Priceless Moment

Sometimes We need someone to simply be there. Not Fix anything, or to do anything in particular, but just to let us feel that we are cared for and supported.

Momen yang paling tak ternilai ketika kita sadar bahwa masih diberinya kesempatan untuk berada di samping mereka. Yup, beberapa bulan belakangan ini saya mengalami momen yang tidak ternilai, semacam pendewasaan diri.

Bersahabat sejak SMP dan SMA mengharukan bahwa sosok introvert seperti saya hanya mempercayai orang-orang terdekat saya, yang mungkin bisa dihitung dengan jari selama 23 tahun saya hidup. Entah harus bangga, atau diam di sudut kamar seakan tidak punya harapan untuk mempunyai teman lagi. Well, bukan seberapa banyak teman yang saya cari, tapi seberapa sanggup mereka membantu saya berdiri di kala saya jatuh.

‘That’s what friends are for’, kutipan ini memang benar. Beberapa bulan yang lalu saya memperhatikan pola kehidupan teman-teman saya. Lagi-lagi ini sudah jalannya, dan kebesaran Tuhan yang tidak pernah disangka. Ketiga teman dekat saya beberapa bulan yang lalu merasakan berada di titik paling bawah.

Processed with Moldiv
Shintria Maylinia

Pertama, teman saya mengalami kesulitan dalam mengerjakan skripsi. Apalagi selain dikejar deadline untuk sidang akhir dengan revisi yang banyak, belum lagi dosen yang sulit ditemui. Hal ini membuat dirinya sedikit mengalami stres hingga rela tidak tidur, makan, dan lagi-lagi diakhiri dengan tangis. Namun, dengan semangatnya ia mampu melewati itu semua. Akhirnya pada bulan September 2015, ia dinyatakan lulus sidang akhir. Tentu senyum kebahagiaan terpancar dari sahabat saya yang satu ini. Dengan segala proses demi proses, tidak lama kemudian ia dipanggil dan dipercayai untuk berkerja di salah satu perusahaan sebagai seorang Public Relation. Kini, tangisnya terbayar sudah dengan kepercayaan yang orang lain berikan kepadanya.

Selanjutnya, tidak berhenti sampai di situ. Saat saya wisuda, mendadak sahabat saya yang kedua ini mengabarkan bahwa ia tidak dapat hadir. Saya tidak tahu apa alasannya, setelah saya cari tahu ternyata Ayahnya sakit dan terpaksa harus dirawat. Semua terjadi secara bersamaan dan mengejutkan. Selama dua bulan lebih, sahabat saya harus menjalani masa-masa sulit ini, ketika ia harus menerima kenyataan bahwa Ayahnya sakit, keluar dan masuk rumah sakit, hingga tidak mengenali sahabat saya sebagai anaknya. Saya merasa sedikit bersalah karena tidak mampu membantu sahabat saya karena saat itu saya harus menjalani beberapa urusan. Sahabat saya yang dikenal kuat dan sabar, saat itu memutuskan untuk pergi dan menghilang selama beberapa minggu. Ia tidak mau menjawab telfon dari siapapun termasuk saya teman dekatnya. Pada akhirnya ia kembali dan menjelaskan keadannya saat itu yang saya yakini pasti tidak ada yang lebih kuat darinya. Ia harus membantu Ibunya, belum lagi Ayahnya yang sakit, dan adiknya yang masih butuh perhatian lebih karena baru saja masuk SMA. Selama kurang lebih dua bulan ia kalut.

Namun, saya percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian kepada manusia melebihi batas kemampuan manusia itu sendiri. Proses demi proses ia lalui, keadaannya semakin membaik, sahabat saya sudah mulai bisa sedikit tenang karena perlahan semua keadaan membaik. Tapi ternyata Tuhan berkata lain, tepat pada bulan Oktober 2015 Ayah dari sahabat saya dipanggil ke pangkuan Tuhan untuk di tempatkan di sebaik baiknya tempat di sana. Ini mungkin menjadi akhir sekaligus kehancuran bagi sahabat saya. Ia saat itu meraung menangis dan memeluk saya sembari mengatakan, ‘pa.. Aku belum lulus, aku belum jadi sarjana, aku belum bisa bahagiain papa, kenapa papa harus sekarang’. Air mata saya ikut menetes, saya membayangkan jika itu terjadi pada saya, belum tentu saya bisa sekuat dan setegar dirinya. Ia terus bertanya pada saya, ‘ini benar?’. Saya sebagai manusia tidak bisa menjawab apa-apa selain menyadarkan dia bahwa ini sudah jalan yang Tuhan berikan. Tidak mudah bagi kita sebagai manusia untuk menerima kenyataan bahwa suatu saat kita harus meninggalkan atau ditinggalkan, tapi kembali lagi bahwa kehidupan di dunia hanya sesaat, dan hanya kepadaNya lah kita kembali. Sahabat saya yang tegar perlahan mulai bangkit. Senyumnya mulai mengembang di wajah manisnya. Semoga ia lekas dikuatkan melalui orang-orang di sekitar yang menyanyangi dirinya.

Tidak berhenti sampai di situ, yang satu ini memang bisa terbilang unik. Ya, apalagi kalau bukan galau karena cinta. Tapi jika diperhatikan memang agak sakit. Sahabat saya yang ketiga ini sudah menjalankan hubungan dengan seorang pria kurang lebih selama 2 (dua) tahun. Namun siapa yang menyangka bahwa kehadiran orang lain diantara mereka mampu membutakan mata dan fikiran. Yup, orang dari masa lalu hadir kembali ditambah dengan prinsip yang sudah berbeda sebagai pendukung perpisahan mereka. Sahabat saya kembali mengalami hal ini setelah beberapa tahun yang lalu ia pun pernah berada di posisi kesedihan karena ‘cinta’ seperti sekarang ini. Hmm.. Kalau yang satu ini sih flow-nya naik turun, tapi saya akui memang pahit. Ya, pahit.. Ketika orang yang kita banggakan beralih memberikan perhatian kepada orang lain yang sudah dinanti sejak lama. Semoga sahabat saya yang satu ini segera membaik dan dipertemukan dengan jodohnya, amin.

Processed with Moldiv
Shintria Maylinia

Itu lah kisah ketiga sahabat saya di usia kami yang sudah menginjak umur 23 tahun. Ceritanya bermacam-macam dan berbeda dari kisah kami saat SMP atau SMA. Semakin hari saya menyadari bahwa orang-orang terdekat justru yang mengajarkan saya banyak hal, Tuhan memberikan saya petunjuk dari mereka, mana yang harus saya ambil baiknya dan mana yang harus saya buang buruknya. Semua selalu ada hikmahnya. Ketiga sahabat saya beranjak mulai mendapatkan titik terangnya dari masing-masing ujian yang mereka jalani.

Lalu, bagaimana dengan saya? Sedikit saya terjatuh karena satu hal namun kembali saya berdiri karena banyak hal lainnya yang patut saya syukuri.

Pagi ini Tuhan masih memberikan saya kesempatan untuk hidup dan bernafas. Melihat orang terdekat saya tersenyum atas apa yang sudah mereka raih. Semoga segala yang telah saya lakukan berarti dan sedikitnya dapat membantu mereka. Jika diri saya bertanya kapan ujian ini berakhir, sepatutnya saya berkaca dan kembali menegasakan, selama saya hidup di situ saya masih tetap harus belajar dan diuji.

Advertisements

One thought on “Priceless Moment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s