Minimnya Tingkat Kesadaran

Rasa nya sudah lumayan penat ya dengan kehidupan di kota yang katanya “metropolitan” ini. Ya nama nya juga Jakarta, lahir disini biar gimana pun tetep harus disayang dicinta. Tapi lambat laun perubahaan kota ini sangat terasa, namun sikap masyarakat nya termasuk saya masih butuh pendidikan sikap.

Satu hal yang masih membuat saya bingung. Bagaimana cara melatih perilaku orang-orang yang suka sembarangan saat naik Trans Jakarta. Saya sering memperhatikan perilaku orang-orang yang menggunakan Trans Jakarta, diantaranya sebagai berikut:

1. Bangku merah itu adalah bangku prioritas, di depan mata ada seorang wanita hamil, lansia, bahkan anak kecil. Tapi yang duduk di sana orang yang sehat walafiat dengan asik tidur sambil “mangap”, mendengarkan musik mungkin yang bikin pengelihatan mereka agak sedikit rabun dan tidak bisa peka dengan sekitar.
2. Semua berdesak di dekat pintu, ini menghambat orang-orang yang ingin keluar masuk. Saya maklumi jika keadaan Trans Jakarta penuh, tapi jika di tengah lenggang, mengapa harus berdiri di dekat pintu.
3. Seperti biasa saat antri ada saja yang nyelak bahkan tidak sabar untuk saling mendorong. Mba, mas shelter trans jakarta itu tinggi loh, kalo yang di depan dekat pintu terdorong dan jatuh saya yakin tidak ada yang mau mengaku salah.
4. Saat ingin membeli karcis trans jakarta, tertera di depan loket bertuliskan “sediakan uang pas atau 500 rupiah”. Pertanyaan nya, jika tidak punya kedua nilai mata uang tersebut apa saya tidak bisa mendapatkan karcis trans jakarta. Oh, konsekuensi nya sang penjaga loket memasang wajah judes nan bete tanpa senyum. Sungguh saya merindukan senyuman kalian hai mba mas penjaga loket trans jakarta.
5. Ini baru saja saya alami tadi bahkan sebelumnya sudah pernah tapi saya tidak merasakan efeknya secara langsung.

Saat trans jakarta tiba di shelter pada jam pulang kantor, semua orang berebutan bahkan trans jakarta penuh sesak. Permasalahan nya bukan itu, permasalahan nya adalah “bagaimana cara memberi tahu mereka bahwa persilahkan yang turun dulu lalu bergantian yang naik?!”.

Sementara saya hanya bisa bilang “mba yang turun dulu nanti gantian”. Seperti biasa si mba pake headset dan apa yang dia perbuat???., dia berdiri di tengah pintu shelter. Apa ia tidak tahu bahwa itu menghambat keluarnya penumpang trans jakarta?. Lalu harus bicara dengan bahasa apa? Inggris kah? Jerman?.

Kelima permasalahan di atas sungguh klasik. Saya yakin tidak saya hanya yang merasakan. Sejauh ini saya hanya bisa tarik nafas dan geleng kepala. Diantara kalian pasti ada yang bertanya mengapa saya tidak menegur atau memberi tahu jika salah?, maaf jika saya beritahu yang baik malah dianggap mengajak bertengkar. Perlu diketahui bahwa emosi masyarakat Jakarta akan meninggi saat jam pulang kerja. Percaya atau tidak silahkan Anda rasakan sendiri.

Advertisements

Author: Shintria

Express herself better in writing than in conversation, dislike small talk, need time to think before speaking. Current profession as a freelance content writer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s