senyum-senyum sendiri. Nunggu kabar dia sampai selesai jam kuliahnya, telfon setiap malam minggu, perbedaan waktu dua jam yang terasa sama. Selain itu, namanya kasmaran buat pagi terasa jauh lebih indah dari biasanya. Saya benar-benar engga pakai dandan dulu kalau mau video call, ya biarin sih agar dia lihat saya yang sebenarnya. Masa-masa yang indah walaupun jarak yang sangat jauh.

Ingat sekali saat itu, dia mengirimkan banyak kejutan. Salah satunya berupa bunga sehabis saya menyelesaikan sidang skripsi. Bahkan dia sering secara diam-diam mengirimkan sebuah semangat meski hanya berupa kata-kata. Semua yang dilakukan, membuat kami lupa akan jarak yang jauh.

Saya yang menyukai segala hal tentang Jepang, topik itu lah yang menjadi awal pembicaraan kami. Tidak, kesukaan saya pada Jepang bukan serta merta untuk alasan mendekati dirinya. Seperti yang sudah dijelaskan di awal, bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Hingga akhirnya, Allah SWT memberikan saya rizki untuk bisa mengunjungi negeri sakura. Sungguh dua hal yang tidak pernah terbayangkan saat itu, semua serba mengejutkan. Itu pula yang menjadi awal pertemuan saya dengan dia. Ya, awal pertemuan kami bersama dengan Ibu saya. Meskipun terbilang merupakan awal sebuah pertemuan, tidak ada rasa canggung antara kami berdua. Semua sepeti biasa saja, seperti sudah berkenalan lama sebelumnya.

Memang sejak awal kami kenal, saya punya komitmen untuk menyatakan bahwa keinginan untuk menikah. Hal tersebut saya pikirkan karena orang tua, saya ingin melihat orang tua saya ada mendampingi di pelaminan. Dengan begitu, ia pun berani ikut bersama untuk menjalankan komitmen ini. Ya, kami memang berkomitmen menjalankan hubungan untuk pernikahan dan membangun keluarga kecil yang bahagia.

Kami menjalani Long Distance Relationship sejak awal berkenalan, 8 bulan sejak bulan Oktober higga Mei, Mei hingga Agustus 2015, Agustus hingga Maret 2016. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga ditugaskan di kota lain meski sudah di Indonesia. Tentu, dari kisah kami menjalani hubungan jarak jauh ada rasa manis, asam, hingga pahit. Beberapa orang beranggapan baik, tapi tidak jarang memberikan sugesti negatif kepada saya. Mudah saja, setiap ada berita negatif yang mengganggu langsung saya utarakan.

Mungkin ini yang namanya bisa karena terbiasa

Tidak perlu lama untuk memutuskan menikah, 2 tahun saling kenal dia yang telah berani mohon izin kepada Ayah saya untuk menikah dengan anak putrinya. Ternyata, selama ini pria yang berada di kejauhan sana telah rela menghabiskan waktu untuk menunggu saya. Telah rela, membuat lelah sebagian pikirannya untuk saya, berjuang bersama untuk tetap bertahan, dan saling mendoakan. Sungguh terharu jika kembali mengingatnya.

AIK_7626.JPG
Photo @wongakbarphoto

Baru setelah menikah, kami sadar bahwa jarak dan waktu yang telah dilalui cukup lama serta jauh. Baru kami menyadari, bahwa kami sekuat itu. Tidak sedikit orang bertanya, kok bisa? Ya bisa, ya gimana ya.. yakin saja.

Kami mempunyai banyak perbedaan, tapi yakin lah perbedaan itu yang ternyata menyatukan.

Masih tidak menyangka, kalau sekarang ia telah menjadi suami saya. Mengucap ijab Kabul pada wali nikah, dihadapan saksi dan lainnya. Benar deh ternyata laki-laki yang gagah itu berani menikahi seorang wanita pilihannya. Tapi, nggak hanya menikahkan setelah itu lepas tanggung jawab lho ya.

Di sini, saya mau mengucapkan terima kasih. Kepada Allah SWT, Ayah, Ibu, Keluarga dan para sahabat yang telah mendoakan dan mendukung kami hingga seperti ini. Khususnya, para sahabat yang tahu bagaimana kisah saya. Bagaimana pun yang telah lalu, biarlah berlalu. Saya, anda, kita pernah berada pada saat paling buruk dalam hidup. Hidup akan tetap dan terus berjalan, sebagai manusia hanya bisa bersyukur dan berubah menjadi lebih baik.

Kami mempunyai banyak perbedaan, tapi yakin lah perbedaan itu yang ternyata menyatukan.

Pesan saya, temukan pasangan yang disukai oleh orang tua. Karena ridho orang tua adalah ridho Allah SWT. Insyaa Allah semua hubungan dan segalanya akan berjalan dengan lancar. Selain itu, pasangan itu cermin dari diri kita. Jadi, perbaiki diri sendiri terlebih dahulu jika ingin mendapatkan pasangan yang sesuai dengan keinginan.

**

Terimakasih telah memilih saya sebagai teman hidup,

Terimakasih, telah memilih saya untuk menjalani hidup dengan sangat sederhana. Untuk kembali memulai semua dari awal, untuk belajar pelan-pelan hingga nantinya menjadi kedua orang tua yang utuh. Untuk sama-sama saling mengingatkan arti sebuah kesetiaan, makna dari sakinah, mawadah, warahmah.

 

Ketenangan

Alhamdulillah, masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk mencapai kemenangan di tahun 2017. Sebenarnya tidak ada yang berbeda dari tahun sebelumnya. Yap,sudah tidak asing bagi saya setiap Hari Raya Idul Fitri keluarga tidak bisa berkumpul secara lengkap. Mungkin bisa dikatakan jarang sekali terjadi. Tapi, tetap harus selalu bersyukur dong bahwa sebenarnya bukan berkumpulnya keluarga, namun lebih kepada doa kepada sesama.

Hari Raya Idul Fitri yang begitu indah, memiliki rasa yang kebersamaan yang kental. Saling memaafkan, mendoakan, ikhlas dan turut bersyukur menurut saya merupakan hikmah dari Hari Raya Idul Fitri. Begitu juga dengan rasa ini yang begitu dalam kepada Ayah dan Dia, mereka yang ikhlas jauh dari keluarga untuk melaksanakan tugas dan kewajiban.

Entah mengapa, bukan sebuah kebetulan (karena tidak ada kebetulan di kehidupan ini) saat menjelang lebaran, Ayah dan Dia sedang bertugas di kawasan yang sedang dalam penjagaan yang ketat. Keduanya sama-sama berada di lautan, kapal, perbatasan. Bahkan keduanya sempat tidak ada kabar dalam beberapa hari dikarenakan sinyal komunikasi yang tidak ada.

Keduanya sama-sama berada di lautan, kapal, perbatasan. Bahkan keduanya sempat tidak ada kabar dalam beberapa hari dikarenakan sinyal komunikasi yang tidak ada.

Jujur, saat itu saya merasa cemas dan membayangkan hal yang tidak-tidak (Naudzubillah Mindzalik). Bahkan saya merasakan rindu yang berlebihan. Tidak dapat dipungkiri kadang rindu itu bisa menguatkan namun juga melemahkan. Tapi, di saat saya mulai merasa lemah, saya kembali mengingat akan perjuangan Ibu saya.

Bertahun lamanya Ibu saya begitu tenang ditinggal tugas jauh oleh Ayah. Mungkin bisa dibilang sudah menjadi master of long distance relationship. Dari satu negara sampai kini harus berbeda negara. Bahkan Ibu saya bisa begitu tenang jika seharian pun tak ada kabar dari Ayah. Bagaimana Ibu saya bisa tenang? Oh, saya harus sadar akan kekuatan doa dan tawakal kepada Allah SWT. Bahwa Allah SWT adalah sebaik baiknya penolong juga pelindung. Lalu, tawakal dan terus berdoa agar Ayah diberikan kesehatan dan tak lepas dari perlindungan Allah SWT. Ketika hati ini ridha dan terus yakin (khusnudzan) kepada Allah SWT, percaya lah semua akan baik-baik saja. Saya salut dengan Ibu dan Ayah. Ya, bisa karena terbiasa merupakan ungkapan yang pas dalam kisah ini.

Oh, saya harus sadar akan kekuatan doa dan tawakal kepada Allah SWT. Bahwa Allah SWT adalah sebaik baiknya penolong juga pelindung. Lalu, tawakal dan terus berdoa agar Ayah diberikan kesehatan dan tak lepas dari perlindungan Allah SWT.

Tidak hanya Hari Raya Idul Fitri, namun tahun ini begitu banyak doa yang dipanjatkan. Setiap harinya, saya harus selalu bersyukur bahwa Dia akan selalu baik-baik saja, InshaAllah. Sekarang yang harus saya lalukan adalah berdoa, tawakal, dan mendukung agar Allah SWT memberikan ridha untuk kerja keras si Dia.

Tidak ada yang lebih menenangkan ketika muncul laporan bertuliskan “delivered” pada ponsel saya. Tidak ada yang lebih menenangkan ketika ada pesan bertuliskan “Alhamdulillah aku sudah merapat di dermaga”. Tidak ada yang lebih menenangkan ketika mendengar suara Dia walau tidak jelas, Tidak ada yang lebih menenangkan ketika saya tahu bahwa dia baik-baik saja. Tidak ada yang lebih menenangkan ketika saya tahu bahwa dia dalam keadaan sehat.

Untuk Dia yang sedang menjalankan tugasnya, selalu dalam lindungan Allah SWT. Semangat dalam berkerja dalam jalan yang baik dan jujur. Ketika merasa lelah, coba untuk mengingat keluarga yang sedang menunggu di sini, ya di sini. Jaga diri untuk tetap menjadi orang baik, saling mengasihi dan berbagi dengan ikhlas. Jangan lupa untuk selalu bersyukur, bahwa laut selalu mendukung Dia memberikan rezeki yang halal. Setiap matahari terbit dan terbenam, panjatkan doa bahwa itu merupakan salah satu bukti Allah SWT dekat untuk membuktikan kebesaranNya. 

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Taqaballahu Minna Wa Minkum.

Regards,

Shintria

Featured Image from flickr.com

Harapan di Angka 25

Wah, Alhamdulillah sudah menginjak usia 25 tahun sekarang. Segala puji bagi Allah SWT bahwa masih memberikan saya kesempatan untuk tetap hidup, sehat, dan bahagia. Tentu tidak ada hentinya untuk terus bersyukur atas segala yang ada dalam hidup ini. Ya, apa yang ada sekarang adalah milik Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya. Tapi, tidak ada salahnya untuk menikmati 🙂

Tentu, akan selalu ada pertanyaan “kok bisa sih?” dengan apa yang sudah saya lewati, jalani, dan didapatkan. Saya rasa tidak hanya saya saja ya yang selalu merasa tidak menyangka dengan hidup ini.

Jujur, 25 tahun merupakan angka yang saya tunggu. Menurut saya, 25 tahun merupakan usia paling bisa bikin deg-degan bagi sebagian wanita. Kenapa? yap, sebagian wanita termasuk saya menetapkan 25 tahun sebagai batas usia untuk menikah, introspeksi diri, dewasa, tanggung jawab dan lain sebagai nya. Bagi saya 25 tahun adalah batas akhir saya untuk bermain-main, walaupun sebenarnya sudah dimulai saat usia 20 tahun. Tapi, 25 tahun ini sudah saatnya untuk mulai untuk memperbaiki diri menjadi seorang wanita yang sesungguhnya. Wow..wow..wow… usia akan terus bertambah, kehidupan di dunia akan semakin berkurang, karena tubuh akan semakin menua. Hmm.. tapi masih banyak sih wish list yang akan menjadi to-do list di usia yang sekarang ini.

  • Semakin bersyukur!

Bersyukur, kini harus menjadi kewajiban ya. Karena, bagi saya dengan bersyukur akan selalu merasa cukup dan kaya dengan apa yang ada dalam hidup ini. Apa pun yang terjadi harus tetap merasa syukur. Selain itu, agar dapat selalu bersyukur maka saya menerapkan bahwa apa yang terjadi dalam hidup ini merupakan jalan yang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Tentunya, apa yang sudah ditentukan oleh Allah SWT merupakan jalan yang terbaik. Contoh paling sederhana, misalnya pada suatu hari saya memiliki janji bertemu dengan seseorang. Janji ini sudah sangat ditunggu, tapi keadaan berkata lain sehingga janji tersebut batal. Tentu ada rasa kecewa terlebih jika pertemuan tersebut terbilang penting. Tapi, kembali lagi berfikir bahwa hal tersebut sudah jalan paling baik yang ditentukan oleh Allah SWT. Bisa saja jika pertemuan terjadi justru ada hal-hal yang tidak diinginkan apalagi jika berhubungan dengan nyawa. Percayalah bahwa kegagalan merupakan sesuatu yang menyelamatkan kita dari suatu bahaya.

  • Menikah

Kalau poin yang kedua ini memang sudah menjadi doa saya, bahwa saya memang ingin menikah sebelum menginjak usia 25 tahun. Walaupun pada usia 20 tahun saya sempat mengurungkan niat ini. Namun entah mengapa banyak sesuatu yang menunjukan ke saya bahwa menikah salah satu jalan terbaik dari Allah SWT. Kalau urusan menikah ini sepertinya belum bisa saya jelaskan secara rinci beserta alasannya. Tapi, satu hal yang perlu diingat bahwa menikah merupakan ibadah kepada Allah SWT, menyempurnakan separuh agama, serta menjauhi diri dari segala perbuatan yang tidak disukai Allah SWT.

Selain menikah, menjadi Ibu yang baik bagi anak-anak kelak menjadi salah satu wish list saya. Tidak hanya baik, namun dapat berbagi ilmu dengan cara yang benar sehingga anak bisa menjadi seorang sahabat dengan Ibu nya. Ilmu yang dimiliki seorang Ibu adalah untuk anak-anaknya, karena Ibu merupakan madrasah bagi anak-anaknya. Jadi, kalau kalian merupakan seorang sarjana namun dikucilkan orang karena belum memiliki perkerjaan, jangan sedih. Karena, ilmu yang kalian miliki nanti nya sangat berguna untuk anak-anak kalian.

  • Membangun keluarga kecil 

Membangun keluarga kecil yang bahagia menjadi impian setiap orang. Yap, saya juga memiliki impian itu kok. Sekarang tinggal bagaimana saya mewujudkan mimpi tersebut dengan usaha dan doa.

  • Memiliki usaha kecil (profesi)

Bagi saya waktu dengan keluarga sangatlah berarti. Maka dari itu saya ingin menjadi seorang Ibu dan Istri yang memiliki banyak waktu untuk keluarga. Sehingga saya dapat melihat dan menikmati perkembangan anak. Maka dari itu saya memilih untuk memiliki usaha sendiri di rumah, entah apa pun itu tapi lihat saja nanti. Selain itu, kini saya mencoba untuk memiliki usaha yang dapat membantu orang banyak. Pelajaran yang perlu diambil adalah, memudahkan urusan orang itu sangat baik hukumnya. Kalau bisa usaha kecil yang saya miliki nanti dapat berupa kemanusiaan, InshaAllah.

Kalau disebutkan wish list lainnya bisa banyak sekali ya. Tapi, ini adalah wish list yang paling penting, InshaAllah dengan doa dan usaha semua bisa berjalan dengan lancar. Terakhir, untuk menjalankan ini semua tidak cukup jika hanya dengan doa dan usaha, namun harus dibarengi dengan niat yang baik.

Wish list di atas sudah ada sejak saya menginjak usia 20 tahun. Semakin bertambah usia (dalam bentuk bilangan angka) maka semakin banyak wish list saya. Alhamdulillah satu persatu sudah dilewati dan sedang dalam perjalanan untuk meraih kesuksesan. Kadang, ada beberapa wish list yang tanpa sadar sudah saya gapai, hingga akhirnya hanya bersyukur yang dapat saya ucap bahwa semua sudah berjalan mulus, Alhamdulillah. 

Wish list ini akan menjadi to-do list dalam waktu dekat, InshaAllah.