Japan Short Trip

Akhirnya, setelah hampir 2 tahun ingin ke Jepang. Alhamdulillah, Allah mengabulkan, mengizinkan, dan meridhoi. Hal ini tidak akan pernah saya lupakan selama saya hidup di dunia. Penantian ingin ke Jepang, hampir musnah ketika saya melihat akomodasi ke sana cukup mahal. Tapi, tanpa disangka Allah memang selalu punya kejutan yang sangat indah.

2 tahun yang lalu, saya, Shintria, mempunyai keinginan untuk pergi ke Jepang. Yup!, saya rasa bukan hanya saya, tapi seluruh manusia di muka bumi ini juga ingin sekedar mampir ke negeri sakura tersebut. Keinginan saya hampir saja sirna ketika melihat biaya tiket tujuan ke Jepang amat sangat mahal. Belum lagi biaya hidup di sana yang saya dengar-dengar untuk makan satu hari bisa mencapai 1 juta Rupiah. Sampai pada akhirnya, tekad untuk menabung pun terkalahkan oleh beberapa hal yang dibilang tidak penting. Alhasil, saya lupakan Jepang.

  Perubahan dalam diri saya pada akhirnya membawa hasil. Terbilang cukup mengejutkan bahwa doa-doa saya kepada Allah, satu persatu terkabul. Alhamdulillah, pada bulan Oktober tahun lalu, teman dekat saya mengenalkan saya kepada salah seorang kerabat di sana (Jepang). Dengan berbagai pertimbangan, saya mulai untuk membicarakan Jepang sebagai topik utama pembicaraan dengannya. Tanpa terasa, perkenalan kami semakin dalam. Oh, tidak… tidak… ini bukan tentang saya atau dia hehe. Kisah tentang saya dan dia Insya Allah akan saya bagi di sini setelah kami diizinkan Allah untuk sampai di tahap yang lebih jauh. Kami mohon doa dan restunya. Baiklah, mari lanjutkan kisah saya yang akhirnya bisa ke Jepang.

Tepat pada bulan Maret tahun 2015, saya memutuskan untuk nekad ke Jepang dengan modal tiket promo dari salah satu maskapai. Namun saya harus nerulang kali berfikir jika saya berangkat sendiri dengan jarak penerbangan yang cukup jauh, belum lagi harus transit di Malaysia. Pada akhirnya, saya yang saat itu masih berstatus fresh graduated alias baru lulus hehe meminta izin pada Ayahanda. Namun, dengan berbagai alasan Ayah saya tidak mengizinkan. Salah satu alasannya adalah kekhawatiran. Saya tidak berani melawan kehendak Ayah, saya tidak ingin tanpa izin dan restunya. Akhirnya, saya mengikuti kemauan Ayah dengan harapan pasti akan ada saatnya saya ke Jepang.

Hari demi hari berlalu, setiap hari saya hanya berdoa kepada Allah tentang segalanya. Saya hanya memohon kepadanya untuk kesehatan kedua Orang Tua dan kasih sayang mereka kepada saya. Setiap hari saya melihat banyak orang-orang yang dengan bahagianya berfoto di Jepang, baik di jalan raya, kereta, ataupun di tengah keramaian Shibuya. Jujur, saya tidak tahu tempat mana saja yang menjadi tujuan wisata di Jepang. Entah mengapa saya ingin sekali ke Jepang, setidaknya ke Disneyland menikmati sore di belahan negara lain.

Waktu yang terus berjalan tidak pernah memberhentikan saya untuk terus berdoa, bertawakal dan berusaha. Saya yang masih ingin menikmati hidup setelah lulus kuliah, memutuskan untuk mengambil program internship sekedar menambah uang jajan. Itung-itung saya belajar sedikit demi sedikit untuk tidak menyusahkan orang tua saya secara materi. Sampai pada akhirnya, salah satu maskapai menawarkan promo penerbangan ke Haneda dengan biaya penerbangan pulang pergi sebesar 7juta Rupiah. Bayangkan, ke Jepang hanya 7 juta Rupiah, pulang pergi lho. Bagaimana saya tidak tergiur. Saya kembali berusaha meminta izin kepada Ayah.

Tepat setelah saya selesai solat maghrib, Ayah saya menelfon dari tempat beliau bekerja. Tapi sayangnya 3 kali beliau menelfon saya tidak sempat mengangkatnya. Saya meninggalkan pesan singkat kepada beliau. Alhamdulillah, akhirnya beliau menelfon saya kembali. Momen ini lah yang membuat saya terharu dan sungguh tidak menyangka. Berikut yang beliau sampaikan di telfon kepada saya.

“Satu kali ditelfon engga diangkat, dua kali ditelfon nggak diangkat juga, tiga kali ditelfon masih nggak diangkat, yasudah nggak usah jadi saja ke Jepangnya”

Sontak saya kaget tapi masih belum terlalu yakin. Kalimat tersebut seakan memberikan saya harapan bahwa anak terakhirnya ini bisa pergi ke Jepang atas izinnya. Beliau menyuruh saya untuk kembali memastikan bagaimana nanti hidup saya di Jepang, lalu makannya, hingga biaya pesawat. Setelah semua pasti dan beres, teman dekat saya memberi tahu saya bahwa Garuda Indonesia memberikan promo ke Haneda pulang pergi sekitar 7 juta Rupiah. Harga yang ditawarkan memang sama dengan maskapai yang sebelumnya, namun siapa yang tidak ingin pergi ke luar negeri dengan menaiki Garuda Indonesia. Alhamdulillah, akhirnya saya kirimkan berita tersebut kepada Ayah saya. Tidak lama kemudian Ayah menelfon, dan kalimat ini lah yang membuat saya sangat terharu.

“Shin…sabar ya untuk ke Jepangnya”

“Iya pa…nggak apa-apa…santai saja”

“Baguslah kalau begitu, jadi Papa tidak perlu buru-buru”

Kenapa saya terharu? 22 Tahun saya menjadi anak beliau, ternyata begitu berusaha kerasnya beliau mewujudkan mimpi bahkan keinginan saya untuk ke Jepang (terimakasih ya Allah). Sejenak saya meneteskan air mata, saya tidak menyangka bahwa pada akhirnya beliau mengizinkan saya untuk pergi ke Jepang.

Akhirnya, pada tanggal 1 Mei 2015, saya dan Ibu berangkat ke Jepang pada pukul 23.45. Kami berdua sampai hari ini masih tidak menyangka, seperti mimpi. Saya dan ibu memutuskan hanya 4 hari berlibur ke Jepang. Jangankan 4 hari, jika saya hanya diizinkan 2 hari saja sudah Alhamdulillah dan sangat bersyukur. Alhamdulillah, Allah mengirimkan rizkinya kepada kedua orang tua saya. Yang Maha Kuasa selalu punya kejutan yang lebih indah. Setelah segalanya yang saya pikir keinginan ke Jepang akan sirna, ternyata tidak…

Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah.. terimakasih Papa…terimakasih mama… segalanya tidak akan pernah saya lupakan, ini akan menjadi kisah yang pasti diceritakan kepada anak-anak saya kelak. Semoga, papa dan mama selalu sehat, dalam lindungan-Nya, Amin Allahuma Amin.

Mungkin, sebagian orang menganggap kisah pribadi saya ini berlebihan, tapi percaya lah, sekecil apapun yang Orang Tua berikan kepada mu tentu akan menjadi hal yang sangat mengharukan sekaligus membahagiakan dalam hidup.

Oia, untuk kisah perjalanan saya selama di Jepang ditunggu saja ya…hehe…

Advertisements

Author: Shintria

Express herself better in writing than in conversation, dislike small talk, need time to think before speaking. Current profession as a freelance content writer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s