Proses ‘Demi’ Proses ‘Demi’ Menjadi Lebih Baik

 

Masjidil Haram, Makkah 2014

Mungkin keputusan ini membuat semua orang tercengang. Selain itu sebagian orang berat untuk melepaskan siapa diri saya dan bagaiman cara saya berpakaian dulu. Tapi semua tinggalah sebuah cerita. Saya jelas saya yang dulu, ya saya dulu berpakaian agak seronok dan secara tidak sadar mempermalukan orang tua saya.

Berawal dimana saya sempat berfikir untuk membuat diri saya menjadi lebih baik dengan berhijab. Tapi, lagi-lagi semua digagalkan ketika lingkungan sekitar mempunyai magnet yang lebih besar daripada keteguhan hati saya sendiri. Hari semakin berlalu dan sampailah usia saya menginjak kepala 21 Tahun. Saat itu pada tahun 2014 sekitar bulan Februari, saya dan kedua orang tua menjalankan ibadah umroh. Saya adalah anak yang paling beruntung, tiada hal yang lebih indah dari ini semua. Orang tua saya memutuskan untuk mengisi liburan saya dengan ibadah. Oh tapi sebelum semua ini terjadi, saya amat teramat takut untuk menjalankan ibadah umroh. Kenapa? karena saya takut akan perbuatan saya dibalas disana (tanah suci) seperti yang banyak dikatakan orang.

 

Masjidil Haram, Makkah 2014

 

Kembali lagi ke cerita awal… Akhirnya saya dan kedua orang tua menjalankan ibadah umroh dengan lancar, syukur Alhamdulillah. Menyerahkan diri kepada Allah SWT adalah jalan satu-satunya untuk mendapatkan ketenangan lahir dan batin saat menjalankan ibadah kurang lebih seminggu lamanya. Banyak kisah yang terjadi disana dan semuanya indah. Selesai menjalankan ibadah Umroh, sebagian orang bilang mewajibkan seorang wanita untuk memakai hijab dan menutup aurat tapi dilain sisi ada yang berkata itu tidak wajib. Tentunya saya yang masih merasa muda dan sombong tidak mau memakai hijab, saat itu saya merasa buat apa kalau kehidupan saya masih ingin senang-senang.

Waktu yang terus berjalan, seketika ayah saya yang sudah berumur 60 Tahun mengirim sebuah surat elektronik. Di dalam surat elektronik tersebut ia berkata bahwa intinya ayah dan ibu saya sudah berikan segalanya buat saya, tapi mereka hanya minta satu untuk saya memakai hijab dan menutup aurat. Dengan keegoisan yang saya miliki, saya menolak untuk berhijab dengan alasan saya tidak mau seperti kebanyakan orang yang memakai hijab tidak sesuai dengan hati. Ya, seperti yang kita lihat banyak sekali wanita yang sudah memakai hijab tapi perilaku masih sama atau tidak lama kemudian mereka memutuskan untuk membuka hijabnya kembali.

Penolakan saya untuk mengenakan hijab yang saya lakukan kepada Ayah saya adalah hal yang paling bodoh.Saya tahu saat itu Ayah sangat kecewa luar biasa. Jika mengingatnya kembali rasanya saya malu tapi ini akan jadi cerita yang saya tulis agar menjadi pelajaran bagi para pembaca.

Hari yang semakin berlalu entah mengapa saya terus dibayangi oleh rasa bersalah saya. Tiap waktu saya selalu memikirkan “kalau alasannya hati ini belum siap untuk berhijab, hati tidak pernah bisa salah”. Selalu saya berfikir keras tentang bagaimana jika saya berhijab dan apakah sewaktu-waktu saya akan mematahkan komitmen saya.

Mungkin ini kedengarannya aneh, Allah seperti memberikan saya petunjuk. Satu persatu orang disekitar saya mengenakan hijab, dari anaknya teman ayah saya, teman dekat saya, bahkan saudara saya sendiri. Kejadian ini membuat saya semakin yakin bahwa niat baik ayah saya yang telah saya tolak, jika saya terus berada pada garis keegoisan saya, selamanya saya akan menjadi orang yang tidak mempunyai keteguhan hati. Selain satu hal di atas, hal lainnya adalah saya merasa di umur saya yang sudah 22 Tahun rasanya sudah tidak cocok mengenakan baju yang seronok belum lagi rambut yang sulit diatur.

Dengan berkonsultasi pada teman-teman dekat saya untuk saya mengenakan hijab, mereka memberikan masukan yang sangat baik sehingga saya tidak merasa menjadi kaum minoritas di negara ini. Jikapun saya menjadi kaum minoritas saya yakin Allah SWT bersama saya. Akhirnya dengan niat dan mengucap Bismillahirohmanirohim, saya akhirnya mengenakan hijab sudah sekitar 4-5 hari terhitung pada bulan Juli 2014.

Banyak orang kaget atas keputusan saya dan pertanyaan ini yang sering muncul, “kenapa kok bisa pake hijab, ada apa?”. Wah.. saya tidak ikut aliran yang macem-macem kok hehe saya masih di jalan yang lurus dan sesuai dengan keturunan saya. Ada beberapa alasan mengapa saya mengenakan hijab, diantaranya;

Saya mengenakan hijab atas seizin Allah SWT dan karena Allah SWT

kedua, ini merupakan kado yang paling istimewa yang saya berikan kepada kedua orang tua saya. Mungkin ini tidak seberapa dengan apa yang telah mereka berikan selama ini sama hal nya dengan Allah SWT.

ketiga, saya mempunyai tanggung jawab besar karena saya sudah menjalankan ibadah umroh. Sayang rasanya perjalanan jauh ke Tanah Suci harus saya buang percuma, jatuhnya menjadi Riya. 

keempat, tidak ada salahnya untuk saya menutup aurat saya selagi masih di jalan yang ‘normal’ dan mendekatkan diri kepada Allah. Di umur 22 Tahun, orang tua saya sudah cukup tua dan apalagi yang saya cari di dunia?.

Maaf jika masih banyak sikap maupun sifat saya sekarang yang masih belum baik, saya baru belajar untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika sebelumnya mungkin sudah tapi tidak dengan hati, Insyaallah kali ini semua saya jalankan dengan memakai hati dan fikiran. Maaf juga jika banyak hal yang dulu saya kerjakan dan kini saya tinggalkan, ini memang memberatkan banyak pihak tapi ini hidup saya, niat saya baik yaitu saya hanya ingin membawa ayah saya setidaknya jauh dari api neraka dan mengantar ibu saya ke surga. Amin….

Ya, itulah cerita dan alasan mengapa saya mengenakan hijab… semoga cerita ini dapat diterima dengan baik dan saya minta maaf jika ada kata yang salah. Oia, saya masih tetap seperti biasanya, saya masih suka bercanda, jalan-jalan, berenang, bahkan tertawa hehe… jadi jangan berfikiran negatif dulu ya…

Advertisements

Author: Shintria

Express herself better in writing than in conversation, dislike small talk, need time to think before speaking. Current profession as a freelance content writer.

2 thoughts on “Proses ‘Demi’ Proses ‘Demi’ Menjadi Lebih Baik”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s