Pilih Mana, Hidup Bersama Atau Sendiri?

Sering terlintas dalam pikiran saya bahwa rasanya ingin bisa membelah diri. Di satu sisi saya ingin konsentrasi pada profesi, namun saya tidak bisa menolak permintaan untuk membantu orang tua. Bahkan, saya tidak mampu untuk meninggalkan orang tua sendiri seperti kemana-mana harus naik taksi atau menyetir sendiri. Selain mengingat usia keduanya sudah lanjut, saya juga memiliki keinginan membahagiakan orang tua dengan hal kecil selain materi.

Keseharian saya bersama Ibu, mengajarkan untuk menghargai waktu bersamanya. Kadang, ada rasa lelah, tapi semua hilang saat saya melihat banyak orang di luar sana sibuk berkerja hingga melupakan waktu bersama dengan orang terdekatnya (keluarga).

Entah ya, sejak saya memasuki usia 20tahun, segalanya berubah. Saya berpikir bahwa keluarga adalah segalanya. Banyak pelajaran yang saya petik baik dari sekitar maupun perjalanan masa lalu. Sungguh, saya sangat kesal jika ada seorang anak yang tidak memberikan waktu untuk keluarganya. Walaupun pada akhirnya saya akan hidup dengan orang lain (kelak), maka dari itu saya sangat memberikan banyak waktu pada Ibu dan Ayah.

Belakangan ini saya sedang diliputi sebuah problem, dimana banyak orang yang kurang menjalin komunikasi dengan orang tuanya. Tidak jarang, banyak orang tua yang tidak paham dengan karakter anak. Eits, jangan dulu menyalahkan orang tua karena alasan ‘kolot’ ya! Perlu diingat, bahwa banyak sekali orang tua yang ingin mendengarkan cerita anaknya saat sudah beranjak dewasa. Entah itu kisah cinta, pekerjaan, persahabatan, dan lainnya. Namun,  anak yang sudah terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri, menganggap semua bisa diselesaikan sendiri.

Selfish, mungkin kata yang tepat. Saya pun juga sering menjadi egois. Tapi coba deh pikirkan kembali, berdiri depan cermin, lalu bayangkan bagaimana rewelnya Anda saat masih kecil. Saat itu, Ibu dan Ayah sibuk menenangkan Anda dengan berbagai cara, banyak waktu. Lalu, kini ketika Anda sudah disibukan dengan kehidupan pribadi, sudah kah Anda meluangkan waktu minimal 5 menit untuk menanyakan kabar orang tua?

Baiklah, saya sejak kecil sudah ditinggal Ayah bertugas. Kami baru akan bertemu hanya 3 bulan sekali. Hingga akhirnya ada rasa dimana saya segan pada Ayah. Waktu remaja, saya akui bahwa banyak waktu yang terbuang. Sampai pada akhirnya saya sadar bahwa Ayah sudah berusia 60 tahun. Lalu, apa yang telah saya berikan kepada Ayah? Yup, sampai detik ini saya baru memberikan gelat sarjana S1…dan sisanya waktu. Waktu yang saya berikan untuk beliau saat ia cuti.

Kini tidak sedikit pun saya melepas kedua orang tua berjalan sendiri. Jika mereka meminta saya untuk mengantarkan kemana pun, selama saya mampu saya antar. Tidak hanya itu, selama saya mampu bercerita maka saya ceritakan apapun kepada kedua orang tua saya.

Saya sadar, bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Sejauh apapun kamu bekerja, jangan pernah melupakan keluarga dan orang terdekat. Ceritakan apa yang perlu diceritakan. Berikan mereka waktu untuk bisa merasa seakan dekat dengan kamu.

Saya sadar, bahwa saya hidup tidak untuk diri saya sendiri. Paling utama saya hidup bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Saya hidup dengan mereka, maka penting bagi saya untuk berbagi waktu dengan mereka. Tidak perduli omongan orang mengenai ‘anak bontot, manja, dan mengharapkan harta orang tua’, karena setinggi apapun pendidikan mu, sebanyak apapun uang mu, tidak akan pernah cukup jika dibandingkan waktu dengan orang tua.

Semoga, tulisan ini mampu mengingatkan jika hidup bersama itu jauh lebih baik daripada hidup untuk sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s